Kamis , 20 April 2017, 01:28 WIB

Sekolah di Kantor Desa (3)

Red: Irwan Kelana
Syahruddin El-Fikry/Republika
Para guru MA Bahrul Ulum, Pulau Tello, Nias Selatan.
Para guru MA Bahrul Ulum, Pulau Tello, Nias Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Syahruddin El-Fikri
 
Tak jauh berbeda dengan MTs Darul Muta’allimin, kondisi Madrasah Aliyah (MA) Bahrul Ulum di Desa Rapa-Rapa Melayu, Kecamatan PPB, juga demikian. Pada 2016-2017 ini merupakan angkatan pertama proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di lembaga pendidikan tersebut. Ada 19 siswa yang belajar di sekolah tersebut, terdiri atas 11 siswi dan delapan siswa.

Para siswa belajar di sebuah kantor desa yang tak terpakai, yang berukuran 5x8 meter persegi “Kami belajar seadanya di bangunan ini,” kata Hidayatul Khair, siswa kelas X MA Bahrul Ulum kepada Republika. Namun demikian, hal itu tak menyurutkan niat para siswa untuk meraih impian yang lebih baik di masa depan.

Mereka tetap semangat menuntut ilmu. Tak peduli dengan kondisi sekolah yang dianggap layak atau tidak. “Intinya kami pengen sekolah,” terang Hidayatul Khair. Hidayatul Khair ini memiliki suara sangat bagus.

Bahkan, ia sempat menunjukkan kebolehannya dalam membawakan irama lagu bayyati dan syika saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Khair sendiri merupakan warga desa dari Pulau Bais, Kecamatan Pulau-Pulau Batu. Diperlukan waktu sekitar tiga jam perjalanan yang ditempuh dengan kapal feri untuk sampai ke Pulau Tello. Itu pun harus melalui perjuangan melewati hadangan dan hempasan ombak laut yang sangat tinggi.

Selama di Pulau Tello, Khair menginap di sebuah rumah berdinding kayu yang disulap menjadi asrama. Rumah itu berdiri diatas tanah milik warga yang dipinjamkan kepada Yayasan Wakaf Suluh Nagari selama 15 tahun.

Sementara itu, untuk ruang guru atau peralatan sekolah, mereka menggunakan bangunan sebuah masjid yang sudah tua, namun masih bisa digunakan. Masjid itu bernama Masjid Jami’ Al-Mu’min. Bangunan masjid ini berukuran 8x8 meter. Namun demikian, sejumlah genting atap juga tampak lepas. “Ya, kalau musim hujan, pasti bocor,” kata Abdul Rozak, seorang guru MA Bahrul Ulum.

Sebenarnya, kata Abdul Rozak, pihaknya sudah berulang kali memperbaiki, namun tetap saja mengalami masalah yang sama. Sejumlah semen dan cat bangunan juga tampak mengelupas. “Sulit sekali mengharapkan partisipasi dari warga Muslim di Pulau Tello ini, karena kondisi ekonomi yang memang memprihatinkan,” ujarnya.
 
Berharap uluran tangan donatur
Mereka sangat berharap uluran tangan para dermawan untuk membantu pembangunan sekolah tersebut. “Berbagai upaya sudah kami lakukan, dan alhamdulillah baru ada Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) yang membantu,” kata Muhammad Uzmin, kepala MA Bahrul Ulum.

Bantuan yang diberikan Baznas senilai Rp 75 juta untuk pembangunan sekolah MA Bahrul Ulum. “Kami masih terus mengupayakan, semoga ada donatur lainnya yang membantu,” kata Uzmin. Sebab, kata dia, dana tersebut baru bisa dipergunakan untuk membangun bangunan sekolah, namun belum mencakup untuk pengadaan sarana dan prasarana. “Plafon saja tidak ada, begitu juga dengan kursi atau meja,” ujar pria berusia 38 tahun ini.

Ketua Yayasan Wakaf Suluh Nagari Rilman Talinaho menjelaskan, sebenarnya banyak dana yang diperlukan untuk membuat bangunan menjadi lebih bagus dan layak. Termasuk pembebasan tanah untuk lokasi sekolah. Saat ini, kata dia, bangunan MA Bahrul Ulum baru bisa membangun satu ruang, sedangkan dua ruangan lainnya masih terbuka tanpa dinding, dan baru sampai atap.

Pihaknya ingin sekali bisa membebaskan tanah yang ada di sebelah bangunan MA Bahrul Ulum ini, luasnya 23x30 meter persegi  yang dimiliki oleh warga non-Muslim dan tanah seluas 35x35 yang dimiliki warga Muslim. “Kami khawatir kalau tiba-tiba tanah di sebelah sekolah kami ini dibuat kandang babi, tentu baunya akan sangat tidak enak,” ujarnya.

Rilman menambahkan, saat ini tanah berukuran 23x30 meter  persegi yang dimiliki oleh warga non-Muslim mau dilepaskan dengan harga Rp 50 juta, dan tanah seluas 35x35 meter persegi  yang dimiliki warga Muslim seharga Rp 25 juta. “Semoga kami bisa membebaskannya melalui bantuan dari para donatur,” jelas Rilman.

 

Bersyahadat
Upaya Yayasan Suluh Nagari membentengi dan memperkuat akidah umat Islam di Pulau Tello patut diacungi jempol. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan, mereka tetap berupaya survive. Terbukti, salah satu warga Orahili Kecamatan Teluk Dalam yang bekerja di Pulau Tello sebagai tukang bangunan, memilih berpindah agama dan menganut agama Islam, bernama Yosep Manao.

Republika berkesempatan menyaksikan dan dipercaya tokoh masyarakat dan warga Muslim setempat untuk mengislamkan serta membimbing membacakan dua kalimat syahadat untuk Yosep Manao. Setelah bersyahadat, Republika memberikan nama baru untuknya dengan nama Yusuf Manar Manao. “Saya sangat senang dengan nama ini. Semoga kehidupan saya menjadi lebih baik,” ujar Yusuf Manar Manao.