Senin , 19 June 2017, 06:37 WIB

Kontribusi Wisata Halal Bagi Pembangunan

Red: Irwan Kelana
Dok IITCF
Suasana acara Rembuk Republik yang digelar di Mataram, Lombok, NTB, Kamis (8/6).
Suasana acara Rembuk Republik yang digelar di Mataram, Lombok, NTB, Kamis (8/6).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Fuji Pratiwi

Indonesia pernah merasakan gilang-gemilang pasar komoditas dunia. CPO (mnyak kelapa sawit), minyak bumi, dan batu bara jadi 'tambang emas' kala itu. Lima tahun belakangan, kondisi jadi kontras setelah harga komoditas dunia mencapai titik terendah. Komoditas surut kilaunya.

Banyak negara kemudian mencari sumber pendapatan baru. Setelah lama diabaikan, pariwisata kemudian dilihat kembali sebagai sumber penghidupan yang tak pernah surut meski krisis keuangan melanda dunia antara 2008-2013.

Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) pada 2016,   57 negara mayoritas Muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerja sama Islam (OIC) memiliki pendapatan domestik bruto (GDP) sebesar 17 triliun dolar AS pada 2015. Angka itu setara dengan 15 persen GDP global yang besarnya 113 triliun dolar AS pada 2015.

Pertumbuhan GDP negara-negara OIC diprediksi tetap solid sekitar 4,19 persen pada 2015-2021 dibanding pertumbuhan GDP global yang rata-rata hanya 3,6 persen untuk periode yang sama. GDP 21 negara anggota OIC bahkan diprediksi akan tumbuh di atas GDP negara-negara berkembang (emerging market) lainnya.

Dari laporan State of Global Islamic Economy 2016-2017, belanja komunitas Muslim untuk wisata halal mencapai 151 miliar dolar AS atau 11,2 persen dari total pengeluaran masyarakat global pada 2015. Pada saat yang sama, belanja masyarakat Cina untuk sektor wisata mencapai 168 miliar dolar AS dan Amerika Serikat 147 miliar dolar AS.

Dari data yang dikumpulkan Tim Pengembangan dan Percepatan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata, kontribusi wisata bagi GDP Indonesia mencapai 9,3 persen pada 2014. Untuk periode yang sama, kontribusi wisata terhadap GDP Singapura mencapai 10,1 persen, Malaysia 14,9 persen, Thailand 14,4 persen, UEA 8,4 persen, dan Turki 12 persen.

Dari sana, pendapatan valas yang dihasilkan juga tak sedikit. Untuk periode 2014, pendapatan valas sektor wisata Indonesia mencapai 9,8 miliar dolar AS, Singapura 19,2 miliar dolar AS, Malaysia 21,8 miliar dolar AS, Thailand 38,4 miliar dolar AS, UEA 12,6 miliar dolar AS, dan Turki 29,5 miliar dolar AS. Belum lagi penciptaan lapangan kerja baru yang dampak jangka panjangnya bisa mengurangi pengangguran.

Dengan semua data itu, pasar Muslim sangatlah potensial, termasuk untuk produk wisata. Sama seperti wisatawan lain, komunitas Muslim memiliki kebutuhan spesifik seperti makanan halal dan tempat shalat yang memadai. Pada 2012, Indonesia sudah memulai upaya pengembangan wisata halal.

Perluas segmen
Untuk meraih kesempatan itu, Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Kementerian Pariwisata Tazbir menyatakan pelaku industri wisata perlu memperluas layanan agar segmen pasar mereka bertambah, dari hanya wisatwan konvensioal menjadi wisatawan konvensional plus wisatawan halal.

Rupa-rupa laporan analisis perkembangan wisata halal internasional punya poin-poin penilaian yang bisa jadi acuan, salah satunya Global Muslim Travel Index (GMTI). Dalam GMTI 2017, Indonesia berada di peringkat ke tiga setelah Malaysia di peringkat pertama dan Uni Emirat Arab (UEA) di posisi ke tiga.
 
''Perhatian akan hal ini penting karena nantinya akan menentukan daya saing Indonesia di sektor wisata halal,'' kata Tazbir dalam Rembuk Republik di Ballroom Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB, Mataram, Kamis (8/6). Diskusi panel itu juga menampilkan nara sumber Chairman Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) Priyadi Abadi dan konsultan penerbangan Farshal Hambali.

Dengan segala potensi pasar dan potensi daya tarik wisata yang Indonesia miliki, pemerintah memasang sejumlah target di akhir masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo pada 2019 mendatang. Saat itu, target wisatawan Muslim yang datang ke Indonesia sebanyak lima juta orang, perjalanan wisatawan Nusantara mencapai 242 juta perjalanan, dan posisi Indonesia di GMTI sudah berada di peringkat pertama.

