Kamis , 09 March 2017, 16:08 WIB

Jangan Takut Buat Wisata Halal Seperti di Banyuwangi

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agus Yulianto
Republika/M Nursyamsi
Suasana hotel ramah Muslim, Villa Bella, di Gili Trawangan, Lombok, NTB.
Suasana hotel ramah Muslim, Villa Bella, di Gili Trawangan, Lombok, NTB.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Jawa Timur, telah mengembangkan pariwisata halal di Pulau Santen menjadi wisata pantai syariah. Tim Percepatan Wisata Halal Indonesia menilai, semua daerah di Indonesia yang memiliki potensi wisata bisa meniru Pemkab Banyuwangi dan tidak perlu khawatir tidak ada pengunjung. .

Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Indonesia Riyanto Sofyan mengatakan, potensi wisata halal di daerah sangat besar. Sebab, jumlah wisatawan Muslim sangat banyak.

Saat ini, kata dia, target pasar pariwisata Indonesia adalah wisatawan dari Cina. Dia menyebutkan, jumlah total turis Cina sebanyak 120 juta per tahun dengan pengeluaran sekitar 161 miliar dolar Amerika.

"Wisatawan Muslim jumlahnya sekitar 116 juta (per tahun) dengan pengeluaran 152 miliar dolar amerika. Jadi, hampir sama sebenarnya, pasarnya pun besar," kata Riyanto kepada Republika.co.id, Kamis (9/3).

Karena itu, ucap Riyanto, pelaku usaha wisata dan pemerintah daerah lain jangan takut tidak laku jika membuka wisata halal. Contohnya di Lombok, awalnya para pelaku usaha wisata banyak yang takut dengan wisata halal.

Mereka berpikir kalau diberi branding wisata halal, nantinya wisatawan dari Eropa dan Australia tidak akan mau berwisata ke Lombok lagi. Kenyataannya setelah Lombok berhasil menjadi World Best Halal Tourism Destination, wisatawannya meningkat sampai 50 persen. "Dan (wisatawan) Australia tetap datang ke sana, wisatawan dari Eropa tetap datang juga ke Gili Trawangan," ujarnya.

Dia mengatakan, wisatawan Muslim yang datang ke Indonesia, utamanya datang dari tiga region. Pertama, dari negara-negara di Timur Tengah seperti Saudi Arabia, UAE, Kuwait dan Qatar. Wisatawan dari Timur Tengah suka pantai dan gunung. Mereka juga suka shoping dan SPA. Tapi, mereka yang dari UAE dan Saudi Arabia suka tempat-tempat yang mewah.

Kedua, dari negara-negara di Eropa. Paling banyak wisatawan dari United Kingdom, Prancis, Jerman dan Rusia. Mereka suka wisata adventure. "Ketiga, dari negara-negara di Asia seperti Cina, Pakistan, Singapura dan Malaysia," ujarnya.

Riyanto menyebutkan, pangsa pasar wisatawan Muslim mancanegara sangat besar. Jumlahnya mencapai 20 persen. Jumlah 20 persen tentu sangat banyak karena jumlah total dari mancanegara. Jadi, dengan membuka wisata halal akan semakin memperlebar pasar, bukan mempersempit pasar.