Jumat , 19 Mei 2017, 09:07 WIB

Mimpi al-Ghazali

Red: Budi Raharjo
Daan Yahya/Republika
Erdy Nasrul
Erdy Nasrul

REPUBLIKA.CO.ID,
 
Oleh Erdy Nasrul
 
Pada suatu malam, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali bermimpi. Dia ditanya, "Apa yang telah Allah perbuat terhadap kamu?" Kemudian al-Ghazali menjawab, Allah telah mendudukkan dia di hadapan Sang Pencipta.
 
Kemudian Allah menanyakan, perbuatan apa yang akan diajukannya. Pengarang Maqashidul Falasifah ini menyebutkan seluruh amal perbuatannya. Allah kemudian menolak semuanya, kecuali satu amal. Pada suatu hari ‎seekor lalat hinggap di ujung pena al-Ghazali untuk minum. Sementara sang imam ketika itu sedang menulis.
 
Lalu dia berhenti menulis untuk memberikan kesempatan lalat meminum tinta itu. "Karena kasih sayangmu kepada lalat, berjalanlah kau bersama hamba-hambaku yang lain menuju surga," perintah Allah.
 
‎Kisah yang ditulis guru para ulama, Syekh Nawawi al-Bantani, dalam kitab Nashaihul Ibad ini menunjukkan contoh cinta. Perasaan ini tidak hanya memahami diri sendiri, tapi juga makhluk lain, meskipun hanya seekor lalat kecil yang kerap dianggap sebagai binatang pengganggu.
 
Ulama menjelaskan cinta dengan berbagai perspektif. Makna kata ini bukan hanya keintiman. Bukan pula sebatas interaksi dua insan.

Sufi, Rabi’ah Adawiyah, menggambarkan rasa cintanya kepada Allah dalam berbagai syair, sebagaimana ditulis oleh al-Hujwiri dan Fariduddin Attar. Dia melukiskan ibadah yang dikerjakannya bukan dilandaskan pada rasa takut akan neraka, bukan pula ketamakan untuk meraih surga. Dia menyembah, hanya karena cinta dan kerinduan kepada Sang Pencipta.
 
Rabi’ah menyadari cinta kepada Allah tak terbatas, tak seperti cinta kepada manusia yang kerap disertai ketidaksempurnaan. Cinta seperti ini diyakini menandakan kasih sayang Allah.
 
Syaikhur Rais Ibnu Sina menjelaskan, cinta adalah penyebab keberadaan yang paling mendasar. Dalam Risalah fil Isyq (risalah cinta), ilmuwan yang menjadi rujukan kedokteran ini menjelaskan kecintaan Tuhan kepada manusia membuat Yang Maha Kuasa menciptakan alam semesta dengan berbagai tingkatannya. Di dalamnya ada dunia tempat manusia, binatang, dan tumbuhan hidup.
 
Ada juga alam malaikat dan ruh yang tak bisa dijangkau pancaindra. Singgasana Tuhan adalah yang paling tinggi. Di sanalah Pencipta yang Mahapengasih bersemayam (‎QS Thaha: 5). Allah adalah asal muasal dan akhir dari berbagai realitas (al-Awwalu wal Akhir‎).
 
‎Ibnu Sina menjelaskan, cinta menghasilkan dorongan agar makhluk menyempurnakan dirinya. Seseorang akan berusaha menampilkan yang terbaik. Dia menambah ilmu agar semakin mengetahui alam semesta, sehingga dia memahami jati dirinya. Ilmu menghadirkan rasa rendah hati, bukan keangkuhan, karena ilmu menghadirkan pemahaman setiap yang diciptakan akan sirna dan menemui ajal.
 
Setiap makhluk mempunyai dorongan untuk tumbuh besar mencapai bentuk sempurna. Manusia makan secukupnya untuk tumbuh dan sehat.  ‎Seseorang menikah untuk memiliki keturunan, berpuasa untuk merasakan kehidupan orang lain yang hidup kekurangan, dan membayar zakat untuk membantu sesamanya.
 
