Jumat , 20 Februari 2015, 16:04 WIB

Bank Syariah Perlu Sediakan Produk untuk Pertanian

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Dwi Murdaningsih
Antara/Adeng Bustomi
Pemandangan lahan pertanian di Desa Deudel, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Pemandangan lahan pertanian di Desa Deudel, Tasikmalaya, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu masalah rendahnya pembiayaan di bidang pertanian adalah produk yang kurang cocok dengan karateristik bidang pertanian. Agar bisa mendukung usaha-usaha bidang pertanian, perbankan perlu menyediakan produk yang sesuai.

Deputi Direktur Al Azhar Peduli Umat Sigit Iko Sugondo mengatakan ketersediaan makanan bagi rakyat Indonesia terancam karena masalah pangan. Dari hampir 250 juta penduduk Indonesia, hanya 26,1 juta saja yang masih termasuk keluarga petani dengan tingkat kelahiran tinggi 4,7 persen.

Sayangnya, sebagai salah satu lembaga amil zakat yang memiliki kelompok petani binaan, Al Azhar Peduli Ummat melihat perbankan syariah belum bisa membedakan pertanian masyarakat desa. Di masyarakat desa, kata Sigit, ada dua kelompok tani yakni agrikultur (budidaya tani) dan agribisni (usaha tani).

''Karena belum bisa membedakan, mana yang risikonya lebih tinggi mana yang lebih rendah. Sehingga masih banyak yang belum merasakan manfaat pembiayaan,'' kata Sigit, Selasa (17/2).

Perbankan syariah juga perlu memerhatikan karakter bidang pertanian. Petani baru mendapat uang setelah panen dalam rentang waktu tertentu. Jika perbankan syariah meminta cicilan setiap bulang, tentu tidak sesuai dengan karakter pertanian. Maka dibutuhkan penyesuaian untuk ini.

Karena belum ada kemitraan, sehingga usaha pertanian belum berjalan berkesinambungan. Ia mengapresiasi kerja sama dengan dua bank syariah untuk menyelenggarakan program kurban.

''Hewan kurbannya dari kelompok ternak. Kotoran hewan yang mereka pelihara dibuat pupuk untuk kelompk tani. Semua bermanfaat,'' kata dia.

Sigit meminta banyak pihak tidak salah memandang masyarakat desa. Meski dalam aneka bentuk, mereka memiliki harta untuk ditabungkan.

Al Azhar Peduli Umat memiliki program tabungan hortikultur dimana keluarga petani bisa menabungkan hasil tani dan kebun apa saja secara rutin. Hasil tani atau kebun itu nanti akan dikonversi ke uang.

''Kami perhatikan, selama 160 menabung dalam 10 bulan, masyarakat binaan bisa mengumpulkan rata-rata Rp700 ribu. Sebenarnya mereka punya sesuatu untuk ditabungkan,'' tutur Sigit.

Dengan begitu, mereka jadi terbiasa menabung sebelum kemudian bisa membayar pembiayaan. Al Azhar Peduli Ummat menargetkan bisa ada memiliki dua desa binaan per kabupaten kota.

 

Berita Terkait