Senin , 20 March 2017, 15:53 WIB

Jangan Terlena!

Red: Agus Yulianto
Republika/ Wihdan
Wartawan Senior - Nurul Hamami
Wartawan Senior - Nurul Hamami

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh : Nurul S Hamami, Wartawan Senior Republika

Smes pertama Marcus masih gagah dikembalikan oleh Liu Yuchen. Smes berikutnya dari Kevin juga masih bisa dikembalikan dengan enak oleh pemain jangkung Cina itu. Tapi sebuah //chop// kembalian Kevin mulai membuat kaki dan tangan kanan Liu goyah. Pengembalian //cock//-nya tanggung. Smes kedua Marcus pun tak lagi bisa dikembalikan Liu dengan sempurna. //Cock// menyangkut di net.

Li Junhui, teman main Liu, hanya bisa berdiri tanpa bisa membantu. Di detik-detik terakhir permainan, //cock// memang tidak diarahkan kepadanya. Marcus dan Kevin “menghabisi” Liu dengan empat pukulan dan selesailah duel final ganda putra All England 2017 di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, Ahad (12/3) jelang tengah malam WIB. Marcus Fernaldi Gideon-Kevin Sanjaya Sukamuljo menjadi juara baru di turnamen tertua di dunia itu, lewat kemenangan 21-19 dan 21-14.

Jutaan pasang mata yang menyaksikan langsung pertandingan tersebut melalui layar televisi, pastilah bisa tidur nyenyak malam itu. Selama 35 menit jantung berdegup kencang melihat duel hidup-mati kedua pasangan. Permainan cepat yang diperagakan keduanya kerap membuat badan enggan beranjak dari tempat duduk. Saling menambah poin terjadi. Hingga waktu interval gim kedua, Li dan Liu masih memberi perlawanan keras. Kalau Marcus-Kevin kalah, mungkin kekecewaan akan terbawa sampai ke tempat tidur.

Marcus/Kevin menjadi pasangan ke-11 Indonesia yang berhasil mencatatkan dirinya di daftar juara ganda putra All England. Christian Hadinata/Ade Chandra adalah pasangan pertama yang berhasil menjadi juara pada 1972. Ketika itu, pertandingan masih dimainkan di Wembley Arena, London. Banjir hadiah langsung menghampiri Marcus/Kevin. Tidak hanya sebanyak 23.700 dolar AS sebagai uang hadiah turnamen, mereka juga mendapat masing-masing Rp 250 juta dari pemerintah melalui Menpora. Selain itu, PP PBSI juga menambah kocek mereka Rp 75 juta setiap orangnya.

Marcus/Kevin layak mendapat ganjaran tersebut. Kehadiran mereka di final dan menjadi juara, membuktikan bahwa Indonesia “masih ada” di pentas bulu tangkis bergengsi dunia. Setelah ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto tersingkir di babak pertama dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menyerah di perempat final, harapan satu-satunya memang tinggal bertumpu pada Marcus/Kevin. Padahal sebelumnya, satu gelar diharapkan datang dari Jordan/Debby atau Tontowi/Liliyana. Jordan/Debby datang sebagai juara bertahan, sedangkan Tontowi/Liliyana adalah juara Olimpiade Rio 2016.

Kemunculan Marcus/Kevin menjadi juara di turnamen World Superseries Premier (WSP)–turnamen berkategori tertinggi—ini sekaligus menandakan suksesi di ganda putra nasional berjalan mulus. Setelah pudarnya masa keemasan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan tahun lalu yang disusul dengan mundurnya Hendra dari pelatnas, Marcus/Kevin beserta beberapa pasangan di pelatnas menjadi tumpuan Indonesia.

Marcus/Kevin memang yang paling diharapkan untuk segera mengambil alih tongkat estafet dari Ahsan/Hendra. Ini setelah keduanya mencatat performa mengesankan sepanjang 2016. Meski baru dipasangkan selama dua tahun, tapi Marcus/Kevin sudah berhasil meraih tiga gelar juara, sekali semifinal, dan empat kali perempat final.

Sebelumnya, Marcus yang berasal dari PB Tangkas berpasangan dengan Markis Kido –juara ganda putra Olimpiade Beijing 2008 bersama Hendra. Kevin yang merupakan atlet binaan hasil Audisi Umum PB Djarum 2007, sebelumnya berpasangan dengan Selvanus Geh.

All England 2015 adalah turnamen internasional pertama Marcus/Kevin. Mereka berhasil menembus perempat final di bulan Maret itu. Dengan perolehan 6.050 poin, peringkat keduanya pun langsung bertengger di tangga ke-182 dunia. Sepekan kemudian mereka langsung melejit ke peringkat 115 setelah tampil sebagai semifinalis di Swiss Terbuka. Di akhir tahun 2015, Marcus/Kevin sudah mampu berdiri di peringat 16 dunia dengan satu gelar Cina Taipei Grand Prix dan dan //runner-up// di Cina Taipei Terbuka.