Mereka menjaga alam dari pembalakan liar agar tak terjadi banjir. Masyarakat mencegah kebakaran hutan agar tidak terjadi kabut asap. Mereka juga menjaga kebersihan lingkungan, tidak merusak tanaman hias, dan menjaga kelestarian tumbuhan di taman-taman kota, meskipun sedang berunjuk rasa.
 
‎Cinta menghadirkan keteraturan. Hasilnya adalah nada-nada yang enak didengar, bentuh elok yang indah dipandang, atau makanan yang lezat. Semua itu didorong oleh cinta. Semuanya adalah kebaikan yang bermula dari Mahabaik (al-Birru), sehingga manusia terhindar dari kejahatan dan keburukan, seperti zina, bohong, merusak, dan lainnya.
 
Manusia yang penuh cinta tak mungkin merusak fasilitas publik. Mereka tidak mengganggu ketertiban umum dan selalu menjaga perasaan sesama.‎ Dorongan ini mengarahkan makhluk untuk kembali ke tabiatnya sebagai hamba Sang Pencipta, jauh dari keangkuhan dan merasa tak memiliki apa-apa. Ini adalah bentuk kecintaan Allah yang mengekspresikan kekuasaannya.
 
Ibnu Sina mengatakan cinta merefleksikan kehormatan dan kekayaan hati. Cinta kepada lawan jenis yang didasari nilai agama akan mengontrol syahwa‎t. Yang hadir adalah kesadaran, bahwa suami tak boleh berhubungan intim dengan sembarang wanita. Begitupun sebaliknya, istri tak boleh berzina. Keduanya sama-sama menjaga Kehormatan.
 
Hal tersebut menandakan keintiman ‎jangan sampai terlepas dari kebijaksanaan, agar muruah tetap terjaga. Kekaguman kepada seorang figur juga demikian. Jangan sampai melanggar aturan yang ada. Jangan sampai menghina ulama dan mengganggu stabilitas ekonomi.
 
Boleh saja menyalakan lilin di manapun untuk mengekspresikan kecintaan kepada seorang tokoh. Namun, jangan sampai hal itu mengabaikan aturan berkumpul. Silakan berdemonstrasi. Namun ketika ada hari raya keagamaan tertentu, alangkah baiknya ‎unjuk rasa tersebut dihentikan.
 
Silakan menunjukkan rasa cinta kepada yang ditokohkan, tapi jangan mengganggu ritual keagamaan masyarakat setempat. Belajarlah mencintai dengan tulus, meskipun hanya kepada hal kecil, seperti yang dilakukan al-Ghazali.
 
Setiap makhluk mencintai Yang Mahabaik, karena dia adalah sumber segala kebaikan. Allah menunjukkan kebaikan dan kecintaannya kepada semua makhluk, tapi tak semua orang memahami hal ini. Makhluk hanya mencoba untuk mengikuti dan meniru kesempurnaan ilahi sebatas kemampuannya.
 
Meskipun ada banyak keterbatasan, Sang Pencipta tetap mencintai para makhluk, karena selalu berusaha menuju kesempurnaan. Mereka menunjukkan kecintaan kepada Sang Pencipta dengan beribadah. ‎Ketika menyembah, jiwa dapat berkomunikasi dengan Allah. Jiwa berkeluh-kesah tentang kemarau dalam shalat istisqa, sehingga Allah menurunkan hujan. Jiwa bermunajat, memohon ampunan, sehingga jiwa terbebas dari dosa, dan menyingkap tabir ghaib.
 
‎Menurut Ibnu Sina, orang-orang seperti ini golongan yang mencintai Allah. Begitupun sebaliknya, Allah mencintai mereka. Kaum ini hadir sebagai pengganti kelompok atau bangsa yang mengingkari Tuhan (QS al-Maidah: 54). Semoga kita tak termasuk orang-orang ingkar yang tak bisa menghargai makhluk lain, dan hanya pandai menunjukkan keangkuhan serta kerusakan.