Selasa , 21 Maret 2017, 09:45 WIB

Fenomena Kevin/Gideon, Beasiswa Djarum dan Mencetak Atlet Olimpiade

Red: Karta Raharja Ucu
Pribadi
Wartawan Republika, Bilal Ramadhan
Wartawan Republika, Bilal Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bilal Ramadhan, Wartawan Republika

Pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon baru saja menjuarai turnamen bulu tangkis tertua dunia, All England, tahun ini dengan penampilan yang memukau. Kevin/Gideon pun banjir pujian berbagai kalangan baik di Indonesia maupun di dunia.

Di babak pertama, Kevin/Gideon yang menjadi unggulan kelima mengalahkan seniornya, Hendra Setiawan, yang berpasangan dengan pemain Malaysia, Tan Boon Heong, dengan skor meyakinkan, 21-12 dan 21-17. Kevin/Gideon juga belum menemui kesulitan di babak kedua melawan pasangan tuan rumah yang lolos dari babak kualifikasi, Peter Briggs/Tom Wolfenden dengan 21-13 dan 21-14. Di babak perempat final, Kevin/Gideon harus melawan unggulan empat dari Cina, Chai Biao/Hong Wei dan ternyata Kevin/Gideon juga melewati laga tersebut dengan kemenangan mudah, 21-16 dan 21-18.

Pertandingan seru terjadi di babak semifinal antara Kevin/Gideon melawan unggulan delapan dari Denmark, Mads Conrad Petersen/Mads Pieler Kolding. Berbagai serangan, pertahanan, dan teknik dari kedua pasangan dapat disaksikan.Pertandingan ketat itu pun akhirnya dimenangkan Kevin/Gideon setelah melewati tiga gim, 19-21, 21-13, dan 21-17.

Kevin/Gideon memastikan gelar juara setelah di partai puncak berhasil mengalahkan pasangan unggulan enam dari Cina, Li Jinhui/Liu Yuchen dengan 21-19 dan 21-14. Prestasi Kevin/Gideon ini menambah daftar panjang keberhasilan ganda putra Indonesia di ajang tersebut.

Gelar yang diraih Kevin/Gideon merupakan yang ke-19 kalinya bagi ganda putra Indonesia di All England. Ganda putra Indonesia pertama kalinya meraih gelar juara di All England 1972 melalui Christian Hadinata/Ade Chandra.

Sebelumnya Kevin/Gideon juara di All England 2017, ganda putra Indonesia terakhir juara di All England 2014 melalui pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Selama digelarnya All England sejak 1899 di Inggeris, Indonesia sudah meraih sebanyak 45 gelar juara di lima nomor. Ganda putra Indonesia merupakan penyumbang gelar juara terbanyak dengan 19 gelar, diikuti tunggal putra dengan 15 gelar.

Lahirnya pasangan Kevin dan Gideon ini juga bukan sebuah kebetulan. Gideon yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-26 tahun pada 9 Maret lalu, lebih dulu masuk Pelatnas yang berasal dari Klub Tangkas Jakarta, di mana ayahnya, Kunia Hu menjadi pelatih di klub tersebut. Di Pelatnas, saat itu ia berpasangan dengan Agripina Pamungkas dan sempat menjuarai dua turnamen yaitu Singapore International Series 2011 dan di Iran International Challenge 2012.

Pasangan ini sempat menduduki peringkat 28 dunia per awal 2013. Gideon sempat keluar dari Pelatnas pada 2013. Kabarnya karena kecewa lantaran tak diturunkan di All England 2013. Setelah keluar dari Pelatnas, Gideon berpasangan dengan pemain senior, Markis Kido yang memang sudah lebih dulu keluar dari Pelatnas.

Rupanya berpasangan dengan Markis Kido, menjadi ajang pembuktian dirinya sebagai pemain tangguh. Tak tanggung-tanggung, Gideon bersama Kido menjadi juara di turnamen France Open Super Series 2013 dan di turnamen Indonesia Masters 2014. Prestasi pasangan ini pun akhirnya membuat rangking menanjak menjadi 18 dunia per Maret 2014.

