Jumat , 29 September 2017, 08:03 WIB

Perlukah Takut kepada Kecerdasan Buatan?

Red: Karta Raharja Ucu
dokumen pribadi
Setyanavidita Livikancasera, wartawan Republika
Setyanavidita Livikancasera, wartawan Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Setyanavidita Livikancasera, wartawan Republika

Dalam satu-dua tahun terakhir, istilah artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan terasa makin sering terdengar. Awalnya, AI sering muncul dalam berbagai cerita fiksi Hollywood.

Her, Ex Machina, dan serial Black Mirror, menjadi beberapa dari sekian banyak cerita fiksi yang mengeksplorasi hadirnya kecerdasan buatan di tengah-tengah kehidupan manusia. Menyaksikan keberadaan AI yang hadir dalam wujud pop culture mungkin tak langsung membuat penonton merasa akrab dengan teknologi yang satu ini. Maklum, semuanya hanya ada dalam cerita.

Tapi, sebenarnya kecerdasan artifisial tak hanya hadir dalam wujud robot, layaknya Asimo milik Honda atau Robohon dari Sharp. AI juga hadir dalam bentuk chatbot, mesin deep learning, hingga asisten virtual yang kini hadir dalam berbagai nama di sistem operasi ponsel pintar kita.

Walau terasa lumayan baru, tapi sebenarnya kehadiran AI memiliki sejarah yang begitu panjang, hampir sepanjang teknologi itu sendiri. Mulai dari, Thomas Bayes yang pada 1763 memperkenalkan Bayesian inference, Leonardo Torres yang mendemonstrasikan mesin pertama yang bisa bermain catur pada 1898, hingga Alan Turing di 1947 yang bercita-cita menghadirkan mesin dengan kemampuan belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah lewat.

Evolusi tentang AI ini terus berjalan hingga saat ini, salah satunya di tangan para jenius seperti Stephen Hawking, Bill Gates, dan Elon Musk. Penemuan internet, booming-nya dunia digital, dan berkembangnya teknologi di segala sisi pun kemudian mampu memberi AI lompatan besar.

Kini, AI mengalami pertumbuhan yang demikian pesat. Hal ini terlihat jelas di industri kuliner di Amerika Serikat (AS). Di sana, para pemain besarnya, seperti Domino’s Pizza, Burger King, dan Pizza Hut telah memanfaatkan Chatbot untuk melayani pesanan para pelanggan.

Chatbot adalah program komputer yang dirancang untuk menstimulasikan percakapan antara perangkat dengan satu atau lebih manusia, baik secara audio maupun teks. Chatbot biasanya dibenamkan dalam aplikasi layanan pesan instan.

Dalam bentuk yang lebih advance, asisten virtual juga menawarkan percakapan yang lebih kompleks antara perangkat dengan penggunanya. Hal ini bisa ditemui di perangkat Samsung yang mengembangkan Bixby, Siri milik Apple, dan Alexa dari Amazon.

Sadar atau tidak, Indonesia sebenarnya juga tengah mengadopsi tren serupa. Mulai dari, layanan operator hingga perbankan, kini mulai memperkenalkan chatbot.

Line sudah sejak lama memperkenalkan Bang Joni yang terus di-upgrade kemampuannya, hingga mampu memesankan tiket bagi pengguna. Selain itu, ada pula Telkomsel yang menghadirkan Veronika dan BCA yang menghadirkan Vira untuk membantu nasabah menyelesaikan berbagai layanan perbankan.

Dampak dari makin agresifnya perkembangan AI, berbagai kekhawatiran dan prediksi pun terus bermunculan. Premis AI yang lahir sebagai mesin yang mampu terus belajar, dikhawatirkan akan mengesampingkan manusia suatu hari nanti.

Termasuk juga akan membuat gelombang pengangguran di berbagai wilayah dunia karena pengusaha akan lebih memilih robot yang lebih efisien. Belum lagi, berkembang pula isu sekuriti yang terus membayangi penggunaan AI di masa depan.

Hadirnya mobil otomasi atau robot yang yang hidup di tengah masyarakat, dikhawatirkan membuka kemungkinan adanya peretasan. Ketika itu terjadi, kehadiran robot yang pada dasarnya lahir untuk memudahkan manusia, justru bisa menjadi ancaman baru bagi kemanusiaan.

Munculnya kekhawatiran bahwa robot akan memunculkan gelombang pengangguran mungkin memang tak bisa dihindari. Beberapa jenis pekerjaan, seperti di sektor tambang yang berbahaya bagi keselamatan para pekerjanya, mungkin memang sudah sebaiknya dilakukan oleh robot.

Di Singapura, pemerintahnya sudah mulai mendorong penggunaan robot untuk pekerjaan ringan, seperti room service atau office boy. Tapi, di sisi lain, masyarakat di sana kian didorong untuk terus meningkatkan kemampuan diri sehingga bisa bekerja di industri yang lebih kompleks.

Sejarah membuktikan, ketika mobil menggeser kereta kuda, pekerjaan kusir memang hilang, tapi profesi sopir kemudian lahir. Jadi, ketika beberapa jenis pekerjaan hilang karena mesin degan alasan efisiensi, bukan tidak mungkin akan lahir berbagai jenis profesi baru.

Ketakutan pada mobil automasi yang bisa membahayakan penumpang juga bisa dilihat dari sudut pandang lain. Selama ini, dengan manusia berada di balik kemudi, toh jumlah kecelakaan lalu lintas juga terus saja masih terjadi.

Jadi, teknologi sudah pasti tak akan bisa dihalangi-halangi. Ketika teknologi memunculkan revolusi, manusia biasanya juga akan selalu menemukan cara baru untuk beradaptasi.

Berita Terkait