Kamis , 20 April 2017, 01:19 WIB

Lebih Baik tak Sekolah daripada Jadi Non-Muslim (2)

Red: Irwan Kelana
Syahruddin El-Fikry/Republika
Bangunan masjid dan kantor Desa Rapa-rapa Melayu yang dipakai untuk sarana pendidikan MA Bahrul Ulum, Pulau Tello, Nias Selatan.
Bangunan masjid dan kantor Desa Rapa-rapa Melayu yang dipakai untuk sarana pendidikan MA Bahrul Ulum, Pulau Tello, Nias Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Syahruddin El-Fikri
 
Kondisi bangunan masjid yang dipakai untuk proses KBM MTs Darul Muta’allimin itu memang sudah sangat mengkhawatirkan. Di beberapa titik, semen-semen yang membungkus batako pada bangunan itu sudah mengelupas, cat bangunan juga sudah berwarna-warni dengan gambar bekas rembesan hujan. Genting atap juga tampak menyeruak di beberapa sudut. Jika musim panas, maka sinar matahari langsung masuk ke bangunan, dan bila hujan maka akan bocor.

Lalu pindah ke mana nantinya untuk proses kegiatan belajar mengajar  (KBM)  bila rumah milik warga itu diambil alih pemiliknya? “Sementara akan difokuskan di masjid. Bila tidak, mungkin kita akan cari tempat di dekat Desa Pasar,” kata Surahmat.

“Kami sangat berharap ada bantuan atau donatur warga Muslim di manapun berada, kiranya bisa membantu kami untuk menyiapkan generasi Muslim yang lebih baik di Pulau Tello ini,” kata Umar Bakri, tetua warga Desa Pasar, Kecamatan PPB.

Pria berusia 73 tahun ini dikenal warga sebagai sosok yang amat peduli terhadap kondisi umat Islam dan lembaga pendidikan di Pulau Tello. Dari Umar Bakri pula, warga kemudian bersama-sama mendirikan lembaga pendidikan MTs Darul Muta’allimin tersebut.

“Awalnya memang dari beliau (Umar Bakri, red) untuk mendirikan MTs di sini. Beliau prihatin karena tidak ada lembaga pendidikan setingkat SMP untuk bidang agama. Maka kemudian disepakati warga Muslim se-kecamatan PPB untuk mendirikan MTs Darul Muta’allimin ini,” kata Azir, anak muda setempat yang cukup peduli akan kemajuan umat Islam di Pulau Tello.

 

Azir menjelaskan, banyak para orangtua siswa Muslim di Pulau Tello yang dulunya terpaksa berhenti menyekolahkan anak-anaknya ke tingkat menengah pertama (SMP). Sebab, mayoritas siswa di sekolah negeri yang ada di Pulau Tello beragama non-Muslim. Dan pendidikan agama Islam sangat sedikit diajarkan kepada para siswa. “Daripada menanggung risiko pindah agama, lebih baik tidak menyekolahkan anaknya,” kata Azir mengungkapkan alasan para orangtua siswa Muslim.

Karena sejumlah alasan lainnya pula, kata dia, dan demi mempertegas status keagamaan, maka para siswa di Pulau Tello yang bersekolah di sekolah umum seperti SD, SMP, atau SMA, wajib menggunakan jilbab. Dengan cara itu, ungkapnya, para guru pun kemudian menjadi mudah untuk membedakan antara siswa muslim dan non-Muslim. Hal itu, lanjutnya, juga diberlakukan hampir seluruh wilayah di daerah Kabupaten Nias dan Nias Selatan.

Perwira Polem, tokoh agama setempat mengakui, sebenarnya banyak orangtua yang mengeluh menyaksikan kondisi pendidikan MTs Darul Muta’allimin Pulau Tello itu. Pasalnya, sebagian anak-anak yang bersekolah di MTs tersebut bukan asli dari Pulau Tello. Mereka ada yang berasal dari beberapa pulau terluar yang ada di sekitar Pulau Tello. Karena hanya di Pulau Tello itu ada lembaga pendidikan setingkat SMP yang dimiliki sepenuhnya oleh umat Islam. Dan untuk bisa bersekolah di Pulau Tello itu, para orangtua yang menyekolah anaknya di MTs tersebut menitipkan ke famili mereka. “Jarak antara pulau yang satu dengan yang lain cukup jauh, dan harus melewati tantangan yang cukup besar, yakni ombak,” terangnya.

Bila melihat kondisi sekolah MTs Darul Muta’allimin seperti tergambar diatas, yakni dengan bangunan rumah warga dan masjid yang sudah bocor, bagaimana dengan gaji gurunya? “Di sini tidak dipungut SPP, baik negeri maupun swasta. Semuanya gratis. Adapun untuk gaji, setiap jam pelajaran, para guru dibayar sebesar Rp 20 ribu,” kata Surahmat Pasaribu.

Contohnya adalah dirinya sendiri. Walau menjabat sebagai kepala MTs, dia juga memberikan jam pelajaran. Selama sebulan ada 12 jam pelajaran, dan setiap jamnya dibayar Rp 20 ribu. Jadi dalam sebulan gaji yang diterima sebesar Rp 240 ribu.

Cukup? “Tentu saja tidak cukup. Makanya ada sejumlah guru yang juga berjualan. Ada pula yang sepulang sekolah memetik buah kelapa, atau kerja lainnya,” ungkap Surahmat. Ia menambahkan, semuanya dilakukan demi kemajuan pendidikan untuk warga Muslim di Pulau Tello.

“Lembaga pendidikan di Pulau Tello, Nias Selatan ini memang amat sangat layak dibantu,” kata M Haekal, relawan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang menemani Republika, selama di Pulau Tello untuk melihat dari dekat kondisi sekolah-sekolah Muslim di daerah tersebut.