Rabu , 13 September 2017, 16:02 WIB

Sialnya Hidup di Era Digital

Red: Karta Raharja Ucu
dokumen pribadi
Setyanavidita Livikancasera, wartawan Republika
Setyanavidita Livikancasera, wartawan Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Setyanavidita Livikancasera, wartawan Republika

Hidup di era digital seperti saat ini menyimpan begitu banyak warna. Di satu sisi, segala sesuatunya terasa jauh lebih mudah. Memesan makanan kini tak perlu lagi berjalan, berbelanja juga cukup dilakukan di sela-sela pekerjaan. Sampai-sampai kalau sedang bosan, kita bisa panggil tukang pijat atau hair styler ke rumah.

Dari segi harga, teknologi juga memungkinkan berbagai hal menjadi jauh lebih murah. Sebagian lagi bahkan nyaris gratis. Mulai dari, transportasi hingga informasi.

Semua ini dimungkinkan berkat salah satu ‘sifat dasar’ teknologi yang disruptif. Teknologi itu memang pada dasarnya mirip seperti pemberontak. Ia kerap memotong keberadaan para ‘middle man’ sehingga memungkinkan berbagai hal lebih mudah terakses dengan harga lebih terjangkau.

Semangat pemberontakan ini pula yang memicu Satoshi Nakamoto melahirkan Bitcoin pada 2009. Ketidaksukaannya pada Bank Sentral mendorongnya melahirkan sistem currency yang berada di luar sistem perbankan konvensional.

Premis utama dari konsep mata uang digital ini adalah adanya perangkat lunak sumber terbuka yang menggunakan jaringan peer-to-peer untuk setiap transaksi. Apabila selama ini sistem distribusi uang tersentralisasi, Bitcoin justru terdesentralisasi karena tidak memercayai penerbit utama.

Apabila di sisi konsumen, teknologi memberi banyak solusi, di sisi pengusaha lain lagi. Teknologi justru lebih banyak menimbulkan pertanyaan ketimbang jawaban.

Apalagi, teknologi juga tidak bisa dilawan. Para pengusaha yang selama ini bergerak dan kemudian mapan di bisnis konvensional, sibuk dibuat bertanya-tanya, apa yang bisa dilakukan di era digital seperti sekarang? Apa yang harus dibuat perusahaan untuk bisa bertahan?

Ketika tren belanja daring sudah menjadi bagian dari gaya hidup, tak terhitung lagi berapa banyak pengusaha yang ikut membuka jalur belanja daring. Tumpukan uang pun digelontorkan.

Peruntukannya pun macam-macam. Mulai dari membangun sistem back end yang terjamin keamanannya, branding, dan promosi. Bagian yang terakhir ini biasanya merupakan pos yang paling memakan banyak dana, tentunya di luar subsidi bagi para pembeli demi meningkatkan traksi.

Hanya dalam waktu dua sampai tiga tahun, ternyata kini peta niaga elektronik mulai menunjukkan kemapanannya. Di Indonesia, niaga elektronik sepertinya hanya akan dikuasai oleh dua nama, yaitu Alibaba yang berinvestasi di Tokopedia dan Lazada dan Tencent yang telah menguasai Shopee, JD, dan Traveloka.

Jika Amazon benar jadi datang ke Indonesia, mungkin peta akan menjadi sedikit lebih meriah. Maklum, industri digital hanya bersandar pada satu kekuatan, uang. Para pengusaha yang berada di luar tiga nama besar itu, kemungkinan besar lebih banyak membakar uang daripada mendapat keuntungan.

Sialnya lagi, tak ada yang benar-benar aman di industri digital. Mulai berkembangnya teknologi blockchain digadang-gadang akan segera menimbulkan revolusi digital besar-besaran. Teknologi Blockchain merupakan buku besar digital yang terdesentralisasi, yang meliputi transaksi-transaksi, dan bekerja dengan data yang diatur melalui serangkaian catatan. Segala sesuatu yang tercatat di dalam Blockchain, pada prinsipnya tidak akan bisa dihapus atau dihilangkan.

Raksasa bisnis wisata asal Jerman, TUI Group melalui CEO-nya, Fritz Joussen berani menjamin kehadiran blockchain akan menggusur raksasa digital di industri wisata, seperti Air BnB atau Expedia. Menurutnya, dengan sistem smart contract yang baik, masyarakat akan lebih nyaman membeli berbagai keperluan wisatanyanya langsung dari hotel maupun maskapai, tanpa ada perantara seperti Expedia atau Booking.com.

Karena masih tergolong sangat baru, memang belum bisa dipastikan benar kapan blockchain akan mulai diterapkan. Tapi, melihat mulai banyaknya para pengguna Bitcoin di Tanah Air, sepertinya teknologi Blockchain yang merupakan teknologi di balik Bitcoin, bisa memiliki tingkat adopsi yang tinggi.

Kalau sudah begitu, para pengusaha niaga elektronik, siap-siap saja menggelontorkan uang lagi untuk mengubah sistem back end-nya menjadi open ledger demi mengadaptasi Blockchain. Industri perbankan yang selama ini masih mencoba-coba goes digital juga mungkin akan makin tertinggal. Berbagai aplikasi yang sudah susah-susah dibangun dengan biaya yang tak sedikit, bisa jadi tak lagi dilirik sama sekali. Karena, sistem Blockchain dengan open ledger-nya menjanjikan keamanan transaksi dan jaminan sistem tracking di level demikian tinggi dan belum pernah ada sebelumnya.