Ahad , 29 October 2017, 09:56 WIB

Serangan Islamofobia yang Membabi Buta

Red: Elba Damhuri
Republika
Erdy Nasrul, Jurnalis Republika.
Erdy Nasrul, Jurnalis Republika.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul, Jurnalis/Redaktur untuk Isu-Isu Islam

Kata-kata tidak pantas dan perbuatan keji ditunjukkan orang-orang pembenci Islam di Barat. Yang mengejutkan, target mereka ternyata bukan hanya pemeluk Islam, tetapi juga siapa pun yang penampilannya menyerupai Muslim.

Ada yang dihina sebagai teroris atau terlibat ISIS hanya karena mereka berkulit cokelat atau gelap dan berjenggot. Aksi seperti ini kian meningkat karena maraknya serangan teroris. Pendamping profesor kriminologi Universitas Birmingham Dr Imran Awan dan Dr Irene Zempi menyimpulkan itu semua dalam pemaparannya pada pekan kesadaran akan kejahatan kebencian di Inggris.

Mereka mengatakan, fakta gerakan Islamofobia menyerang non-Muslim selama ini kerap tak muncul dalam berbagai riset. “Meskipun kejadian ini menggambarkan kesalahan identitas, bukan berarti Islamofobia dibolehkan. Kejadian seperti itu sudah pasti tidak boleh terulang,” kata dia, sebagaimana diberitakan the Independent pekan lalu.

Riset yang dilakukannya menunjukkan bagaimana pelaku kejahatan kebencian menyasar targetnya berdasarkan prasangka dan pengklisean. Riset ini dilakukan dengan mewawancarai 20 warga non-Muslim lelaki. Usianya antara 19-59 tahun yang berkulit hitam, putih, dan Asia.

Sebagian mereka memeluk Sikh, Kristen, Hindu, dan ateis. Identitas mereka dirahasiakan untuk keselamatan. Kejadian di atas menunjukkan Islamofobia makin berbahaya. Sasarannya makin acak. Tidak hanya Muslim, tetapi juga siapa pun. Apa pun agamanya, kalau berpenampilan mirip Muslim, akan menjadi target.

Istilah ini bermula dari ketegangan hubungan Barat dengan Islam. Negara-negara Barat memerangi kelompok Muslim di berbagai wilayah, seperti Afghanistan, Iran, Irak, dan lainnya. Yang paling menyakitkan adalah serangan 11 September 2001. Ketika itu gedung World Trade Center (WTC) hancur karena dibom.

Kondisi makin parah ketika para teroris acap kali mengaku sebagai Muslim. Semenjak itu, permusuhan terhadap Islam dan penganutnya makin menguat. Sejumlah media massa utama, politikus, dan intelektual menyuarakan gerakan Islamofobia yang menggambarkan ketakutan umum terhadap Islam dan Muslim.

Istilah itu makin diterima masyarakat luas, terutama di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Negara dengan minoritas Muslim juga memperbincangkan hal sama. Di AS, Islamofobia berwujud pencoretan dan penghinaan masjid, kejahatan kebencian dengan sasaran individu yang disangka Muslim, pemberitaan sensasional tentang Muslim sebagai ancaman, kebijakan dan pengawasan komunitas Muslim, serta kampanye hitam untuk tidak memilih politikus yang berafiliasi dengan kelompok Muslim, seperti yang dialami Barrack Obama (Andrew Shryock: 2010).

Keberadaan mereka dianggap membahayakan negara. Shryock yang ahli dalam antropologi menyimpulkan, Islamofobia dapat dimaknai sebagai gerakan rasis, sekularis, nasionalis, atau antiimigran.

Kebencian terhadap Muslim kerap disuarakan politikus Belanda Geert Wilder. Dia tidak segan menunjukkan kebenciannya terhadap Islam dengan maksud menakuti pemerintah akan makin banyaknya imigran Muslim yang berdatangan. Di antara perkataannya adalah sebagai berikut, “Islam tak dapat kita bolehkan lagi di Belanda. Saya menginginkan Alquran yang fasis itu dilarang. Kita harus menyetop Islamisasi Belanda. Artinya, tak adalagi masjid. Tak ada lagi sekolah. Tak adalagi imam.”

Selain Wilder, sejumlah tokoh getol menyuarakan kebencian yang sama. Mereka adalah kolomnis Ann Coulter, penyiar radio Michael Savage, pengamat politik dan kolomnis Daniel Pipes, politikus Inggris Robert Kilroy-Silk, dan misionaris Kristen Evangelis Franklin Graham (Esposito: 2011).

Mereka melihat wanita pengikut ISIS menggunakan penutup kepala dan bercadar di sejumlah foto dan tayangan video. Ketika melihat Muslimah menutup aurat untuk menjaga kehormatan, mereka yang Islamofobik langsung menuding wanita itu sama seperti pengikut ISIS. Pria berjenggot mereka anggap sama seperti pasukan ISIS dan teroris pada umumnya yang selama ini ditampilkan berjenggot. Padahal, tidak semua teroris memelihara jenggot.