Target itu pun kemudian diiringi sejumlah langkah seperti meningkatkan citra internasional dengan memenangkan penghargaan internasional, promosi dan pemasaran terintegrasi di pasar internasional, serta penguatan daya saing atraksi. Indonesi sendiri sudah dua tahun berturut-turut  memenangi penghargaan World Halal Travel Award di Abu Dhabi. Sebagai satu dari 10 provinsi prioritas wisata halal, NTB dua kali berturut-turut meraih penghargaan bergengsi itu.

Setelah menjadi program prioritas pemerintah pusat, wisata juga jadi perhatian pemerintah daerah. Khusus bagi NTB, wisata halal jadi bagian pembangunan daerah.

Sekretaris Daerah Provinsi NTB Rosiyadi Sayuti mengatakan, lima tahun lalu, tak terbayang NTB akan mendapat penghargaan World Best Halal Destination dari World Halal Travel Award yang kemudian mencitrakan NTB sebagai tujuan wisata halal dunia. Penghargaan itu tak cuma membawa kebahagiaan, tapi juga amanat perbaikan.

Untuk memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim, perlu ada penyesuaian baik transportasi, akomodasi, layanan masyarakat, termasuk layanan aparatur negara. Sehingga wisata ramah Muslim yang semula hanya konsep bisa mewujud dengan tetap mempertahankan kekhasan NTB untuk menarik wisatawan Muslim mancanegara.

Rosiyadi mencontohkan bandara. Ia  berharap semoga aneka markanya dan pengumuman melalui pengeras suara bisa ramah terhadap wisatawan Muslim. Sehingga,  wisatawan Muslim bisa mudah mengakses aneka layanan yang mereka butuhkan di bandara.

''Wisata itu ada karena ada daya tarik. Dengan citra wisata halal, kami ingin sekali saat dunia internasional menyebut destinasi halal, isi kepala mereka langsung terasosiasi dengan Lombok,'' kata Rosiyadi.

Mumpung dapat penghargaan duluan, lanjut Rosiyadi, NTB harus di depan untuk memikat wisatawan dunia sehingga Indonesia bisa jadi tujuan wisata halal utama dunia. Agar sederhana, Rosiyadi mengatakan pelaku bisa mengukur tingkat keberhasilan upaya pengembangan bisnis wisata halalnya dengan menghitung jumlah kunjungan wisatawan.

''Sejak Islamic Center NTB dipopulerkan sebagai destinasi wisata halal, kabarnya belakangan Islamic Center NTB jadi pembicaraan di Malaysia,” tutur Rosiyadi.

Pesona Khazanah Ramadhan
Kepala Dinas Pariwisata Prov NTB Lalu M. Faozal menjelaskan, wisata halal ini juga adalah bagian pembangunan daerah NTB. Dengan memenangkan World Halal Travel Award pada 2015 dan 2016 lalu, NTB makin berbenah karena sudah dicitrakan sebagai destinasi wisata halal.

Salah satu komponen daya saing wisata halal adalah adanya kegiatan atau fasilitas penunjang bagi wisatawan Muslim saat Ramadhan. Dengan niat menjadikan Ramadhan 1438 lebih produktif dan semarak, digelarlah Pesona Khazanah Ramadhan 1438 H di Bumi Seribu Masjid.

Pesona Khazanah Ramadhan 1438 H digelar sebulan penuh dan dikonsentrasikan di Islamic Center NTB, Mataram. Dengan rupa-rupa acara untuk semua segmen masyarakat, Pesona Khazanah Ramadhan secara khusus menghadirkan lima qari internasional dari Mesir, Maroko, Libanon, dan Yordania untuk menjadi imam shalat tarawih.

GM Marketing Republika Indra Wisnu Wardana mengatakan, sebagai bagian pentahelix pengembangan dan percepatan wisata halal, peran media amat krusial. Sebagai media yang berkhidmat bagi komunitas Muslim, Republika jelas menempatkan wisata halal sebagai bagian penting.

Republika bahkan menggelar rangakaian Rembuk Republik wisata halal yang mengundang semua pemangku kepentingan untuk bersinergi dan saling memperluas perspektif  hadirin. Rangkaian Rembuk Republik juga masuk dalam Pesona Khazanah Ramadhan 1438 H yang dibuat terintegrasi antara pariwisata halal sebagai bagian sektor riil dengan sektor jasa keuangan syariah.