Sabtu , 05 November 2016, 07:00 WIB

Aksi Damai Bermartabat

Red: Maman Sudiaman
Antara/Wahyu Putro A
Massa memadati kawasan bundaran air mancur saat aksi 4 November di Jakarta, Jumat (4/11).
Massa memadati kawasan bundaran air mancur saat aksi 4 November di Jakarta, Jumat (4/11).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Fery Kisihandi (Wartawan Republika)

Di bawah naungan langit cerah, ratusan ribu titik putih bergerak meninggalkan Masjid Istiqlal. Usai menunaikan shalat Jumat di sana, massa bergerak menuju Istana Merdeka. Aliran titik putih memenuhi setiap sudut jalan menuju Istana.

Aliran dari arah lainnya juga terlihat bergerak ke arah yang sama. Mereka membentuk barisan rapi menuju satu titik tujuan meski berasal dari afiliasi organisasi berbeda. Ada pula orang yang berasal dari luar Jakarta yang menempuh perjalanan berjam-jam, masuk lautan massa.

Takbir dan shalawat mengalun. Bendera merah putih mengiringi langkah mereka. Tak ada emosi yang meledak-ledak. Aksi yang sama juga berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. Mereka menolak penistaan terhadap kitab suci mereka, Alquran.

Ini bukan aksi massa biasa. Muncul ukhuwah di tengah aksi. Ada relawan yang siaga di posko kesehatan. Siap memberikan pertolongan bagi peserta aksi yang membutuhkan bantuan. Sebagian lainnya, membagikan makanan dan minuman.

Masyarakat secara spontan menyalurkan beragam donasi baik dalam bentuk uang ataupun makanan. Bahkan ada dapur umum yang menyediakan makanan bagi peserta aksi. Siapa yang memasak? Mereka adalah relawan yang tergerak hatinya ikut bagian dalam aksi akbar ini.

Tak ada pula sampah yang tercecer. Sebab, sejumlah peserta sengaja menyediakan kantong sampah dan sapu lidi. Mereka menampung atau memunguti sampah di sepanjang rute menuju lokasi utama aksi massa agar tak ada sampah menggunung atau terserak.

Terdapat sebuah foto yang menggambarkan seorang ibu dan dua anaknya yang mengesankan. Sang ibu terlihat memegang kantong plastik besar untuk menampung sampah sedangkan dua anaknya membagi-bagikan tisu.

Dai kondang Abdullah Gymnastiar, juga memimpin santrinya, memastikan sampah tak tertinggal di lokasi berkumpul atau rute aksi massa. Mengenakan kemeja putih berlengan panjang dan bersarung, ia menenteng sapu lidi memimpin pembersihan sampah.

Dengan aksi yang damai ini, umat Islam berusaha menepis kekhawatiran berlebihan yang berembus menjelang aksi berlangsung. Sebelumnya, ada kekhawatiran terjadi anarki dan bahkan terjadi pelabelan mereka yang ikut adalah kelompok garis keras.

Umat Islam mencintai negerinya tak mungkin berbuat ricuh di tanah kelahirannya sendiri. Mereka juga mencintai agamanya. Karena itu mereka menentang penistaan terhadap kitab sucinya yang dilakukan seorang gubernur.

Gerakan massa ini merupakan respons atas penistaan itu. Umat Islam menuntut keadilan agar pelaku penistaan diproses secara hukum. Jadi, ini desakan agar pemerintah menegakkan hukum untuk semua. Umat menghendaki hidup dalam kebinekaan yang bermartabat.

Hidup dalam wadah keberagaman di mana semua pihak menghormati satu sama lainnya. Tak ada penistaan atas keyakinan atau agama yang dianut oleh warga lainnya sehingga tak ada benturan akibat ketidakpekaan satu pihak terhadap pihak lainnya.

Sayang, niatan perwakilan aksi massa untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo, tak terwujud. Padahal, mereka ingin secara langsung menyampaikan aspirasinya kepada Presiden. Presiden memilih meninggalkan Istana beberapa jam sebelum massa tiba.

Presiden ke Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten untuk meninjau perkembangan pembangunan kereta bandara.

Menarik apa yang dikatakan cendekiawan Muslim, Didin Hafiduddin yang juga ikut aksi massa, soal ketiadaan Presiden. Menurut dia, Presiden harusnya menemui massa sebab yang datang ke Istana adalah rakyatnya sendiri bukan musuh.

Kita pun menyayangkan situasi damai yang telah terbangun sejak pagi hingga menjelang Maghrib, ternoda oleh kericuhan yang dipicu sekelompok orang. Kita meminta aparat keamanan untuk menindak tegas para provokator dan perusuh yang punya tujuan tujuan tertentu di luar aspirasi damai yang disampaikan umat.