Selasa , 04 Oktober 2016, 13:01 WIB

Menpar: Indonesia Masih Kurang 4.800 Pemandu Wisata

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Winda Destiana Putri
Republika/Agung Supriyanto
Menteri Pariwisata, Arief Yahya (Republika/Agung Supriyanto)
Menteri Pariwisata, Arief Yahya (Republika/Agung Supriyanto)

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menyampaikan peran penting pramuwisata atau pemandu wisata dalam kemajuan pariwisata nasional. Sertifikasi pemandu wisata menjadi keharusan yang dimiliki dalam memandu para wisatawan baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara.

"Dari 15 ribu (pramuwisata), yang baru disertifikasi hanya 10 ribu, itu yang harus kita teruskan sertifikasi," ujarnya di Hotel Lombok Raya, Kota Mataram, NTB, Senin (3/10).

Ia menilai, jumlah pramuwisata sebanyak 15 ribu masih belum dirasa cukup. Menurutnya, angka ideal pramuwisata masih kurang 4.800 orang untuk kebutuhan pariwisata nasional.

Bagi daerah yang sudah memiliki banyak pramuwisata, maka strategi Kemenpar adalah meningkatkan kualitas dengan cara sertifikasi. "Bagi yang belum memiliki pramuwisata, kita harus mencetak pramuwisata," lanjutnya.

Ia mencontohkan, Manado yang menjadi destinasi baru bagi turis asal Cina, di mana sekitar 10 ribu wisman berkunjung ke Manado dalam sebulan.

"Oleh karena itu, kita akan mencetak sebanyak mungkin pramuwisata berbahasa mandarin," paparnya.  Untuk Lombok, lanjutnya, telah memiliki sekitar 750 pramuwisata, namun ia menduga sepertiganya belum disertifikasi.

Ia menambahkan, apabila pariwisata telah ditetapkan sebagai core atau inti bisnis dari Indonesia, maka bisa berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi bangsa ini.

"Ketika pariwisata seandainya ditetapkan presiden sebagai core bisnis, dampaknya akan sangat bagus apalagi untuk daerah seperti Lombok," katanya menambahkan.