Atas prestasinya ini, Gideon pun kembali dilirik dan Pelatnas memanggilnya kembali pada 2015. Gideon dipasangkan dengan ‘Si Anak Ajaib’, Kevin Sanjaya Sukamuljo yang saat itu belum memiliki pasangan karena pasangan sebelumnya, Selvanus Geh keluar dari Pelatnas lantaran menderita penyakit paru-paru.

Kevin termasuk pemain muda yang cemerlang. Meski usianya yang belum genap 22 tahun, namun dia sudah menorehkan prestasi dengan menyabet juara di turnamen sekelas All England. Bakatnya memang sudah terlihat saat digembleng klubnya, PB Djarum Kudus pada 2007.

Benar saja, Kevin langsung menyabet medali perak di ajang Kejuaraan Dunia Junior BWF 2009 di nomor ganda campuran berpasangan dengan Masita Mahmudin. Pemain kelahiran 2 Agustus 1995 ini juga menarik perhatian media saat ia bersama pasangannya di ganda putra saat itu, Lukhi Apri Nugroho menjadi finalis Singapore International Series 2011, padahal saat itu ia baru berusia 16 tahun!

Prestasi Kevin lainnya yakni saat meraih medali perunggu di dua turnamen Kejuaraan Asia Junior pada 2012 berpasangan dengan Alfian Eko Prasetya dan pada 2013 dengan Arya Maulana. Setelah itu, ia dipanggil masuk Pelatnas pada 2014 dan berduet dengan Selvanus Geh.

Prestasinya terus mencuat. Pasangan Kevin/Selvanus meraih gelar juara di dua turnamen kelas International Challenge di Vietnam dan Bulgaria pada 2014. Kejutan tak berhenti di situ. Kevin/Selvanus terus mengumpulkan medali kemenangan. Antara lain juara di turnamen New Zealand Open Grand Prix Gold 2014 dan finalis Indonesia Masters 2014. Pasangan ini sempat menduduki peringkat 32 dunia pada Oktober 2014.

Selepas kepergian Selvanus Geh di akhir 2014, Pelatnas mulai memasangkan Kevin dengan Gideon sejak awal 2015. Meski sempat diragukan karena keduanya memiliki tinggi badan yang relatif kecil untuk ukuran atlet, yaitu dengan tinggi badan 170 sentimeter. Tinggi kedua atlet ini relatif lebih pendek dibandingkan para pemain bulu tangkis dunia, namun mereka ternyata saling melengkapi dan mampu membuktikan jika mereka lebih unggul.

Kevin memang dikenal memiliki pukulan-pukulan ajaib dan sangat berperan penting dalam mengatur serangan dengan bola-bolanya di depan net. Sehingga Gideon yang memiliki pukulan yang kencang bisa langsung melakukan eksekusi untuk mematikan bola. Pertahanan pasangan ini juga sangat rapat dan kerap mendapatkan decak kagum dari para penonton maupun komentator yang menyaksikan jalannya pertandingan mereka.

Dalam sebuah percakapan pribadi, secara khusus saya pernah menanyakan kepada Kevin mengenai bola-bola ajaibnya. Kevin mengakui banyak orang yang menyebutnya memiliki pukulan-pukulan yang tak biasa, namun ia sendiri mengatakan tidak mempelajarinya secara khusus.

“Saya juga enggak tahu ya. Saya hanya main saja apa yang saya bisa dan lakukan yang terbaik di lapangan. Ya mungkin anugerah dari Tuhan,” kata Kevin saat itu.

Pasangan Kevin/Gideon langsung mencuat dengan menjuarai turnamen Cina Taipei Masters 2015. Akan tetapi di turnamen dengan kelas yang lebih tinggi yaitu di Cina Taipei Super Series 2015, Kevin/Gideon hanya menjadi finalis.

