Sabtu , 15 July 2017, 16:49 WIB

Kebiasaan Juventus dan Misteri Hengkangnya Bonucci

Red: Didi Purwadi
doc
Frederikus Bata
Frederikus Bata

Oleh: Frederikus Bata
Wartawan Republika

Kuat dalam bertahan, piawai saat melepaskan umpan lambung ke depan, itulah karakteristik Leonardo Bonucci. Kini, bayangan pesepakbola 30 tahun secara resmi menghilang dari Juventus Center. Markas latihan Juve yang berlokasi di Vinovo, sebuah desa di Piedmont (14 Kilometer di barat daya kota Turin, Italia) harus terbiasa tanpa suara dan gerak langkah Bonbon lagi.

Ya, Bonucci memutuskan membelot ke AC Milan. Transfer senilai 42 juta euro (Rp 640 miliar) menjadi rekor bek termahal yang pernah dibeli wakil kota mode tersebut. Sebelumnya Alessandro Nesta di posisi teratas saat I Rossoneri membawa legenda tim nasional Italia dari Lazio pada 2002 silam.

Di era sepakbola modern, penjualan pemain bintang bukan hal yang tabu. Apalagi, sejarah transfer Juve dan Milan kerap melibatkan para nama kesohor. Sebut saja Filippo Inzaghi dan Andrea Pirlo. Toh hubungan mereka baik-baik saja. Kalaupun ada friksi di lapangan, itu murni profesionalitas sebuah laga kelas atas bertensi tinggi yang melibatkan dua tim raksasa di 'negeri spaghetti'.

Secara historis, kubu Bianconeri terbiasa melepaskan aset berharga di beberapa edisi bursa transfer. Nama besar seperti Zinedine Zidane, Inzaghi, Paul Pogba, Arturo Vidal, Zlatan Ibrahimovic, Lilian Thuram, hingga Fabio Cannavaro masuk dalam list pemain yang hengkang dari Turin. Tiga sosok terakhir lebih disebabkan karena Juve terdegradasi ke Serie B pada 2006 lalu akibat skandal Calciopoli. Pada intinya tak ada penyesalan berlebih, baik dari manajemen maupun penggemar.

Prinsip manajer legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, bahwa tidak ada pemain yang lebih besar dari klub, sepertinya menjadi budaya La Vechia Signora. Juve akan terus berjalan dari musim ke musim, berinovasi dengan skuat tersisa sambil mencari pengganti sepadan. Terbukti revolusi kebangkitan kubu 'hitam putih' terbilang cepat.

Pernah terjerembab ke kasta kedua, setelahnya dalam satu dekade terakhir klub milik keluarga Agneli tak tertandingi di ranah domestik serta dua kali menembus final Liga Champions. Secara koofesien Eropa, Gianluigi Buffon dan rekan-rekan hanya kalah dari Real Madrid, Atletico Madrid, Bayern Muenchen, dan Barcelona.

Raihan tersebut adalah bukti sahih kualitas tim, tak peduli siapa yang bertahan dengan bendera 'hitam putih'. Menilik dari sederet prestasi si Nyonya Tua, sepertinya, kilauan raksasa Turin tak harus redup lantaran hilangnya Bonucci. Namun, semua proses transfer memiliki drama berbeda. Pun demikian yang dialami Bonbon.

Harus diakui, kepergian eks jagoan Bari itu menyisakan sekelumit cerita yang tak tersentuh kaum awam. Hanya orang dalam Juventus dan Bonucci yang tahu. Bagaimana tidak, hampir tak terdengar rumor tersebut, tiba-tiba dalam tiga hari semua terjadi begitu cepat. Sang pemain bahkan sempat berlatih terakhir kalinya di Vinovo sebelum menuju Milan.

Bagaimana perasaan Juventini di seluruh dunia saat ini? Tidak ada yang tahu detail orang per orang, yang pasti kabar ini cukup mengejutkan. Legenda Juve, Alessandro Del Piero, pun menilai pemberitaan ini bak lelucon. Pasalnya, Bonucci digadang-gadang menjadi pemimpin masa depan La Vechia Signora.

Sejumlah media di Eropa ramai-ramai memberitakan, kamar ganti Juventus bukan tempat yang nyaman bagi Bonucci lagi. Suami dari Martina Maccari itu dikabarkan berselisih dengan Allegri dan beberapa penggawa Bianconeri lainnya.

Cerita bermula ketika Allegri bersitegang dengan sang bek saat Juventus menghadapi Palermo di Serie A. Pada pertandingan lanjutan, menghadapi FC Porto di Liga Champions, Bonbon pun tidak diturunkan. Meski sudah kembali normal, ketegangan memuncak saat final Liga Champions di Cardiff.

Kala itu babak pertama, Juve berbagi skor imbang 1-1 melawan Real Madrid. El Real dibuat tertekan oleh wakil Serie A itu. Kenyataan berbeda saat babak kedua berjalan. Jala Buffon bobol tiga kali. Juve bahkan tak bisa melepaskan tembakan tepat sasaran ke gawang lawan.

Amburadulnya penampilan para serdadu La Vechia Omcidi disebabkan adanya friksi di kamar ganti. Bonnuci dinilai menjadi penyebab utama karena bersitegang dengan Giorgio Chiellini dan Paulo Dybala. Nama lain yang turut memperkeruh adalah Dani Alves. Eks Barcelona itu berseteru dengan Mario Mandzukic.

Manajemen pun bergerak cepat demi menormalisasi tim menjelang musim baru. Alves dan Bonucci tak lagi menjadi pasukan 'hitam-putih'. Pemberitaan mengenai hengkangnya Alves tak berlebihan. Namun khusus bagi Bonbon, siap-siap dilabeli penghianat oleh Juventini.

Raihan trofi enam scudetto miliknya seolah hilang tak berbekas. Saudari perempuan Giorgio Chiellini turut mengecam keputusan pria 30 tahun itu. Apapun yang terjadi, atas nama tim, Juventus tentu tahu yang terbaik untuk mereka. Laman resmi klub bahkan mengucapkan terimakasih untuk kerja keras Bonucci dalam 319 laga di semua kompetisi dengan tambahan 21 gol.