Kamis , 09 November 2017, 05:28 WIB

Kontroversi Gelar Bhayangkara FC dan Liga Micin

Red: Sammy Abdullah
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Pesepak bola Bhayangkara FC Paulo Sergio meluapkan kegembiraan usai mencetak gol ke gawang Persegres Gresik United dalam lanjutan Liga Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Petrokimia Gresik Jawa Timur, Sabtu (26/8).
Pesepak bola Bhayangkara FC Paulo Sergio meluapkan kegembiraan usai mencetak gol ke gawang Persegres Gresik United dalam lanjutan Liga Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Petrokimia Gresik Jawa Timur, Sabtu (26/8).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Abdullah Sammy

 

Lucu. Kata itu terlintas begitu saja di kepala saya begitu mendengar keputusan PSSI menambah nilai Bhayangkara FC di papan klasemen Liga 1. Keputusan yang berpangkal dari dianulirnya hasil imbang 1-1 antara Mitra Kukar melawan Bhayangkara FC yang berlangsung pada Jumat (3/11). 

 

Mitra Kukar dianggap lalai karena menurunkan Mohamed Sissoko yang terkena larangan tampil dua laga. Sehingga Mitra Kukar dianggap  kalah WO dengan skor 0-3 dari Bhayangkara. Ok, sebelum membahas lebih jauh polemik Sissoko itu, saya ingin rentang waktu seputar jatuhnya sanksi itu.

 

Kejadian dalam laga itu berlangsung pada Jumat. Pada Senin (6/11) tak ada satu pun keputusan dibuat PSSI soal laga Mitra Kukar vs Bhayangkara. Dan pada Senin itu laga antara pesaing utama Bhayangkara yakni PSM Makassar vs Bali United berlangsung. 

 

Laga itu secara tak terduga dimenangkan Bali United dengan skor 1-0. Kondisi ini sontak membuat Bali United menjadi sangat berpeluang menjadi juara Liga 1. Tapi selang hari setelah hasil mengejutkan Bali United, Komdis PSSI justru mengeluarkan keputusan kontroversial dengan memutuskan menambah dua poin Bhayangkara dengan alasan kasus Sissoko. 

 

Sampai pada titik ini kita pantas bertanya-tanya. Mengapa vonis itu dikeluarkan beberapa saat setelah usainya laga PSM vs Bali United? Mengapa pula kasus Mitra Kukar vs Bahayangkara ini keputusannya jauh lebih kilat dibanding kasus Persija vs Persib yang laganya justru berlangsung pekan sebelumnya? Keputusan juga dibuat hanya selang jam sebelum Bhayangkara main melawan Madura United yang berarti mereka bisa memastikan juara lebih cepat.

 

Keanehan semakin menjadi ketika mengetahui alasan dari Mitra Kukar memainkan Sissoko. Menurut kubu Naga Mekes, mereka menerima surat dari komisi disiplin PSSI yang menyebut Sissoko hanya disanski satu laga. Karena itu, Sissoko hanya tak bermain saat Mitra Kukar melawan Persib. Sebab dalam Nota Larangan Bermain (NLB) kepada Mitra Kukar, nama Sissoko dilarang untuk bermain oleh PSSI.

 

Sedangkan saat laga melawan Bhayangkara, NLB untuk Mitra Kukar hanya mencantumkan nama Herwin Tri Saputra. Sedangkan nama Sissoko tak dicantumkan oleh PSSI. Karena itu Herwin tak dimainkan Mitra Kukar, sedangkan Sissoko dimainkan.

 

Dan lucunya, PSSI beralasan telah memberi putusan sanksi kepada Mitra Kukar soal Sissoko via email. Dan email yang baru dikirim beberapa hari jelang laga melawan Bhayangkara itu ditujukan bukan ke sekretariat tim, melainkan langsung ke CEO Mitra Kukar, Endri Erawan. Padahal CEO bukanlah pihak yang berhubungan langsung dengan teknis jalannya pertandingan.

