Rabu , 04 Oktober 2017, 07:26 WIB

Stephen Paddock: Miliarder, Penjudi, dan Pembunuh Massal

Red: Elba Damhuri
John Raoux/AP
Eric Paddock menunjukan foto dirinya (kiri) dan kakak laki-lakinya  Stephen Paddock, (kanan) pelaku penembakan massal di Las Vegas, Nevada AS, Selasa (3/10).
Eric Paddock menunjukan foto dirinya (kiri) dan kakak laki-lakinya Stephen Paddock, (kanan) pelaku penembakan massal di Las Vegas, Nevada AS, Selasa (3/10).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fira Nursya’bani, Dyah Ratna Meta Novia

Satu per satu, detail soal pelaku penembakan massal dari Mandalay Hotel, Las Vegas, Nevada, mulai terkuak. Renik-renik kehidupan Stephen Paddock sejauh ini membuat motif aksi biadab yang menewaskan 59 penonton konser musik country tersebut masih buram.

Stephen Craig Paddock (64 tahun) diketahui pernah bekerja di perusahaan pertahanan Lockheed Martin. Lockheed mengatakan, Paddock bekerja untuk salah satu perusahaannya tiga dekade lalu. Ia disebut bekerja sebagai akuntan dengan bayaran yang membuatnya kaya raya. Saudara laki-lakinya, Bruce Paddock, juga mengatakan saudaranya adalah investor properti multijutawan.

Stephen sepertinya sedang menjalani masa pensiun yang tenang dan tajir di komunitas pensiunan Mesquite, Nevada. Juru bicara kepolisian Mesquite mengatakan, rumah itu bagus dan bersih, tidak ada yang luar biasa. Pihak berwenang mengatakan, Stephen memiliki lisensi untuk menerbangkan pesawat kecil dan memiliki dua pesawat. Menurut salah satu tetangganya, Stephen adalah seorang penjudi profesional.

Polisi menggeledah sebuah rumah dua lantai, yang merupakan bagian dari komunitas pensiunan yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Las Vegas tersebut. Stephen pindah ke rumah itu pada Juni 2016 dari Reno, Nevada. Di Mesquite, ia tinggal bersama pacarnya, Marilou Danley (62 tahun), yang berkebangsaan Filipina.

Saudara laki-laki lainnya, Eric Paddock, mengatakan keluarganya sangat terkejut oleh dugaan saudaranya terlibat dalam pembantaian di Las Vegas. "Sama sekali tidak masuk akal, tidak ada alasan dia melakukan ini. Dia hanya seorang pria yang suka bermain poker dan menaiki kapal pesiar dan makan burrito di Taco Bell," kata Eric.

Eric Paddock mengakui, ayah mereka, Patrick Benjamin Paddock adalah perampok bank. Bukan sembarang perampok melainkan sudah masuk di daftar bramacorah paling dicari FBI dan pernah melarikan diri dari penjara. Menurut sebuah poster yang dikeluarkan pada 1969 oleh penegak hukum, Patrick Benjamin Paddock telah didiagnosis sebagai psikopat.

Kepolisian melacak, beberapa pekan sebelum aksi penembakannya, Stephen terpikat gim poker dan menghamburkan sekira 10 ribu dolar AS atau setara Rp 135 juta dalam sehari. “Dia memainkan poker video dengan taruhan yang tinggi. Dia pernah mengirimkan fotonya ketika memenangkan 40 ribu dolar AS di mesin slot,” kata Eric menerangkan.

Pada hari-hari menjelang penembakan, kecanduan poker Stephen kian menjadi-jadi. Ia menaikkan jumlah taruhannya. NBC melaporkan, Stephen diketahui menghabiskan 30 ribu dolar AS atau setara Rp 400 juta sehari untuk berjudi.

Kemudian, Stephen tampaknya mulai mengoleksi senjata api. Dari kediamannya di Mesquite, kepolisian menemukan lebih dari 19 jenis senjata api, bahan peledak, dan beberapa ribu amunisi. Senjata yang ditemukan bervariasi, mulai dari senapan serbu, pistol, dan shotgun.

