Sabtu , 04 February 2017, 12:01 WIB

Menutup Bangkai Sepak Bola Gajah

Red: Agus Yulianto
Dok. Republika
Angga Indrawan, wartawan Republika
Angga Indrawan, wartawan Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Wartawan Republika:  Angga Indrawan  (angga@rol.republika.co.id)

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi memaafkan para pelaku sepak bola gajah. Para pemain dan ofisial kedua klub dipulihkan statusnya dan diperkenankan kembali merumput. 23 orang dari PSS Sleman, dan 13 lainnya dari PSIS Semarang. Mereka dimaafkan setelah kurang dua tahun dicabut dari habitatnya: bola dan lapangan hijau.

Sepak bola gajah pernah menjadi drama menjijikan menista sepak bola Indonesia. Bayangkan, pernahkah Anda membayangkan ada dua tim sepak bola saling bermain demi untuk kalah?

Sepak bola gajah terjadi antara PSS Sleman Vs PSIS Semarang. Dimainkan pada laga penutup babak 8 besar Divisi Utama, Ahad 26 Oktober 2014. Skor berakhir 3-2 untuk kemenangan PSS Sleman. 'Hebatnya', lima gol yang tercipta di Stadion Sasana Krida AAU itu tercipta dari gol bunuh diri. Sekali lagi, gol bunuh diri. Kedua tim sama-sama menolak menang menghindari Pusamania Borneo FC di semi final.

Praktik sepak bola gajah terkorelasi dengan sejumlah praktik pengaturan skor. Kedua hal itu menjadi bau tidak sedap yang tak pernah terungkap di mana sumbernya (baca: dalangnya). Konfigurasi perjudian dalam sepak bola gajah nyata terlihat. Tapi ia ibarat kentut, tercium jelas, tapi entah dari lubang dubur siapa dia keluar.

Penulis buku sekaligus pakar negosiasi asal Amerika, Roger Fisher dan William Ury menulis satu catatan mengenai konflik dan negosiasi. Dalam bukunya, Negotiating Agreement Without Giving (1981), ia menyebut masa lalu adalah sesuatu yang harus diatasi atau ditinggalkan. Hanya ada satu pilihan, masa lalu atau masa depan.

Namun, Fisher tak menutup mata bahwa ada kalanya persoalan yang terjadi pada masa lalu tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Ia butuh didamaikan (reconciling the past), atau paling tidak masa lalu itu berhasil dinegosiasikan (the negotiated past).

Ditarik dalam konteks sepak bola gajah, akan menjadi pertanyaan menarik, apa alasan sesungguhnya PSSI menutup kasus sepak bola gajah ini? Jujurkah PSSI menutup kasus sepak bola gajah sebagai upaya melupakan masa lalu? Lantas, terungkapkah siapa dalang sepak bola gajah itu? Sederet pertanyaan itu tentu harus dijawab dengan pasti oleh Ketua PSSI, Edy Rahmayadi. Jika tidak, barang tentu keputusan itu lahir karena sesuatu yang telah 'dinegosiasikan'. Ini penting dijawab sebab sepak bola gajah tak semata-mata soal masa lalu. Ia adalah bayang-bayang. Dia akan terus menghinggap dalam semangat reformasi sepak bola nasional.

Sebenarnya akan menjadi perkara mudah bagi PSSI untuk mencari siapa dalang sepak bola gajah. Bukankah AS Sukawijaya (Manajer PSIS Semarang) kini menjadi Komite Eksekutif PSSI. Dalam logika sederhana, tak mungkin rasanya seorang petinggi klub tak tahu persoalan yang sesungguhnya terjadi.

PSSI pun, jika memang memiliki political will yang kuat, akan menjadikan penghapusan hukuman terhadap pemain sebagai posisi tawar untuk mereka wajib berani mengungkap siapa dalangnya. Lagi-lagi, bola kini di tangan Edy Rahmayadi. Pertanyaannya, beranikah dia?

Ketua PSSI, yang jadi harapan masyarakat, satu hal yang perlu diingat, sepak bola gajah adalah skandal besar. Ia pernah menjadi perhatian besar pemerintah. Kemenpora pernah coba mengusut ini dengan membentuk Tim Sembilan. Anggarannya Rp 2 miliar--meski diakui dalam pelaksanaannya tak lebih menyedot Rp 800 juta. Tapi seberapa pun itu, ratusan juta itu uang rakyat. PSSI berhak menagih apa yang sudah dikerjakan Kemenpora saat itu.

Masyarakat pecinta sepak bola menagih gebrakan nyata PSSI dalam melawan mafia sepak bola. Pada intinya, sepak bola gajah begitu mahal jika hanya selesai dengan kata maaf.