Selasa , 05 Desember 2017, 05:47 WIB

Petualang Kekuasaan

Red: Karta Raharja Ucu
Dokumen pribadi
Arif Supriyono, wartawan Republika
Arif Supriyono, wartawan Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Arif Supriyono, wartawan Republika

Mencoba pengalaman baru tentulah sesuatu yang memiliki daya tarik tersendiri bagi banyak orang. Apalagi bila pengalaman baru itu memiliki tantangan yang berbeda dan tak lazim atau menarik, maka bagi orang yang berjiwa tangguh dan bernyali, hal itu akan menumbuhkan minat yang besar.

Menempuh pengalaman baru dan kemudian berhasil mewujudkan harapannya, biasanya kepuasanlah yang akan didapat. Tak sedikit pula orang yang ketagihan untuk senantiasa mencoba hal-hal baru. Bukan tidak mungkin pula, orang lain yang semula tak terlalu tertarik dengan hal-hal baru akan ikut-ikutan untuk mencobanya.

Sebuah keberhasilan pada dasarnya akan mengundang minat orang lain untuk mencoba. Bila ada contoh yang berhasil saat mencoba hal baru, biasanya akan dijadikan pedoman bagi orang lain untuk berbuat hal yang sama.

Walau sesuatu yang baru itu terkadang juga menyimpang dari aturan yang ada, bila itu tak mendapat sanksi apa pun, maka hal tersebut akan menjadi acuan orang untuk melakukan hal serupa di kemudian hari. Istilah kerennya, itu akan menjadi preseden. Jika ada contoh di masa lalu yang berkaitan dengan hukum/aturan yang bersifat baru, lazimnya itu dijadikan pegangan untuk kasus-kasus serupa yanng terjadi di masa berikutnya.

Melakukan pengalaman baru yang menarik dan menantang itulah yang biasa disebut petualangan. Ada kalanya, petualangan membawa risiko. Namun tak sedikit petualangan yang memberi keberhasilan dan kenikmatan tersendiri. Orang yang (acap) melakukan petualangan inilah yang disebut sebagai petualang. Terkadang, orang yang sekadar ikut-ikutan pun sudah disebut sebagai petualang.

Sejatinya, makna petualang  bersifat netral. Artinya, kata itu bisa berkonotasi positif atau memberi makna negatif. Perbedaan makna itu tergantung pada kata yang mengikutinya.

Petualang rimba misalnya, merupakan orang yang senang keluar-masuk hutan belantara untuk mencari hal-hal baru atau pengalaman yang seru. Demikian pula istilah petualang alam bebas atau petualang laut lepas. Orang masih memberikan nilai positif terhadap aktivitas atau orang yang terlibat di kegiatan tersebut.

Akan berbeda maknanya jika kita menyebut petualang cinta. Hal berbau negatif akan menyelimuti makna dari kata tersebut. Petualang cinta bisa dianggap sebagai orang yang mengumbar cinta kepada banyak orang  hanya semata-mata mencari kepuasan diri atau pengalaman bercinta saja. Petualang cinta tak akan terlalu peduli dengan kondisi orang yang dijadikan pelabuhan cintanya.

Orang yang hanya membual terhadap lawan jenisnya (biasanya terhadap perempuan) dengan rayuan cinta yang maut, juga bisa disebut petualang cinta. Tak lama kemudian, petualang cinta ini lazimnya akan mencari terminal baru untuk menambatkan hatinya ke lain orang. Pendek kata, dia akan selalu mencari korban untuk memuaskan cinta palsunya kepada yang lain.

Ada pula istilah petualang politik. Ini juga memberi konotasi buruk bagi si empunya gelar. Person atau sosok yang sering-sering pindah partai politik hanya, demi pertimbangan mencari jabatan, akan mendapat julukan sebagai petualang politik.

Sang petualang politik bisa juga meloncat ke partai lain karena ingin mencari selamat atau berlindung di balik kekuasaan yang dimiliki oleh pertai tersebut. Mungkin saja petualang itu sedang memiliki banyak persoalan. Dengan bergabung bersama partai tertentu, keberadaannya akan lebih terjamin dan aman dari ancaman masalah yang membelitnya.

Belakangan ini, saya menangkap ada kecenderungan bagi seseorang untuk menjadi petualang kekuasaan. Orientasi orang ini semata-mata hanyalah mengejar kekuasaan yang lebih besar. Meski mendapat posisi atau amanah yang penting untuk dijalankan, ia tetap akan meloncat dan mencari posisi atau kekuasaan yang lebih tinggi lagi.

Orang semacam ini tak terlalu peduli dengan kehendak rakyat yang telah memberinya amanah. Jika teguh memegang amanah, maka orang itu akan menylesaikan kewajibannya untuk memenuhi tugas dan dipikulnya. Ia tak hendak mengabaikan kepercayaan yang didapatnya dari rakyat. Tujuan hidupnya semata hanya inngin mewujudkan rakyat yang telah mendukung atau memilihnya sebagai pemimpin.