Sebagian dari senjata itu, ia selundupkan ke kamar di lantai ke-32 Hotel Mandalay yang ia tempati tiga hari sebelum penembakan. Penegak hukum menyimpulkan, Stephen menyelundupkan senjata sedikit demi sedikit dengan 10 koper selama tiga hari sebelum penembakan.

Dari senapan-senapan yang diselundupkan, seperti dilansir Los Angeles Times, 17 di antaranya laras panjang. Di antaranya, senapan Daniel Defense DDM4, tiga senapan FN-15s, dan Sig Sauer.

Puluhan senapan itu dibeli secara legal, hal yang dimungkinkan di Amerika Serikat. Ia juga lolos pemeriksaan latar belakang saat membeli senapan-senapan itu.

Sedikitnya delapan senjata ia beli di toko Cabela’s di Verdi, Nevada. Lainnya, ia beli di Discount Firearms and Ammo, di Las Vegas; serta di Guns and Guitars di Mesquite. Total senjata yang dibeli Paddock dalam waktu dekat itu diketahui mencapai 30 pucuk.

Kepolisian mengindikasi, beberapa di antara senapan-senapan itu telah dimodifikasi. Tujuannya, agar bisa dioperasikan sebagai senapan otomatis penuh yang bisa memuntahkan banyak peluru dengan sekali tarikan pelatuk.

Akhirnya, sekitar pukul 22.00, Ahad (1/10) waktu setempat, Stephen memecahkan jendela kamar hotelnya menggunakan semacam palu. Senapan ia arahkan ke sebuah lapangan di seberang hotel tempat digelarnya festival musik, Route 91 Harvest Festival, yang mulai berlangsung sejak tiga hari sebelumnya.

Saat musik pengiring musisi Jason Aldean dimainkan, telunjuk Stephen merapat ke pelatuk. Dengan tenang, ia menekan pelatuk. Di arena konser, tidak kurang dari 22 ribu penonton yang memadati lapangan tersebut jadi sasaran empuk. Hampir 10 menit Stephen tanpa henti memuntahkan peluru ke arah kerumunan.

Hingga Senin (2/10) waktu setempat, tercatat 59 meninggal, 500 lainnya luka-luka. Saat petugas polisi mendobrak kamar, Stephen ditemukan sudah tidak bernyawa dengan luka tembak. Ia diduga membunuh dirinya sendiri.

Eric menambahkan, saudaranya bukan orang yang sangat rajin dan tidak memiliki latar belakang militer. Ia juga mengatakan, saudaranya tidak terafiliasi dengan agama dan pandangan politik apa pun.

Selepas penembakan, kelompok ekstremis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sempat mengklaim Stephen sebagai anggota mereka yang berpindah keyakinan beberapa waktu sebelum penembakan. Klaim itu lekas disangkal FBI yang menekankan, Stephen tidak terindikasi punya hubungan apa pun dengan kelompok teroris luar negeri.

Di tengah kehampaan motif tersebut, Presiden AS Donald Trump, pada Senin (2/10) malam, mengatakan insiden tersebut merupakan murni aksi kejahatan. Trump terlihat betul menghindari kata 'terorisme' kepada Stephen dan aksi biadabnya.

Pada akhirnya, tragedi mengerikan ini kembali membuka debat mengenai pengendalian dan pengawasan kepemilikan senjata. Perdebatan yang kerap muncul selepas penembakan massal yang tahun ini saja sudah merenggut 460 jiwa dan melukai 1.400 orang. Perdebatan yang sejauh ini masih dihindari pejabat-pejabat AS.

Keengganan membuka debat itu mendorong musisi tenar John Mayer berkicau di Twitter, yang dianggap banyak pengikutnya sebagai perasaan umum warga AS. Jika tidak ingin membenahi sistem kepemilikan senjata di AS, ia meminta penegak hukum dan pejabat-pejabat di AS menyatakan keadaan sebenarnya.

“Sudah menjadi fakta kehidupan modern sehari-hari (di AS) bahwa kita akan kehilangan puluhan orang dalam hitungan detik. Kehidupan sehari-hari (di AS) adalah semacam sistem undian.” (Diolah oleh Fitriyan Zamzami)


Sumber : Reuters/AP

Berita Terkait