Pada 2016, Kevin/Gideon mengakhiri tahun tersebut dengan langsung menyodok masuk ke peringkat dua dunia karena menjuarai empat turnamen sekaligus, yaitu Malaysia Masters 2016, India Open Super Series 2016 dan Australia Open Super Series 2016 bahkan turnamen kelas Super Series Premier yaitu di Cina Open SSP 2016. Peringkat Kevin/Gideon sempat melorot menjadi peringkat lima dunia karena absen selama dua bulan di awal 2017. Selain Gideon yang sempat cedera, juga untuk persiapan menuju All England 2017. Ternyata Kevin/Gideon langsung menggebrak dengan menjadi juara serta kini menduduki peringkat 1 dunia.

Gelar ini menjadi ajang pembuktian baik bagi Gideon maupun Kevin. Bagi Gideon, gelar juara ini menjadi pembuktian setelah pada All England 2013, ia tidak diturunkan dan empat tahun kemudian malah berdiri di podium tertinggi di turnamen tersebut. Sedangkan bagi Kevin, yang mungkin menjadi salah satu pemain paling muda yang menjuarai All England dengan usianya yang baru 21 tahun.

Kevin yang masih memiliki hubungan saudara dengan Alvent Yulianto ini memang sejak kecil sudah berlatih bulu tangkis di kampung halamannya di Banyuwangi, Jawa Timur. Hal ini terinspirasi karena adanya lapangan bulu tangkis di belakang rumahnya.

Pada 2006, ia sempat ditolak karena tidak lolos audisi di PB Djarum Kudus. Namun ia tetap berlatih di klub-klub kecil di Banyuwangi hingga akhirnya lolos ke PB Djarum setahun kemudian. Sejak itu bakatnya diasah di PB Djarum Kudus hingga memiliki skill yang mumpuni di usianya yang masih muda.

Tentunya hal ini tidak terlepas dari peran PB Djarum Kudus yang membuka audisi umum untuk meraih beasiswa bulu tangkis dari Djarum Foundation. Awalnya, PB Djarum hanya membuka audisi yang terpusat di Jati, Kudus, Jawa Tengah.

Tapi sejak 2015, Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis digelar di sembilan kota di Tanah Air. Begitupun dengan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2016 juga dilakukan di sembilan kota dengan final audisi di Jati, Kudus.

Tentunya digelarnya audisi di sejumlah daerah ini, membuka kesempatan yang luas bagi para pemain muda di daerah-daerah. Pasalnya sembilan kota tersebut mewakili pulau-pulau besar di Indonesia seperti Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Seperti pada Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2017, Pekanbaru akan mewakili audisi di Sumatra pada 25-27 Maret 2017, Banjarmasin akan mewakili audisi di Kalimantan yaitu pada 8-10 April 2017 serta audisi Manado yang mewakili Sulawesi yaitu pada 6-8 Mei 2017.

Selebihnya audisi dilanjutkan ke Cirebon dan Solo pada 22-24 Mei 2017, Purwokerto serta Surabaya 5-7 Agustus 2017. Seluruh peserta yang terpilih dari audisi kota-kota tersebut, akan menjalani final audisi di Jati, Kudus pada 5-7 September 2017 mendatang.

Dan yang lebih spesial, ternyata Audisi Umum Djarum tahun ini meniadakan kelompok umur pemain di bawah 15 tahun atau U-15. Khusus tahun ini, audisi umum Djarum membidik para pemain untuk kelompok umur di bawah 13 tahun (U-13) dan kelompok umur di bawah 11 tahun (U-11) yang baru dilakukan tahun ini.

Saat jumpa pers Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2017 beberapa waktu lalu, Program Manajer Bakti Olahraga Djarum Foundation, Budi Darmawan menjelaskan PB Djarum memang akan memfokuskan terhadap para pemain di bawah 13 tahun.

Bahkan Manajer Tim PB Djarum Kudus, Fung Permadi juga optimistis dengan pembinaan para pemain di usia dini untuk membidik lahirnya pemain yang akan menjadi Juara Dunia Junior BWF dengan usia di bawah 19 tahun. “Target utama kami ingin menelurkan Juara Dunia Junior U-19. Karena itu, butuh waktu 7-8 tahun untuk membina mereka. Kalau yang di bawah 15 tahun, sudah banyak di klub," jelas Fung Permadi.

