Ahad , 10 September 2017, 07:27 WIB

Jangan Tinggalkan Sepak Bola, Pak!

Red: Agus Yulianto
Republika/ Yasin Habibi
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi menyampaikan sambutan ketika pelepasan Timnas U-22 di Jakarta, Kamis (10/8).
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi menyampaikan sambutan ketika pelepasan Timnas U-22 di Jakarta, Kamis (10/8).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Wartawan Republika,  Bambang Noroyono

Masa dinas Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal (Letjen) Edy Rahmayadi di militer masih tersisa dua tahun lagi. Lalu, masa baktinya sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) masih akan berjalan hingga 2020.

Namun, dua jabatan bergengsi itu bisa saja ditinggalkannya tahun depan. Penyebabnya, Edy mulai tergoda untuk memasuki gelanggang politik -- wilayah yang sesungguhnya tidak memiliki kepastian dan hanya menyimpan kesemuan saja. Tapi, godaan semu itu, justru sangat memikatnya. Perwira bintang tiga Angkatan Darat ini semakin santer berniat untuk meramaikan kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Utara (Sumut) 2018.

Rencana pensiun dini sebagai perwira tinggi itu, sudah tersirat. Kabar pun tersiar kalau realisasi rencana itu akan diambilnya pada awal tahun depan. Andai pilihan itu benar-benar jadi diambil, lalu bagaimana nasib induk organisasi sepak bola Indonesia yang dipimpinnya belum sampai setahun ini? Rasanya, pertanyaan semacam ini wajar untuk disampaikan.

Kita memang perlu mempertanyakan karena sampai kini sepak bola Indonesia masih miskin prestasi. Masih segar diingatan, bagaimana janji-janji Edy Rahmayadi tak lama setelah menjadi penguasa PSSI. Janji untuk memberikan medali emas di ajang SEA Games, ternyata masih terasa gombal. Begitu juga dengan pencapaian timnas U-16 di Piala AFF U-15 2017 yang tak sesuai dengan target. Kegagalan berikutnya dialami oleh timnas U-22 yang kandas impiannya untuk tampil ke Piala Asia U-23 2018.

Di antara deretan target yang meleset itu, tentunya saya menjadi merasa kecewa ketika mendengar Edy Rahmayadi berniat untuk maju ke gelanggang politik praktis yang hanya memberikan ketidakpastian. Kecewa saya ini tak dibalut oleh pesimisme. Jangankan jadi gubernur, jadi menteri atau jabatan tinggi negara sekalipun, saya tak ragu dengan kepemimpinan dari lulusan Akmil 1985 ini.

Apalagi sebagai warga Sumut, saya tentunya menyimpan kebanggaan punya sosok seperti Edy Rahmayadi. Bahkan ada keinginan saya pulang kampung kali ini agar bisa memberikan hak suara untuk kali pertama pada Pilkada Sumut demi kemenangannya di BK-1.

Tapi, persoalannya akan jadi lain jika benar Edy nantinya terpilih sebagai gubernur. Tugasnya sebagai ketua umum PSSI hendak dikemanakan? Ia memang memiliki beberapa pilihan. Bisa rangkap jabatan, menyerahkan tongkat komando PSSI kepada Kepala Staf Ketua Umum Iwan Budianto atau Wakil Ketua Umum Djoko Driyono serta skenario lainnya meminta PSSI untuk membuat Kongres Luar Biasa (KLB) demi mencari ketua umum baru.

Sekali lagi, semua itu masih sesuatu yang gaib. Tak jelas. Tapi kalau harus menjalani semua jabatan dalam satu periode, rasanya menjadi sebuah kemustahilan. Meski dalam UU TNI maupun Statuta PSSI tidak mengharamkan rangkap jabatan namun begitu banyak agenda penting -- khususnya sepak bola -- yang bisa saja terbengkalai. Untung saja Markas Kostrad dan PSSI masih sama-sama berada di Jakarta. Wartawan peliput sepak bola nasional, sudah sangat mafhum bagaimana agenda acara sepak bola secara tiba-tiba dapat berpindah ke Makostrad. Lalu macam mana pulak kalau Edy jadi gubernur di Sumut kelak? Bah!

Bukankah, jabatan gubernur itu menuntut dia untuk hadir 24 jam dan tujuh hari selama sepekan. Kemudian, urusan sepak bola nasional yang sampai kini masih menyimpan segudang masalah, tentunya memerlukan pemikiran dan kehadiran Edy Rahmayadi untuk diselesaikan.

Jadi, ada baiknya kalau Edy bisa bersabar diri. Rasanya, target yang harusnya dilakukan sekarang ini adalah membenahi sepak bola sebagaimana yang diinginkan oleh Presiden Joko Widodo ketika memulai 'perang' dengan ketum PSSI yang kala itu masih dikuasai oleh La Nyalla Mattalitti. Ingat, prestasi timnas adalah harga diri buat bangsa ini. Artinya, ketika sepak bola Indonesia berprestasi di pentas internasional maka disanalah terbangun nasionalisme.

Ingatlah, sepak bola adalah olahraga yang digandrungi sebagian besar rakyat di negeri ini. Meski timnas masih paceklik gelar tapi selama ini kami para pendukung selalu setia menyokongnya. Saya percaya, semua ini memang pilihan. Tapi saya masih ingat sebuah lagu yang membakar ksatrian Kostrad yang berjudul pantang pulang sebelum menang. Jadi ketika sepak bola negeri ini masih belum berprestasi, pantaskah untuk meninggalkannya, Pak Edy?