Lewat sejumlah pencapaian mengesankan pada 2016, peringkat mereka sudah berada di nomor 2 dunia di bawah Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia) di akhir tahun. Tiga gelar yang direbut di 2016 adalah India Terbuka World Superseries (WS), Australia Terbuka WS, dan Cina Terbuka WSP. Lantaran absen di empat turnamen awal tahun pada Januaria-Februari, peringkat Marcus/Kevin merosot ke posisi 5 pada pekan kesepuluh 2017. Namun, dengan pencapaian di All England kali ini, peringkat keduanya langsung melejit ke nomor satu sejak pekan lalu.

India Terbuka

Walaupun Olimpiade Tokyo 2020 masih jauh, tapi tepat bila PP PBSI sudah memproyeksikan Marcus/Kevin tampil di sana. Usia mereka masih tergolong muda. Marcus di 9 Maret lalu tepat menginjak usia 26 tahun. Sedangkan, Kevin baru pada 2 Agustus nanti genap berusia 21 tahun. Pada tiga tahun ke depan, diharapkan mereka sudah matang-matangnya dalam permainan.

Jalan memang masih panjang bagi Marcus/Kevin untuk melanjutkan tradisi medali emas olimpiade dari cabang bulu tangkis. Oleh karenanya, mereka tak boleh terlena dengan sejumlah pencapaian yang terbilang bagus dalam dua tahun terakhir ini. Disiplin pada diri sendiri menjadi kunci untuk terus meningkatkan performa di lapangan pertandingan. Jangan cepat puas dengan apa yang sudah didapat selama ini.

Bagi PBSI, Marcus/Kevin adalah aset berharga untuk menjadikan bulu tangkis Indonesia disegani di pentas dunia. Mesti ada upaya-upaya ekstra keras pula untuk terus meningkatkan permainan mereka sehingga bisa stabil berprestasi hingga tiga atau empat tahun ke depan. Olimpiade adalah sasaran jangka panjangnya.

Tak ada waktu untuk berleha-leha bagi Marcus/Kevin. Masih ada sebelas turnamen superseries sepanjang 2017 ini dan ditutup dengan Putaran Final di Dubai pada akhir tahun. Turnamen India Terbuka WS di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, sudah menunggu. Marcus/Kevin hanya punya waktu sepuluh hari untuk menyiapkan diri sepulang dari Inggris. Pada pekan depan mereka akan tampil di turnamen berhadiah total 325 ribu dolar AS ini.

India Terbuka akan menjadi ujian bagi Marcus/Kevin terhadap rival-rival utama yang mereka hadapi di All England lalu. Bila tak ada sandungan di babak-babak awal, keduanya diperkirakan bakal berjumpa lagi dengan Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding (Denmark) yang merka kalahkan di semifinal All England. Besar kemungkinan pula calon lawan yang bakal dihadapi di final adalah Li Junhui/Liu Yuchen.

Pada babak-babak awal semestinya Marcus/Kevin bisa melewatinya dengan baik. Di babak pertama dia akan bertemu dengan Chen Hung Ling/Wang Chi-Lin. Ganda Cina Taipei peringkat 14 dunia ini mereka kalahkan di perempat final India Terbuka tahun lalu. Itulah satu-satunya pertemuan kedua pasangan dalam karier mereka.

Pada babak kedua kemungkinan besar lawan yang akan dihadapi adalah Takuto Inoue/Yuki Kaneko. Pasangan asal Jepang peringkat 26 dunia itu sudah pernah mereka kalahkan di Cina Taipei Terbuka 2015. Kala itu Marcus/Kevin menang 21-19, 21-18.

Barulah di perempat final Marcus/Kevin akan bertemu lawan berat yang kemungkinannya adalah Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov. Ganda Rusia pemegang peringkat 12 dunia ini adalah juara All England tahun lalu. Namun, di All England tahun ini, Ivanov/Sozonov disingkirkan Conrad-Petersen/Pieler Kolding di babak pertama.

Bila duo Mads tersebut mulus di babak-babak awal, maka ulangan semifinal All England dua pekan lalu bakal terjadi di India Terbuka. Mereka berpeluang besar bertemu kembali dengan Marcus/Kevin di semifinal. Tentu ada aroma balas dendam dari ganda Denmark itu bila pertemuan kembali dengan Marcus/Kevin terjadi di New Delhi.

Memang tidak mudah juga bagi Marcus/Kevin bila kembali bertemu dengan duo Mads. Duel di semifinal All England lalu berakhir tiga gim dan mereka sempat kalah di gim pertama. Bahkan, partai ini tampak lebih berat bagi Marcus/Kevin bila dibandingkan ketika menghadapi Li Junhui/Liu Yuchen di final.

Kesempatan pertemuan kembali Li/Liu dengan Marcus/Kevin di New Delhi terbuka lebar. Itu tentu saja dengan catatan ganda Cina peringkat 6 dunia ini berturut-turut mampu mengatasi Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen (Denmark), Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia), Ricky Karanda Suwardi/Angga Pratama, atau Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark).

Kalaulah memang akhirnya bertemu di partai final India Terbuka, ini akan menjadi duel sengit kembali bagi Marcus/Kevin dan Li Junhui/Liu Yuchen. Pastinya penonton akan mendapat tontonan mendebarkan sekaligus menghibur lewat aksi pukulan-pukulan kedua pasangan yang luar biasa.