Selasa , 27 Oktober 2015, 07:46 WIB

Pengamat: Wisata Halal Harus Jadi Nilai Tambah Pariwisata Indonesia

Red: Heri Ruslan
tmc-world
Visit Indonesia
Visit Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID,   JAKARTA— Pengamat ekonomi dan marketing Universitas Padjadjaran Bandung Popy Rufaidah mengatakan,  kemenangan Indonesia dalam ajang the World Halal Travel Award harus dioptimalkan sebagai nilai tambah (value added) bagi pariwisata Indonesia.

Menurutnya, Indonesia bisa menjadikan  halal tourism sebagai branding pariwisata. Popy menegaskan, kemenangan tersebut harus segera dioptimalkan demi kemajuan pariwisata Indonesia. 

Ia menyarankan agar semua pemangku kepentingan dunia pariwisata nasional harus agresif dan segera melakukan pembenahan.

“Satu hal yang pasti, Kemenpar harus segera mengangkat wisata halal sebagai branding pariwisata Indonesia di pasar global, mendampingi Wonderful Indonesia yang sudah lebih dulu menyentak kognisi wisatawan mancanegara,” ujar Popy dalam keterangannya yang diterima ROL, Selasa (27/10).

Popy  yang juga pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Jawa Barat itu berharap brand awareness wisman bakal meningkat. 

Namun direktur Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis UNPAD itu mengingatkan, branding halal tourism tidak hanya untuk pasar Muslim.

 “Wisata halal memiliki target pasar yang lebih luas yaitu pasar wisman yang menginginkan value creation unik dari penyelenggaraan halal tourism,” tutur Popy. 

Menurut Popy, berdasarkan fakta wisata berbasis halal memberikan value creation yang  lebih baik dari konsep wisata pada umumnya. Hal itu dilakukan melalui experiential touch point atau pengalaman-pengalaman yang menyentuh, seperti makanan yang diketahui jelas asal usul dan cara pengolahannya, kebersihan akomodasi dan sebagainya. 

Ia menegaskan, potensi Indonesia jauh lebih besar dibanding negara pesaing yang sudah dikenal wisatawan manca negara dengan label halal friendly seperti Malaysia. Malaysia, yang kini memposisikan diri sebagai Muslim Medical Hub Tourism dengan menawarkan perawatan kesehatan bagi pasien Muslim terbukti sukses melakukan hal tersebut.

Beberapa di antara pelayanan halal friendly itu, misalnya, wanita ditangani tenaga medis wanita, seluruh fasilitas dilengkali mushola, penyediaan fasilitas Alquran, serta makanan yang dipastikan kehalalannya.

“Kita bisa memberikan tawaran jauh lebih banyak,” kata Popy. Bahkan dibanding Turki yang telah menawarkan Muslim Friendly Resorts sejak  20 tahun lalu dan membuka pantai halal pertama di dunia, sumber daya alam Indonesia lebih memungkinkan. “Sampai saat ini sudah ada sekitar 50 pantai resor halal di Turki."

Sebelumnya, Menteri Pariwisata Arief Yahya juga telah menegaskan bahwa wisata halal bukan hanya untuk wisatawan Muslim tapi seluruh wisatawan. Saat itu Arief Yahya menjelaskan, meski wisata halal adalah gaya hidup yang mengedepankan unsur-unsur halal untuk Muslim, bukan berarti wisatawan non Muslim tidak bisa datang.

"Kita fokus mengedepankan halal style,” ujar Arief Yahya saat itu. Menpar juga menegaskan, saat ini promosi wisata halal dilakukan terintegrasi, dengan menggunakan klaster pintu masuk utama wisatawan. Model ini dinilai pas untuk sektor pariwisata baru seperti pariwisata halal. Ia mencontohkan Lombok yang mayoritas wisatawannya dari Bali sehingga lama kunjungan mereka lebih panjang di Bali.

“Sebelumnya Lombok belum punya posisi sendiri. Setelah bertemu Pemerintah Daerah NTB, kami cari posisi yang tepat untuk Lombok dan akhirnya diposisikan sebagai tujuan pariwisata halal,” ungkap Menpar.