Jumat , 08 Agustus 2014, 02:08 WIB

Mendirikan Bank BUMN Syariah Bukan Hal Mudah

Rep: Ichsan Emrald Alamsyah/ Red: Julkifli Marbun
Muhammad Syakir Sula
Muhammad Syakir Sula

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perbankan syariah di Indonesia kini menduduki peringkat 5 terbesar dunia. Indonesia berdiri dibawah Iran, Malaysia, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Hal tersebut berdasarkan nilai dari Islamic Forum Country Index (IFCI).

Sebagai lokomotif utama pertumbuhan, perbankan syariah membutuhkan bank besar yang siap berkompetisi. Kompetisi untuk bersaing memperebutkan likuiditas atau dana masyarakat.

Tantangan makin berat ketika Indonesia secara resmi memasuki Masyarakat Ekonomi Asean. Padahal di saat yang sama Indonesia memiliki pasar yang begitu besar dan stabilitas ekonomi.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Ekonomi Syariah, Muhammad Syakir Sula mengungkapkan presiden dan kabinet baru  perlu menangkap peluang besar dalam industri keuangan syariah dengan langkah-langkah strategis. Salah satunya adalah dengan mengonversi atau merubah salah satu bank dan asuransi BUMN menjadi BUMN Syariah. Langkah ini juga untuk menjaga bank syariah ketika Indonesia memasuki Masyarakat Ekonomi Asean.

Direktur Bisnis BNI Syariah, Imam Teguh Saptono dalam sebuah diskusi pernah mengungkapkan bahwa pendirian BUMN Syariah adalah salah satu opsi untuk menumbuhkan perbankan Islami dalam negeri.

Satu bank BUMN Syariah bisa membuat ekonomi Islam tancap gas. Apalagi jika bank BUMN tersebut berasal dari merger beberapa anak usaha bank pemerintah.

Hanya saja opsi ini tak bisa dilakukan dengan mudah. Butuh waktu dan kebijakan Pemerintah yang tepat untuk menyatukan bank syariah. Apalagi jika BUMN tersebut berasal dari beberapa bank syariah.

Berita Terkait