Senin , 01 Agustus 2016, 11:16 WIB

Saatnya Sambungkan Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata

Red: Dwi Murdaningsih
Antara/R Rekotomo
Sejumlah pengunjung menyaksikan atraksi liong dan barongsai pada kirab perayaan kedatangan Laksamana Cheng Ho (Sam Poo Tay Djien) ke-606, di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Jawa Tengah.
Sejumlah pengunjung menyaksikan atraksi liong dan barongsai pada kirab perayaan kedatangan Laksamana Cheng Ho (Sam Poo Tay Djien) ke-606, di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID,  SEMARANG -- Perayaan 611 tahun Laksamana Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong Gedung Batu dan Tay Kak Sie Gang Pinggir, Semarang berlangsung semakin heboh. Staf Ahli Bidang Multikultur Kementerian Pariwisata, Hary Untoro Drajad mengatakan event rutin ini sudah layak menjadi atraksi budaya yang bisa dipromosikan ke mancanegara. Tentu, harus dikoneksi dengan industry pariwisata, seperti airlines, hotel dan akomodasi, restoran – kafe, transport lokal, guide atau pramu wisata, atraksi destinasi yang lain, yang juga harus dibangun agar bisa dieksplorasi lebih dalam.

Mengenang Budaya Cina dari Napak Tilas Laksmana Cheng Ho

“Kami sudah menjual paket tur Cheng Ho. Paket-paket wisata bahari dengan Yacht atau Cruise yang mengunjungi tompat-tempat yang pernah disinggahi Admiral Cheng Ho, start dari Bali, Batam, dan Jakarta,” jelas Harry Untoro.

Ribuan orang Ahad (31/7) sudah arak-arakan sepanjang 6 kilometer. Mereka mengenakan baju-baju oriental, wajah dicoreng-moreng, sejak pukul 02.00 WIB mereka sudah persiapan untuk aneka kostum itu. Semua unsur masyarakat pun ikut meramaikan peristiwa budaya dan sejarah yang setiap tahun diperingati dan menjadi agenda tetap di Kota Lumpia itu.

Prosesi arak-arakan sendiri berlangsung meriah, menghibur dan tidak meninggalkan kesan ritualnya. Sabtu (30/7) acara difokuskan di Sam Poo Kong, dari pentas seni, budaya, bazar, sampai pesta kembang api pukul 00.00 WIB. Ribuan orang berjubel, datang dan pergi di halaman besar Sam Poo Kong itu. Di Tay Kek Sie yang sempit di Gang Lombok, juga ada doa dan pentas seni dari pukul 07.00 hingga 00.00 WIB.

Sedangkan Ahad (31/7), prosesi arak-arakan berlangsung ramai. Mereka berjalan kaki sejak pukul 05.00 WIB dari Klentheng Tay Kak Sie Gg. Lombok - Gg. Warung - Jl. Kranggan Timur - Jl. Kranggan Barat - Jl. Depok - Jl. Pemuda - Tugu Muda - Jl. MGR Sugijopranoto - Taman Madukoro - Jl. Bojongsalaman - Jl. Simongan - Klentheng Sam Poo Kong. Sorenya, pulang dengan mobil Pukul 13.00 WIB dari Klentheng Sam Poo Kong - Jl. Simongan - Jl. Bojongsalaman - Taman Madukoro - Jl. Indraprasta - Jl. Piere Tendean - Jl. Pemuda - Jl. Gajahmada - Jl. Kranggan Barat - Jl. Kranggan Timur.

Lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki dari Jl. Beteng - Jl. Wotgandul Barat - Jl. lnspeksi - Jl. Sebandaran I - Jl. Wotgandul Timur - Gg. Baru - Gg.  Cilik - Gg. Gambiran - Gg. Pinggir - Klentheng Tay Kak Sie. “Tradisi ini sudah lama, dari tahun ke tahun, dan masyarakat mengapresiasi dengan baik,” kata Harry Untoro Drajad, Staf Ahli Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata RI yang ikut dalam proses itu.

Ada Paket Kluster Nusantara (9-12 Hari), dari Denpasar – Surabaya – Semarang – Cirebon – Jakarta – Bangka Belitung – Palembang – Batam – Banda Aceh – Batam/Jakarta. Lalu dilanjutkan dengan heritage city tour per kota destinasinya. Ada juga paket Kluster Sumatera (6-8 Hari), dari Batam – Bangka Belitung – Palembang – Banda Aceh – Batam/Jakarta. Dilanjut city tour di masing-masing destinasi.

Ada paket Kluster Jawa-Bali, sekitar 6-8 hari, dari Denpasar-Surabaya-Semarang-Cirebon-Jakarta. Dan Paket Klaster Jawa-Bali, dari Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya dan berakhir di Denpasar. Paket ini belum lama diluncurkan, tetapi sudah mulai ada peminatnya, dan naik dari tahun sebelumnya.

Asdep Pengembangan Destinasi Wisata Budaya, Lokot Enda melihat banyak aspek yang harus dikembangkan secara bersama-sama. Peran Government (G) (Pemda Kota Semarang, dan Pemprov Jawa Tengah), untuk mengembangkan destinasi lain yang terintegrasi. Libatkan media (M) lokal agar memiliki proximity yang kuat, serta media asing agar dipopulerkan jauh hari sebelumnya di Negeri Tiongkok. Peran Community (C) juga lebih bisa diberdayakan, agar mereka juga bisa mendapatkan benefit.

“Tinggal libatkan Akademisi (A) dan pelaku industri atau business (B). Maka segilima pentahelix akan mempercepat pengembangan destinasi budaya berbasis Cheng Ho,” ungkap Lokot.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan perayaan Napak Tilas Laksamana Cheng Ho sudah memiliki cultural value yang tinggi. Sudah menggelinding kuat dan terus menjadi agenda tahunan yang berkembang. Tinggal memikirkan bagaimana commercial value atau financial value-nya bertambah dan memberi dampak ekonomi kepada industri dan publik.