 

Kalau diibaratkan adalah pengelola Liga Primer memberi surat pada seorang Roman Abramovic terkait sanksi yang menimpa Alvaro Morata. Jadinya ibarat Jaka Sembung megang permen, gak nyambung man!

 

Tapi ya sudahlah, kita sambung-sambungkan saja. Kita anggap sanksi putusan itu sudah diinfokan dan Mitra Kukar lalai. Tapi pertanyaannya juga mengapa Komdis pun lalai tak mencantumkan nama Sissoko dalam NLB Mitra Kukar jelang duel melawan Bhayangkara?

 

Tapi apa pun itu, keputusan sepihak sudah dijatuhkan PSSI dengan mensanksi Mitra Kukar dan menambah dua poin Bhayangkara di klasemen. Keputusan yang kini makin manis karena menjadi kunci yang mengantarkan kesebelasan jelmaan Surabaya United ini juara Liga 1. Sebab usai ditambah dua poin, Bhayangkara mampu memenangkan laga melawan Madura United 3-1. Hasil yang memastikan mereka tak mampu dikejar Bali United yang kalah head to head. Secara aneh bin ajaib Bhayangkara pun juara.

 

Hasil yang sontak disambut suka cita Bhayangkara tapi mengudang hujatan mayoritas suporter sepak bola nasional. Sebab nyatanya gelar itu tak terlepas dari keputusan di luar lapangan yang penuh kontroversi. Padahal di atas lapangan klasemen yang seharusnya terjadi adalah Bhayangkara hanya unggul satu poin dan mesti memainkan laga vital di pekan terakhir melawan tim kuat Persija.

 

Tapi berkat keputusan PSSI menghukum Mitra Kukar, Bhayangkara jadi terhindar dari laga berat di pekan terakhir itu. Dan di sisi lain peluang besar Bali United untuk mengudeta posisi puncak untuk menjadi juara di pekan terakhir jadi sirna. 

 

Pantas pula kubu Bali United kecewa. Sebab nyatanya peluang mereka juara justru buyar oleh keputusan dari luar lapangan. Keputusan yang masih sangat bisa diperdebatkan. 

 

Tapi apa pun itu kompetisi Liga 1 musim ini sudah tercatat dalam sejarah. Sejarah bahwa PSSI lewat keputusannya dari balik meja bisa mengubah komposisi klasemen pada pekan terakhir. 

 

Publik berhak setuju, gembira, marah, atau kecewa dengan keputusan ini. Tapi saya pribadi memilih tertawa melihatnya. Sebab saya tak seperti sedang melihat peristiwa di sepak bola. Ini lebih mirip kisah di gulat profesional Amerika, WWE. Dan seperti WWE, publik berhak memandang bahwa Bali United adalah juara sesungguhnya. Tak heran kini banyak elemen suporter lain yang angkat topi pada perjuangan Irfan Bachdim dan kawan-kawan.

 

Tapi, mungkin saja seluruh anggapan saya itu keliru. Sebab begitulah memang dunia sepak bola yang akrab dengan kontroversi. Dalam sepak bola, kontroversi kadang penting sebagai bumbu kompetisi.  Dalam sepak bola yang memasuki era industri, kontroversi kadang baik sebagai sarana publikasi. Ya bisa diibaratkan kontroversi dalam sepak bola sama dengan micin yang menyedapkan rasa sebuah menu makanan.

 

Tapi, yang terjadi di sepak bola Indonesia selama ini kontroversi kadang lebih canggih ketimbang permainan sepak bola itu sendiri. Kontroversi bukan lagi bumbu penyedap tapi sudah jadi menu utama. 

 

Ibarat micin yang sudah jadi makanan pokok, begitulah relasi kontroversi dalam sepak bola nasional. Jadi tak heran sepak bola kita tak pernah berprestasi di level internasional. Sebab saat bangsa lain mendapat asupan bergizi dari kompetisi domestiknya, kita malah malah makan micin sebanyak-banyaknya. Duh, celaka.