Ahad , 24 September 2017, 08:03 WIB

Belajar Memahami Teknologi Mata Uang Digital

Red: Karta Raharja Ucu
dok. Pribadi
Setyanavidita Livikacansera, wartawan Republika
Setyanavidita Livikacansera, wartawan Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Setyanavidita Livikacansera, wartawan Republika

Krisis kredit suprima (subprime mortgage) yang terjadi pada akhir 2007 mengguncang perekonomian di Amerika Serikat (AS). Saat itu, harga rumah pun jatuh dan kerugian yang timbul dari krisis ini diperkirakan mencapai 35 triliun dolar AS.

Tak hanya berdampak di AS, krisis ini juga berdampak pada negara-negara lain di dunia. Pada 2009, Satoshi Nakamoto tergerak menciptakan alternatif keuangan di luar sistem perbankan konvensional yang telah ada selama ini. Menurutnya, masalah utama dengan mata uang konvensional adalah begitu besarnya kepercayaan yang diperlukan untuk membuat sistem ini bekerja.

Sayangnya, posisi bank sentral yang seharusnya dipercaya untuk menjaga kepercayaan ini justru menunjukkan hal sebaliknya. Bank yang selama ini dipercaya menyimpan uang kita dan mentransfernya secara elektronik, justru meminjamkannya ke dalam gelembung kredit dengan hampir tidak ada cadangan.

Ketidakpercayaan Nakamoto pada sistem perbankan konvensional pun mendorongnya melahirkan Bitcoin. Bitcoin adalah mata uang digital yang tidak diatur oleh negara dan/atau lembaga apapun.

Beberapa kelebihan Bitcoin di antaranya bisa dikirim ke mana saja lewat internet tanpa melalui bank atau lembaga pengirim. Setiap transaksi Bitcoin juga dilakukan tanpa syarat dan tanpa batasan transfer.

Salah satu kelebihan Bitcoin adalah para penggunanya bisa memantau semua transaksi yang terjadi. Saat ini, ada dua cara mendapat Bitcoin. Pertama, membeli Bitcoin langsung dengan menukarkan mata uang resmi dengan Bitcoin. Kedua, adalah mendapatkan Bitcoin dengan cara memasang aplikasi yang disebut Bitcoin miner atau dikenal juga dengan Bitcoin mining.

Kehadiran mata uang digital ini pun mengalami jatuh bangun. Karena keamanan transaksi dan banyaknya peminat, mata uang ini mengalami pertumbuhan nilai yang signifikan. Tapi, di sisi lain, ada juga yang menganggap Bitcoin sulit digunakan sebagai alat tukar dan pembayaran karena berada di dalam ekosistem yang berbeda.

Upaya untuk menghadirkan Bitcoin ke tengah masyarakat luring sebenarnya terus dilakukan. Tempat penukaran Bitcoin secara fisik yang hadir seperti layaknya Money Changer pun sempat didirikan.

Saat inilah Satoshi Nakamoto menghilang dari peredaran. Salah satu spekulasi yang terkencang dari kepergiannya secara tiba-tiba, adalah karena perkembangan Bitcoin yang sudah tidak sesuai lagi dengan cita-cita awal, ketika ia melahirkannya.

Cita-cita awal yang ingin ia bangun adalah untuk menghilangkan ‘middle man’ yang selama ini hadir di perbankan konvensional, salah satunya dalam bentuk Bank Sentral. Meski jati diri Nakamoto sampai saat ini juga masih menjadi misteri, tapi kisah tentang Bitcoin menjadi salah satu kisah bersejarah dalam memahami esensi teknologi.

Pada dasarnya, teknologi itu hadir untuk memudahkan. Sebagai risiko kolateralnya, memang teknologi kerap memunculkan disrupsi, ketertinggalan regulasi, hingga tak menutup kemungkinan juga revolusi industri.

Hadirnya teknologi juga kerap diselipi harapan munculnya efisiensi. Jadi, ketika ada ada teknologi yang justru terasa memberatkan atau dipaksakan, mungkin esensi dari hal yang satu ini justru dikaburkan.

Misalnya, yang bisa kita temui saat ini adalah makin digalakkannya berbagai transaksi dengan uang elektronik. Harapan awalnya, adalah supaya waktu pembayaran di tol atau halte Transjakarta menjadi berkurang, orang jadi tidak perlu repot mencari-cari uang pas, atau menunggu kembalian.

Tapi, ketika setiap pembelian kartu baru dikenakan biaya yang cukup memberatkan dan setiap top up ada beban administrasi yang diselipkan, sebenarnya siapa yang lebih butuh teknologi bernama uang elektronik?