Tentunya pola pembinaan seperti ini sangat baik dalam melakukan regenerasi pemain. Sehingga regenerasi angkatan pemain tidak terputus 1-2 generasi, seperti yang sebelumnya terjadi di bulu tangkis.

Pola pembinaan pemain sejak usia dini memang perlu dilakukan. Pola ini bisa menjadi pembinaan jangka panjang. Untuk Asian Games 2018, mungkin Indonesia masih akan mengandalkan para pemain senior untuk merebut medali. Namun Pada Olimpiade 2020, para pemain senior sudah tidak bisa lagi diharapkan seiring dengan pertambahan usia mereka dan para pemain muda akan memegang peranan penting di ajang antar bangsa tersebut.

Pola pembinaan sejak dini seperti yang dilakukan PB Djarum ini  juga seharusnya bisa dilakukan oleh cabang olahraga lainnya, khususnya yang selama ini menyumbangkan medali di Olimpiade. Tentunya juga didukung oleh perusahaan swasta atau perusahaan BUMN sebagai penyokong dana. Sejauh ini ada tiga cabang olahraga yang telah menyumbangkan medali untuk Indonesia di ajang Olimpiade yaitu bulu tangkis, angkat besi dan panahan.

Olahraga panahan merupakan cabang yang pertama kali mempersembahkan medali untuk Indonesia yaitu medali perak beregu putri di Olimpiade 1988 melalui Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani. Memang kini prestasi panahan meredup dan tidak pernah lagi memberikan medali di ajang olimpiade, tapi keberadaan pemanah muda, Riau Ega Agatha Salsabila yang membuat kejutan di Olimpiade 2016 dengan mengalahkan juara dunia asal Korea Selatan, Kim Woo-jin di babak kedua, cukup untuk memberikan 'angin segar' adanya regenerasi dari cabang tersebut. Meski akhirnya terhenti di babak 16 besar, tapi langkah Ega masih panjang dan masih bisa berkiprah di Olimpiade 2020 mendatang.

Sedangkan di angkat besi sudah tidak diragukan lagi regenerasinya. Sejak Olimpiade 2000, cabang angkat besi selalu memberikan medali untuk Indonesia hingga Olimpiade 2016 lalu. Dalam Olimpiade 2000, total angkat besi meraih tiga medali. Raema Lisa Rumbewas mempersembahkan medali perak kelas 48 kilogram putri, sedangkan perunggu didapat dari Sri Indriyani di kelas yang sama dengan Lisa serta medali perunggu dari Winarni melalui kelas 53 kilogram putri.

Di Olimpiade 2004, angkat besi berhasil meraih medali perak melalui Raema Lisa Rumewas di kelas 53 kilogram putri. Dua lifter Indonesia juga berhasil meraih medali perunggu di Olimpiade 2008 melalui Eko Yuli Irawan di kelas 56 kilogram putra dan Triyatno di kelas 62 kilogram.

Triyatno mempersembahkan medali perak di Olimpiade 2012 di kelas 69 kilogram, sedangkan Eko Yuli Irawan kembali meraih medali perunggu di kelas 62 kilogram putra. Eko Yuli kembali meraih medali perak di Olimpiade 2016 di kelas 62 kilogram putra serta Sri Wahyuni yang meraih medali perunggu di kelas 48 kilogram putri.

Tiga cabang ini, tanpa mengecilkan cabang olahraga lainnya, harus terus dibina dan ditingkatkan lagi pembinaannya.  Karena bukan tidak mungkin, Indonesia akan menambah perolehan medali di Olimpiade ke depannya. Pola pembinaan yang dilakukan di bulu tangkis, salah satunya melalui Beasiswa Djarum Bulu Tangkis sepertinya juga harus dilakukan di cabang angkat besi dan panahan. Dan kemudian bisa diterapkan di cabang lainnya.