Sabtu , 11 November 2017, 05:00 WIB

Lempar Handuk Sang Jenderal Sepak Bola

Red: Agus Yulianto
Republika/Prayogi
Ketum PSSI Edy Rahmayadi bersalaman dengan pelatih timnas U-16 Fakhri Husaini pada acara pelepasan timnas Indonesia U-16 di Stadion Atang Sutresna, Kompleks Kopassus, Jakarta, Rabu (13/9).
Ketum PSSI Edy Rahmayadi bersalaman dengan pelatih timnas U-16 Fakhri Husaini pada acara pelepasan timnas Indonesia U-16 di Stadion Atang Sutresna, Kompleks Kopassus, Jakarta, Rabu (13/9).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wartawan Harian Republika, Bambang Noroyono

Begitu terkaget-kaget ketika mendengar secara langsung seorang Panglima Kostrad Letnan Jenderal (Letjen) Edy Rahmayadi telah menyerah. Jenderal bintang tiga itu berencana untuk meninggalkan posisinya sebagai Ketua Umum PSSI. Tak percaya, namun begitulah adanya. Rasa tak mampu memimpin induk organisasi sepak bola Indonesia ini sudah begitu memberatkannya.

Semua itu berawal ketika saya meminta respons terkait setahun kepemimpinannya sebagai ketum PSSI. Ya, pada 10 November 2017, Edy telah genap setahun memimpin PSSI. Segunung harapan sempat disampaikannya ketika awal memimpin. Tapi baru setahun berjalan, ia mulai menemukan fakta bahwa memimpin sepak bola rupanya jauh lebih sulit dibanding memimpin tentara yang lebih mudah ditempa untuk menjadi patriot tangguh di medan perang.

Selama setahun kepemimpinannya, rasanya tak ada prestasi yang bisa begitu dibanggakan. Itikad baiknya dengan memboyong pelatih top dunia, Luis Milla, untuk memimpin timnas rupanya tak langsung membuahkan hasil. Kita melihat bagaimana timnas U-19 dibuat tersungkur saat melakoni babak kualifikasi Piala Asia U-19 2018 di Korea Selatan (Korsel) belum lama ini. Kegagalan itu seakan melengkapi hasil mengecewakan saat timnas U-19 itu hanya mampu meraih peringkat ke-3 pada Piala AFF U-18.

Lalu, kekalahan yang kian mencoreng wajah Edy adalah gagalnya skuat U-23 meraih target sebagai raja Asia Tenggara. Padahal, timnas ini diharapkannya untuk menjadi pemain senior masa depan Indonesia. Sebelum tampil di SEA Games 2017, dengan penuh kepercayaan diri Edy mematok timnas U-23 itu membawa pulang medali emas. Hasilnya? Ah begitu memalukan! Timnas hanya mampu meraih peringkat ke-3 setelah dipecundangi musuh bebuyutan Malaysia di semifinal.

Di level sepak bola pemula, rupanya sama saja. Garuda U-15 yang diharapkan Edy jadi cikal bakal pemain top timnas di masa depan mengalami karam di Piala AFF U-16 2017. Alih-alih bertekad juara, timnas junior ini justru kandas lantaran tak lolos fase grup.

Secara gentlemen, Edy mengaku, rangkaian kegagalan itu jadi tanggung jawab sebagai pemimpin federasi. Ia mengatakan, sebetulnya tak wajar bagi sepak bola Indonesia kalah di level regional. Tetapi tak ada kalimat lain untuk mengakui bahwa sepak bola kita memang masih belum yang terkuat.

Saya sempat memancing sikap patriot Edy agar menanggapi deretan kekalahan timnas Indonesia dari Malaysia setahun ini. Timnas Garuda di semua level usia dan kompetisi sepanjang 2017, dibuat menjadi pecundang karena tak sekalipun bisa menang dari Harimau Malaya. Bagi saya, itu sungguh tak bisa kita terima.

Edy mengatakan, hal itu memang tak bisa diterima. Khusus soal Malaysia dia mengatakan, olahraga khususnya sepak bola, bukanlah bicara soal nasib. Kata dia, sepak bola adalah cerita tentang kemampuan dan kekuatan suatu bangsa. Tanpa ada kemampuan dan kekuatan tersebut, selama itu pula bangsa itu tak lagi dianggap.

Cukup soal kegagalan prestasi timnas, Edy juga merasa tak lagi mampu memimpin PSSI dengan segunung persoalannya. Termasuk, soal kompetisi sepak bola. Mantan Pangdam I Bukit Barisan itu tak memberikan ungkapan yang terang tentang apa saja masalah yang bejibun itu.

Tapi sepekan ini, para pecinta sepak bola dibuat menggelengkan kepala dengan tata kelola kompetisi Liga 1. Gelar juara Liga 1 yang diraih Bhayangkara FC rupanya telah menyisakan pergunjingan yang tak sedap buat PSSI. Sinisme kepada PSSI itu seakan semakin lengkap karena penyelenggaraan kompetisi kasta tertinggi di Indonesia ini tak luput memakan korban jiwa.

Saya bertanya apakah ia masih tetap merasa mampu untuk memimpin PSSI? Edy mengatakan, setahun ini dirinya memang tak mampu. Dia sudah melakukan evaluasi terhadap segala persoalan yang ada. Namun, ada satu hal yang sangat mengagetkan bahwa Edy merasa sudah tak lagi sanggup. Sinyal jelas disampaikannya untuk silakan mencari pengganti yang lebih mampu dalam memimpin PSSI.

Tapi, saya menduga ketidakmampuan Edy itu hanyalah sebagai ancang-ancang saja untuk meloncat ke pentas pencalonan dirinya sebagai gubernur Sumatera Utara. Namun, dia menampik dugaan itu. Rencana untuk maju pada Pilgub 2018 tak ada kaitan dengan kegagalan yang dialaminya selama memimpin federasi nasional selama setahun ini. Sebab, sekali lagi Edy mengatakan, kegagalan dalam memimpin PSSI itu karena dirinya memang tak lagi merasa mampu mengurus sepak bola nasional.

Lantas, kalau orang nomor satu di sepak bola negeri ini sudah lempar handuk putih, bagaimana dengan para pecinta sepak bola yang selama ini selalu mendukung timnas maupun klub pujaannya?