Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

Kisah KIPI Sang Anak Tiri Negeri dan Era Baru Vaksin

Rabu 17 January 2018 01:00 WIB

Red: Agus Yulianto

19 Juta anak belum menerima vaksinasi dasar

19 Juta anak belum menerima vaksinasi dasar

Foto: republika/mardiyah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rudi Agung *)

Jamilah Ummu Husein, ibu satu anak asal Bekasi, mengatupkan bibirnya. Pikirannya seolah berkelana ke masa-masa kelam hidupnya.

Ia memberi tahu buku catatan imunisasi anaknya. Dalam buku itu ada laman bertuliskan: IMUNISASI. Ada pula tabel jenis imunisasi: BCG, Polio, DPT, Campak, Hib, dan lain-lain. Lengkap dengan tulisan khas dokter berisi data tanggal, bulan, tahun imunisasi.

Wajahnya mendung. Matanya berkaca. Suaranya tertahan. Gigi atas dan bawah beradu, tersua bunyi gemertak ketika ia memulai kisahnya:

"Saya menyesal anak saya dimasukin vaksin sejak bayi. Sekarang telat bicara..." Ia tak meneruskan kata-katanya.

Tak lama, lirih berkata, "Vaksin selalu benar. Tentu saja anak saya tak diakui korban cedera vaksin. Tapi yang tahu perkembangan anak itu ibunya, bukan dokter, apalagi pemerintah."

Kisah Jamilah, hanya satu dari sekian fakta lapangan. Jamilah masih beruntung, nyawa anaknya masih diselamatkan. Tapi, ia memiliki trauma panjang.

Jamilah pun memutuskan menjadi pro choice. Memilih menjaga kesehatan anaknya dengan banyak alternatif, selain vaksin.

Kisah Jamilah tak sepedih apa yang dirasakan Seliawati Rahardjo. Ibu ini menumpahkan kegetirannya paska anaknya yang masih bayi berusia empat bulan, Naufal Alestya Alfaqrizqi wafat usai divaksinasi difteri.

Kisahnya yang di penghujung Desember 2017 itu tersebar viral, menggedur ruang jiwa. Dengan catatan: Jika, kita masih punya empati, nurani, hati tak mati. Sebab, sekali lagi: maha benar vaksin dengan segala propaganda dan anggaran jumbonya.

Setelah divaksin, tulis Seliawati, anaknya panas dengan suhu 38 derajat Celsius. Ia beri paracetamol, mereda. Ia menganggap panasnya sekadar demam biasa setelah vaksin. Tak tahu jika itu gejala kejadian ikutan pasca-imunisasi atau KIPI.

Esoknya, anaknya kejang, matanya melotot. Dari klinik yang divaksin, dibawa ke RS di Jogja. Tapi dokter mendiagnosa, anaknya gagal napas. Bayi Naufal pun tak terselamatkan.

Apakah anak Jamilah dan Seliawati di atas diberi kompensasi miliaran sebagai korban KIPI, seperti di luar negeri? Mimpi. Diakui sebagai korban KIPI saja tidak. Alih-alih diberi kompensasi.

Tak heran, Noura, ibu dari Tearsya Khariztiani (11), yang juga meninggal dunia empat hari setelah mendapat suntikan vaksin difteri di sekolahnya, 9/1/2018, merasa geram. Kematian Icha, panggilan akrab Tearsya sempat ramai di media.

Tapi, dalam kesempatan komunikasi langsung dengan Noura, ia mencurahkan kemarahannya. "Tragis dan miris, seblak jajanan yang Icha beli setiap hari dijadikan alasan kematiannya," geram Noura. Anehnya, berapa banyak yang membeli seblak. Kenapa hanya Icha yang wafat.

Makanan khas Sunda yang sudah ada berpuluh tahun dijadikan kambing hitam kematian Icha. Bukankah menjadikan seblak sebagai alasan kematian bisa menjadi tuduhan serius? Kenapa vaksin tak pernah salah? Apakah benar vaksin tak memiliki efek samping?

Sedangkan Dinkes Kesehatan setempat hanya memberi uang duka sebesar Rp 600 ribu. Pemberian ini pun membuat Noura semakin geram. "Secara gak langsung melalui "sumbangannya" mereka sudah mengakui kesalahannya. Sedangkan pihak sekolah hanya meminta maaf. Ini akan berlanjut," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Lintas Ekonomi dan Bisnis

Kamis , 24 May 2018, 22:37 WIB