Ahad , 03 Desember 2017, 04:17 WIB

Meneladani Nabi Muhammad SAW

Red: Elba Damhuri
smileyandwest.ning.com
Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)
Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Umat Islam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh tiap tanggal 12 Rabiul Awal atau bersamaan dengan 1 Desember tahun ini. Perayaan Maulid Nabi adalah momentum untuk meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW dan ajarannya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1439 H di Istana Kepresidenan, Bogor, Kamis (30/11) malam, meminta masyarakat berupaya meneruskan keteladanan Nabi, menjadi lebih bertakwa, serta mewujudkan Islam yang membawa rahmat dan kesejahteraan.

Salah satu keberhasilan Nabi Muhammad yang patut diteladani, menurut Jokowi, yakni dalam membangun Kota Madinah. Madinah adalah bukti kerukunan persatuan dan lintas etnis, kerukunan lintas klan, kerukunan lintas agama, dan antarkelompok pendatang, kelompok Muhajirin dengan kelompok Anshar.

Selain itu, menurut Presiden, Madinah menjadi bukti keadilan, penghormatan, dan penegakan hukum. Sebab, kehidupan masyarakat sebelumnya penuh dengan konflik yang kemudian menjadi masyarakat yang taat hukum. Kota Madinah, lanjut Jokowi, juga menjadi bukti sistem perekonomian yang berkeadilan serta mengedepankan kesejahteraan dan pemerataan.
Untuk meneruskan keteladanan Nabi, Presiden mengingatkan masyarakat yang memiliki perekonomian yang lebih baik agar membantu yang kurang mampu.

Jokowi menginginkan, warga Indonesia berupaya mewujudkan keadilan Madinah di Indonesia masa sekarang. Indonesia harus mampu membangun Madinah-Madinah yang baru. Membangun masyarakat Indonesia yang damai, adil, dan makmur.

Maulid Nabi adalah saat yang tepat untuk meneladani apa yang pernah dilakukan Nabi. Muhammad adalah suri teladan, baik sebagai pribadi maupun pemimpin. Sebagai pemimpin, Nabi SAW berhasil membuktikan bahwa kehadiran Islam adalah solusi, justru Islam menjadi perekat umat-umat yang sebelumnya terpecah-pecah baik di Kota Madinah maupun wilayah-wilayah lainnya.

Adalah tepat ajakan Presiden untuk meneladani apa yang telah dicapai Nabi SAW. Keteladanan itu bukan hanya warga biasa, melainkan juga para pemimpinnya. Hari-hari ini diakui atau tidak, kita seolah mengalami krisis keteladanan.
Para pemimpin yang seharusnya menjadi panutan justru banyak yang khianat atas amanah yang diberikan kepada mereka. Berapa banyak kepala daerah, ketua pimpinan lembaga, ketua parpol yang diciduk KPK karena tak amanah, menggarong uang rakyat? Teladan apa yang diberikan mereka-mereka itu? Jika pemimpin tak bisa memberi teladan, bagaimana dengan yang dipimpinnya?

Muhammad SAW berhasil membangun peradaban Islam, bukan hanya Kota Madinah, yang maju, sejahtera, beradab, dan disegani. Keberhasilan Muhammad ditunjang oleh kepemimpinannya yang amanah dan mengayomi semua kalangan. Mayoritas tidak menjadi penindas dan minoritas tidak menjadi disingkirkan atau malah menjadi tirani.

Keteladanan dimulai dari pemimpin. Kita berharap para pemimpin kita meneladani Nabi SAW baik dalam perkataan maupun perbuatannya. Jadikan perayaan Maulid Nabi sebagai momen untuk kembali meneladani Nabi, bukan sekadar peringatan rutin tanpa arti.

(Tajuk Koran Republika Sabtu 2 Desember).