Ahad , 13 August 2017, 08:06 WIB

Semoga Luis Milla tak Salah Lagi Pilih Tim Utama

Red: Andri Saubani
Republika/ Yasin Habibi
Pemain timnas U-22 mengikuti pelepasan oleh PSSI di Jakarta, Kamis (10/8).
Pemain timnas U-22 mengikuti pelepasan oleh PSSI di Jakarta, Kamis (10/8).

Oleh: Andri Saubani

Redaktur Republika

 

Saat melepas Timnas Indonesia U-22 yang akan berlaga di SEA Games 2017, Kamis (10/8) lalu, Ketua Umum PSSI Letjen TNI Edy Rahmayadi memberikan dua pilihan kepada skuat Garuda. Hansamu Yama dkk diminta menyerah dan gagal seperti pecundang atau berjuang terus seperti para pejuang. Edy pun menyitir perjuangan heroik pelari Inggris, Derek Redmond yang cedera namun, berhasil meraih emas Olimpiade 1992 di Barcelona.

Pada SEA Games yang tahun ini digelar di negeri jiran, Malaysia, timnas Indonesia asuhan pelatih Luis Milla ditargetkan membawa pulang medali emas. SEA Games adalah gelaran kedua bagi Milla setelah pada kualifikasi Piala Asia U-23 belum lama ini, ia gagal memenuhi target lolos ke putaran final. Edy pun telah mengingatkan, jabatan Milla kali ini dipertaruhkan jika timnas gagal meraih juara di Malaysia.

Sejak direkrut pada Januari, Luis Milla mengerek harapan tinggi para pecinta sepak bola Tanah Air yang sudah begitu lama haus akan prestasi. Sepak bola Indonesia sudah lama tiarap, terakhir timnas Garuda meraih medali emas SEA Games adalah pada 1991. Milla yang berpengalaman mengantar skuat muda Spanyol juara Eropa pada 2011 itu pun diharapkan bisa menularkan ilmu kepelatihan tingkat tingginya kepada skuat muda Indonesia.

Debut resmi pertama Milla bersama timnas adalah saat lndonesia menjamu Myanmar pada Maret. Meski kalah 1-3, skuat muda Milla saat itu pada awalnya terlihat menjanjikan meski kemudian pada paruh kedua babak, Bagas Adi Nurgroho (kapten) dkk kelabakan meladeni permainan timnas senior Myanmar. Dua pertandingan resmi selanjutnya pada Juni, yakni saat menang 2-0 di kandang Kamboja dan imbang tanpa gol lawan Puerto Riko bisa dibilang tidak bisa menjadi acuan lantaran timnas U-22 dicampur dengan beberapa pemain senior, seperti Irfan Bachdim dan Stefano Lilipaly.

Proyeksi PSSI untuk Milla sejak awal jelas, yakni mencetak timnas yang bisa berprestasi pada masa depan. Dibantu oleh asistennya Bima Sakti, Milla pun menyeleksi para talenta muda yang sebagian adalah alumni anak asuh Indra Sjafri saat mereka gemilang bersama timnas U-19. Nama-nama seperti Hansamu, Evan Dimas, dan Hargianto digabung dengan rekrutan baru yang bisa dibilang tak kalah baik kualitas skill-nya.

Terima kasih untuk regulasi Liga 1 yang sempat mewajibkan setiap klub memainkan tiga pemain di bawah usia 23 tahun sejak awal laga. Ledakan performa pemain muda pun kemudian menarik perhatian Luis Milla. Bagas Adi, Rezaldi Hehanusa, Marinus Wanewar, Sadil Ramdani, Gian Zola, Febri Haryadi, menjadi di antara yang kemudian dipanggil bergabung ke skuat Garuda Muda.

Tiga laga pada babak kualifikasi Piala Asia U-23 yang dilakoni timnas Indonesia pada bulan lalu menjadi cerminan bahwa kekuatan fisik dan semangat juang tinggi (seperti yang diinginkan Edy) tidak cukup menjadi penentu sebuah tim untuk beprestasi. Untuk sukses, setiap pelatih juga dituntut jeli memilih starting XI dan cermat mengkalkulasi taktik dan strategi dalam setiap laga. 

Pada laga pertama saat kalah 0-3 dari Malaysia, Luis Milla harus membayar mahal kesalahannya dalam memilih starter. Sebagai pelatih yang telah berbulan-bulan bersama tim, Milla pastinya yang paling tahu pemain mana yang paling siap dimainkan atau tidak. Tetapi, Indonesia telanjur ketinggalan tiga gol sebelum pemain ‘berpengalaman’  semacam Evan Dimas dimasukkan dan membuat perubahan.

Pada laga kedua melawan Mongolia, perubahan radikal starting XI berbuah kemenangan telak 7-0. Pemain yang absen pada laga pertama seperti, Hansamu, Sadil, Rezaldi, Gavin Kwan, dan Osvaldo Hay bermain gemilang dan menunjukkan kualitasnya ketimbang starting XI Garuda lawan Malaysia. Mongolia yang berhasil menahan imbang Thailand sebelumnya, dibuat kocar-kacir oleh permainan apik yang enak ditonton ala ‘tiki-taka’.

Pada laga ketiga atau penentuan melawan Thailand, faktor ketidakberuntungan lebih menonjol daripada hal teknis tim. Luis Milla yang butuh kemenangan, kembali memainkan tim yang sama saat melawan Mongolia. Namun sayang, hujan deras yang turun sejak awal laga mengakibatkan banyak genangan di lapangan Stadion Nasional Bangkok.
Taktik permainan cepat dengan operan pendek seperti laga kedua pun tak bisa diterapkan Evan Dimas dkk.

Hansamu sampai diplot menjadi striker sebagai penyambut skema umpan jarak jauh yang pada akhirnya selalu gagal menjadi gol. Hasil akhir imbang tanpa gol memupuskan asa Garuda berlaga di putaran final lantaran hanya bisa finis di bawah Malaysia dan Thailand pada fase penyisihan grup. Andai saja sejak laga melawan Malaysia, Luis Milla tak salah menetapkan 11 pemain utamanya, hasilnya sangat mungkin bisa berbeda.

Bagaimana dengan kans di SEA Games 2017? Bisa dibilang target emas berat, meski masih realistis. Dari segi jadwal di mana timnas harus berlaga dalam rentang waktu setiap dua hari, tim kepelatihan Luis Milla harus putar otak untuk bisa menjaga kebugaran tiap pemain khususnya para pemain intinya. Itulah kenapa Milla hanya memboyong pemain yang benar-benar fit ke Malaysia. Apalagi, Indonesia yang tergabung di Grup B, memiliki satu pertandingan lebih banyak ketimbang Grup A.

Semoga Luis Milla tak lagi salah menyusun formasi tim inti dan meracik strategi. Khususnya, pada laga pertama lawan Thailand pada Selasa (15/8) akan sangat menentukan sebelum melakoni pertandingan selanjutnya, melawan Filipina pada Kamis (17/8), Timor Leste pada Ahad (20/8) Vietnam pada Selasa (22/8) dan Kamboja pada Kamis (24/8). Kemenangan atas Thailand menjadi wajib hukumnya agar start Garuda bisa melaju kencang hingga final dan menjadi juara.