Sabtu , 18 March 2017, 10:46 WIB

Inggris Melempem di Liga Champions

Red: Didi Purwadi
AP Photo/Claude Paris
Striker Manchester City Sergio Aguero (tengah) terlihat kecewa seusai timnya tersingkir dari Liga Champions.
Striker Manchester City Sergio Aguero (tengah) terlihat kecewa seusai timnya tersingkir dari Liga Champions.

Oleh: Gilang Akbar Prambadi
Wartawan Olahraga Republika

MONAKO -- Gelar juara Liga Champions yang direngkuh Chelsea 2012 silam jadi pencapaian terakhir bagi klub Liga Primer Inggris berjaya di Eropa. Sudah empat musim lamanya, Liga Primer Inggris yang banyak diklaim sebagai kompetisi ketat di dunia itu tak punya juara Liga Champions.

Jangankan bicara juara, perwakilan Liga Primer Inggris di partai semifinal saja amatlah langka. Dalam dua musim terakhir hanya Chelsea dan Manchester City yang mampu mencapai semifinal Liga Champions. Chelsea melakukannya musim 2013/2014, sementara City 2015/2016. Itu pun mereka tak mampu melangkah ke partai puncak.

Bila dibandingkan dengan Bundesliga Jerman dan La Liga Spanyol, pencapaian Liga Primer Inggris yang amat berjaya sebelum 2013 di Liga Champions amat menurun. Tanpa bermaksud menyampingkan Serie A Italia, langkah klub-klub Jerman dan Spanyol belakangan jauh lebih mentereng.

Italia hanya mengirim satu wakil yang selalu sendirian berkelana di babak penting liga Champions. Duta Negeri Pizza tersebut adalah sang raja scudetto, Juventus. Meski klub Serie A sudah lama tak jadi juara sejak AC Milan melakukannya 2007 silam, tapi lewat Juve, Italia hampir berbangga dua musim lalu. Itu terjadi ketika Bianconerri ke final 2014/2015 tapi dikalahkan Barcelona 1-3.

Soal Spanyol dan Jerman, mereka selalu konsisten mengirim wakilnya hingga ke semifinal bahkan final. Perwakilan Spanyol misalnya, kini tak hanya dua seteru abadi, Real Madrid dan Barcelona. Ada Atletico Madrid yang dalam tiga musim terakhir ini selalu mencicipi babak semifinal. Bahkan, dua musim di antaranya mereka sukses ke partai puncak. Sayang, gelar juara selalu jatuh ke Madrid yang dua kali mereka jumpai di fase pamungkas.

Sementara Jerman, walau nyaris hanya selalu menitipkan nama lewat Bayern Muenchen, langkah mereka konsisten dalam berprestasi. Sejak terjadi all Deutsch final pada musim 2012/2013 saat Muenchen bertemu dengan Borussia Dortmund, nama klub bundesliga selalu ada di semifinal. Hanya saja memang, Muenchen yang jadi duta Jerman di semifinal belum bisa menembus partai final.

Sorotan tajam pun mengarah ke Liga Primer Inggris yang tim-timnya tampak kuat di dalam negeri tapi keropos saat berkompetisi di luar. Liga yang kini diisi oleh manajer-manajer top spesialisasi Liga Champions seperti Jose Mourinho, Josep Guardiola hingga Juergen Klopp ini tak bisa menjaga nama baiknya di Eropa.

Musim ini, Inggris sama seperti Italia dengan hanya mengirim satu wakil ke babak perempat final. Tim yang gemar menuliskan kisah mustahil di sepak bola, Leicester City jadi penyelamat muka Liga Primer Inggris di panggung kompetisi Benua Biru.

Kritik pernah dilemparkan oleh eks bintang Liga Primer Inggris, Gareth Bale, belum lama ini. Menurut Bale, sistem Liga Primer Inggris yang mengeksploitasi klub-klub untuk bertarung ketat di ragam ajang lokal jadi sebab melempemnya prestasi di tingkat internasional.

Bale yang pernah bermain di Inggris bersama Tottenham Hotspur ini mengatakan, stamina para pemain klub Liga Primer Inggris kerap kedodoran tiap memasuki paruh musim kedua. Hal itu karena mereka masih sibuk bermain pada musim dingin di saat kompetisi liga lainnya justru sedang beristirahat. Selain harus melakoni jadwal liga, klub Inggris juga disibukkan oleh kompetisi Piala FA dan Piala Liga.

Akibatnya, menurut dia, performa klub-klub Inggris selalu menurun ketika kompetisi Eropa seperti Liga Champions dan Liga Europa memasuki fase gugur. "Saya tahu sebabnya, mereka harus selalu 100 persen di setiap laga, tapi itu sulit dan membuat mereka kelimpungan di Eropa," kata Bale dikutip dari AS.

Pemain asal Wales ini menjelaskan, penampilan klub-klub asal La Liga Spanyol lebih konsisten di Eropa karena punya istirahat cukup. Menurutnya, rehat pada pergantian tahun amat menguntungkan karena stamina bisa terisi lagi. Demikian juga dengan Jerman.

"Prestasi Madrid, Barcelona dan Atletico konsisten di Eropa, juga ada tim Liga Jerman. Inggris memang berbeda dan mereka harus bisa mengatasinya," ujar Bale.