Sabtu , 04 November 2017, 12:38 WIB

Alarm Buat Zinedine Zidane

Red: Elba Damhuri
AP/Tim Ireland
Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane tampak kecewa menyaksikan kekalahan tim asuhannya saat melawan Tottenham Hotspurs pada laga keempat Grup H Liga Champions di Stadion Wembley, Kamis (2/11) dini hari WIB.
Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane tampak kecewa menyaksikan kekalahan tim asuhannya saat melawan Tottenham Hotspurs pada laga keempat Grup H Liga Champions di Stadion Wembley, Kamis (2/11) dini hari WIB.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Frederikus Bata, Jurnalis Republika untuk Isu-isu Sepak Bola

Zinedine Zidane dilanda ujian. Real Madrid, tim yang dilatihnya sejak awal 2016, tengah mengalami periode buruk. Sudah pasti alarm bahaya menghantui juru taktik asal Prancis itu. Pasalnya, klub yang ia besut sering mengklaim diri nomor satu di dunia. Sah-sah saja jika melihat catatan trofi Los Blancos.

Dengan torehan 12 gelar Liga Champions, belum ada satu pun klub di Eropa yang menandingi kedigdayaan El Real. Hanya AC Milan paling mendekati dengan tujuh trofi Liga Champions. Plus sejumlah piala domestik dan interkontinental.

Dalam konteks harga diri, ada kebanggaan di kamar ganti Los Merengues. Para pemain dan fan ketiban gengsinya. Namun, tingginya standar si putih berdampak pada kerasnya pengelolaan manajemen. Secara khusus, dalam mengatur jabatan pelatih, Madrid tak pandang bulu. Jika sudah agak melenceng dari target klub, langsung didepak. Itu belakangan terjadi di era sepak bola modern.

Fakta menunjukkan ketika El Real memecat Vicente del Bosque pada 2005 silam. Padahal, ia mendulang hasil memuaskan ketika membawa Raul Gonzales dan rekan-rekan meraih dua gelar Liga Champions dan sepasang trofi La Liga. Sebuah keputusan di luar logika.

Berikutnya setelah era del Bosque, banyak pelatih Madrid tak bisa berbicara banyak di Eropa. Barulah muncul sosok bernama Carlo Ancelotti. Juru taktik asal Italia sanggup mewujudkan mimpi Madridista dengan mempersembahkan gelar Liga Champions ke-10 alias La Decima pada 2013/2014.

Apa yang terjadi, pada musim berikutnya, Don Carlo justru didepak. Alasannya klasik, performa El Real yang dinilai menurun. Hingga di edisi terkini, Los Blancos memiliki entrenador jempolan bernama Zinedine Zidane.

Seperti yang tertera pada kalimat pembuka, eks kapten tim nasional Prancis itu dalam bahaya. Ia bukan sosok tak tergantikan untuk klub sekelas Madrid. Kekalahan dari klub medioker macam Girona menyudutkan Zidane.

Posisi di klasemen semakin jauh dari rival abadi mereka, Barcelona. Ada delapan poin memisahkan dua raksasa La Liga itu. Sebagai juara bertahan, kondisi ini menimbulkan tekanan, baik kepada pemain maupun tentunya untuk pelatih sebagai penanggung jawab.

Situasi makin parah ketika di ajang Liga Champions, Los Blancos dihajar Tottenham Hotspur 1-3 di London. Secara peluang, belum tertutup bagi si Putih untuk meraih semua gelar bergengsi musim ini. Namun, kekalahan demi kekalahan bak tamparan keras.

Zidane berpotensi mengalami nasib nahas seperti Del Bosque dan Don Carlo. Dia bisa dipecat kapan saja. Sekedar catatan, eks gelandang Juventus tersebut mencatat rekor sensasional ketika membawa Madrid mempertahankan gelar Liga Champions.

Sejak format berganti menjadi Liga Champions, baru Zidane pelatih yang mampu membawa sebuah tim merajai kompetisi paling elite benua biru dua musim beruntun. Namun, semua bakal hilang begitu saja jika ia tak segera berbenah.

Madrid sangat 'kejam'. Bisnis di atas segalanya. Seorang legenda macam Iker Casillas pun dibuat tak betah. Apalagi, cuma pelatih yang tugasnya memang membawa klub meraih kemenangan sebanyak mungkin.