Kamis , 31 August 2017, 02:00 WIB

Hilangnya Tradisi 40 Tahun

Red: Agus Yulianto
doc pri
Bilal Ramadhan
Bilal Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wartawan Republika.co.id, Bilal Ramadhan (Instagram: @Abram7687)

"Untuk di SEA Games selanjutnya, Indonesia tidak perlu ‘main-main’ untuk menurunkan pemain pelapis."

Ajang SEA Games 2017 bisa disebut sebagai tahun keterpurukan kekuatan bulu tangkis Indonesia. Berbagai tradisi medali emas Indonesia di SEA Games tahun ini terpaksa harus terputus. Paling menyesakkan, tentunya karena tradisi juara umum di cabang bulu tangkis yang sudah dijaga selama 40 tahun harus sirna di depan mata.

Indonesia pertama kali mengikuti ajang SEA Games atau pesta olahraga antara negara-negara di Asia Tenggara pada 1977. Masuknya Indonesia ini menjadi kekuatan baru dan langsung menggebrak menjadi juara umum di SEA Games. Tak hanya itu, Indonesia menorehkan sejarah dengan menjadi juara umum empat kali secara beruntun dan sebanyak dua kali pula. Thailand pun belum mampu menyamai prestasi Indonesia hingga saat ini.

Di cabang bulu tangkis, Indonesia juga langsung mendominasi SEA Games. Sebelum Indonesia masuk, medali emas di cabang ini selalu menjadi perebutan Malaysia dan Thailand. Malaysia pernah melakukan sapu bersih medali emas di bulu tangkis pada SEA Games 1969. Namun sejak SEA Games 1977, dua negara tersebut seperti kehilangan tajinya.

Indonesia menjadi juara umum cabang bulu tangkis di SEA Games 1977 dengan enam medali emas. Satu medali emas lepas yaitu dari nomor tunggal putri yang diraih Malaysia. Sejak SEA Games 1977 hingga 2015, Indonesia selalu meraih gelar juara umum dengan minimal tiga medali emas dalam genggaman.

Namun di SEA Games 2017, tradisi selama 40 tahun tersebut harus terputus. Indonesia hanya mampu meraih dua medali emas melalui tim beregu putra dan tunggal putra. Juara umum di cabang ini dicuri Thailand dengan empat medali emas.

Gelar ini sekaligus memupus posisi Thailand yang selama ini selalu berada di bawah bayang-bayang Malaysia. Kekuatan para pemain muda Thailand menciptakan sejarah tahun ini. Sejak SEA Games 1977-2015, Indonesia sudah empat kali melakukan aksi sapu bersih medali emas yaitu pada SEA Games 1981, 1987, 1997 dan 2007.

Sehingga ada tradisi Indonesia melakukan sapu bersih medali emas setiap 10 tahun sekali dan tradisi ini juga harus terputus pada tahun ini setelah tim beregu putri Indonesia ‘digunduli’ Malaysia dengan 0-3 di babak semifinal. Sehingga hanya memperoleh medali perunggu.

Tradisi medali emas lainnya yang juga terputus yaitu di nomor ganda putra dan ganda campuran. Indonesia mendominasi dua nomor ini sejak SEA Games 2005 hingga 2015 lalu, dan semuanya harus terputus tahun ini. Medali emas di dua nomor ini sukses dicuri Thailand. Padahal pemain peraih medali emas terbanyak di ganda campuran SEA Games berasal dari Indonesia yaitu Imelda Wiguna (1977, 1979, 1981 dan 1985) serta Liliyana Natsir (2005, 2009 dan 2011).

Di saat yang sama, Liliyana Natsir menorehkan prestasi dengan menjadi Juara Dunia 2017, bersama Tontowi Ahmad. Pemain yang kerap disapa Butet ini menjadi pemain terbanyak yang menjadi juara dunia di ganda campuran dengan empat kali juara dunia. Dua kali bersama Nova Widianto (2005 dan 2007) dan bersama Tontowi Ahmad menjadi juara dunia pada 2013. Prestasi Butet ini sungguh menjadi ‘obat’ yang mujarab untuk mengobati kegagalan tim bulu tangkis Indonesia di SEA Games 2017.

Untuk di SEA Games selanjutnya, sepertinya Indonesia tidak perlu ‘main-main’ lagi untuk menurunkan pemain pelapis di ajang ini. Karena negara-negara lain seperti Thailand dan Malaysia juga tidak main-main untuk menurunkan kekuatan penuh dalam mencuri medali emas di cabang bulu tangkis. Para pemain pelapis Indonesia terlihat belum mampu diberi tanggung jawab untuk mengembalikan dominasi Indonesia di cabang olahraga yang sangat dicintai rakyatnya ini. Dan, jujur, pencapaian di SEA Games kali ini sungguh sangat menyesakkan.