Sabtu , 17 Desember 2016, 04:56 WIB

Sumsel Butuh Stakeholder untuk Kembangkan Wisata Halal

Rep: Maspril Aries/ Red: Damanhuri Zuhri
Republika/Maspril Aries
  Disbudpar Sumatera Selatan (Sumsel), Jumat (16/12) meluncurkan program wisata halal 2017 yang dilakukan Kepala Disbudpar Sumsel Irene Camelyn bersama stake holder pariwisata. (Foto: Republika/Maspril Aries)
Disbudpar Sumatera Selatan (Sumsel), Jumat (16/12) meluncurkan program wisata halal 2017 yang dilakukan Kepala Disbudpar Sumsel Irene Camelyn bersama stake holder pariwisata. (Foto: Republika/Maspril Aries)

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumatera Selatan (Sumsel) fokus membidik wisata halal pada 2017. Untuk menyukseskan hal tersebut, Sumsel membutuhkan komitmen semua stakeholder.

''Untuk mengembangkan pariwisata Sumsel, harus ada keterlibatan semua pihak, pemerintah, industri pariwisata, komunitas, akademisi dan media massa,'' kata Kepala Disbudpar Sumsel, Irene Camelyn, Jumat (16/12).

Irene mengatakan Sumsel bersama stakeholder pariwisata meluncurkan 'Wisata Halal 2017'. Jika semua stakeholder bersatu, kata Irene, maka pembangunan pariwisata akan terkonsep dan sinergi.

Sumsel memiliki sejumlah program wisata halal. Melalui wisata halal, Sumsel dapat menyajikan berbagai kuliner halal.

Selain berbagai kuliner halal, kata Irene, Sumsel juga memiliki destinasi wisata religi atau rohani yang selama ini telah menjadi destinasi para wisatawan dalam dan luar negeri. “Sumatera Selatan memiliki komplek asrama haji dengan fasilitas terlengkap, ada mock up pesawat angkutan haji, replika Kabah dan lintasan sai dengan ukuran yang sama dengan yang ada di Makkah,” ujarnya.

Destinasi wisata religi lainnya, menurut Irene, ada Bait Alquran Akbar yang merupakan Alquran terbesar di Indonesia. Juga ada Kampung Arab Al Munawar yang menarik dengan kulturnya. ''Ada Masjid Cheng Ho Sriwijaya,'' katanya.