Kamis , 04 Januari 2018, 00:37 WIB

Habib Politik, Habib Dakwah, Hingga Habib Taqiyyah

Red: Agus Yulianto
Abdullah Sammy
Abdullah Sammy

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdullah Sammy Khirid, Wartawan Republika

Ada salah satu kawan yang membahas soal polarisasi yang tercipta di kalangan Habaib di Indonesia. Dia membandingkan kelompok Habaib yang vokal dalam merespons fenomena sosial politik di negeri ini vs kelompok Habaib yang hanya fokus pada kegiatan ritual dakwah.

Kawan itu membandingkan dua tokoh, Habib Rizieq Shihab dengan Habib Jindan. Kebetulan pula ada isu menyebut kedua habib ini berbeda pandangan.

Ini terutama bila melihat ceramah Habib Jindan yang mengkritisi cara-cara perjuangan lewat aksi demonstrasi. Sebaliknya Habib Rizieq dipandang merupakan representasi dari aksi-aksi demonstrasi yang terjadi akhir-akhir ini.

Sama halnya dengan pertanyaan kawan itu, isu mengenai adanya kubu Habib Rizieq dan kubu Habib Jindan ini sontak membuat keterbelahan di kalangan pengikut kedua Habaib. Bahkan, salah satu media mengangkat analisis soal dua jalan perbedaan para Habaib di Indonesia.

Setelah membaca artikel yang membahas soal dua kubu di kalangan habaib itu, ada beberapa kritik yang bisa dikedepankan. Selain data historis yang tidak seratus persen akurat, ada pula sejumlah fakta yang belum tuntas dikupas. Ini utamanya soal substansi pembelahan di kalangan habaib. Sebab, faktanya keterbelahan itu bukan mengerucut pada dua kubu, melainkan lebih dari itu.

Sejatinya, terlalu simpel jika membagi kelompok Habaib menjadi dua hanya karena cara mereka dalam berlaku di atas mimbar atau kesehariannya. Simplifikasi pembelahan dua kubu malah punya kecenderungan untuk mengadu. Simplifikasi klasifikasi ini sejatinya sudah pernah dilakukan oleh Snouck Hurgronje pada abad ke-19 dengan membagi kalangan Islam sebagai Islam Sosial Politik vs Islam Ritual.

***

Jika kita hanya berbicara dalam konteks Islam Sosial Politik dan Islam Ritual versi Hurgronje, memang kita bisa merujuk pada perbedaan cara sejumlah Habaib dalam berdakwah. Dalam catatan sejarah, memang ada beberapa Habaib malah menjadi motor gerakan sosial politik dalam melawan penjajah. Salah satunya, justru merupakan kakek dari Habib Jindan yang kini dikenal sebagai simbol Habaib di jalur dakwah dan apolitis. Kakek dari Habib Jindan itu adalah Habib Salim bin Jindan.

Pada zamannya, cara Habib Salim menginspirasi gerakan umat dalam melancarkan perlawanan sosial politik pada kolonial. Bahkan karena gerakannya itu, Habib yang dijuluki Singa Podium itu sampai dipenjara oleh Belanda maupun Jepang. Bahkan di era Presiden Sukarno, Habib Salim Jindan masih konsisten dalam bersuara hingga pernah berurusan dengan aparat. Catatan perjalanan Habib Salim ini tertuang dalam buku berjudul 'Tiga Serangkai Ulama Tanah Betawi.'

Masih ada pula sejumlah Habaib, seperti Habib Mohamad Sjarief di Aceh yang juga memimpin gerakan sosial politik dalam melawan kolonial Belanda di zaman revolusi. Ini seperti tertuang dalam buku 'Aceh dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945-1949'.

Jika ditarik lebih jauh, bukti nyata peran Habaib yang bergerak lewat jalur sosial politik bisa tercermin dari beberapa Kerajaan Islam seperti Aceh, Siak, hingga Pontianak.

Di sisi lain, ada pula Habaib yang memilih fokus pada sisi ritual peribadatan dengan meminimalisir konfrontasi politik. Ini seperti Habib Ustman bin Yahya. Habib Ustman tak lain adalah guru dari Habib Salim bin Jindan.

Tapi, cara guru dan murid ini berbeda. Yang murid vokal menginspirasi gerakan sosial politik saat berhadapan dengan Belanda. Sedangkan sang guru lebih berjuang dengan strategi koperatif dan fokus dalam masalah keumatan. Ini sama dengan cara umum perjuangan bangsa Indonesia yang mana ada yang koperatif dan non koperatif.

Habib Ustman layaknya Habib Jindan kini yang lebih mengedepankan jalur ritual dan lebih koperatif pada pemerintah. Sedangkan Habib Rizieq layaknya Habib Salim yang tak lain adalah kakek Habib Jindan sendiri, yang cenderung lebih kritis dalam urusan politik.

Tapi sekalipun caranya berbeda, tujuan pejuang koperatif dan non koperatif sama yakni untuk menciptakan Indonesia yang merdeka. Pun halnya kini dalam kasus Habib Rizieq dan Habib Jindan. Tak ada perbedaan substansi perjuangan mereka.

Secara mazhab, Habib Rizieq dan Habib Jindan sama-sama Syafi'i yang merupakan simbol Ahlussunah wal Jamaah. Keduanya pun sama dalam tujuan mengaplikasikan nilai keislaman yang mereka anut dalam bermasyarakat.

Tapi, cara untuk menuju tujuan itu yang berbeda. Sebuah perbedaan yang sejatinya sudah ada dalam konsep dakwah para Habaib di Nusantara sejak berabad lalu. Jadi bila dua perbedaan itu diartikan sebagai perpecahan para Habaib di Indonesia, maka hal itu terlalu dramatis. Lebay kalau kata kids zaman now.

Tapi, jika ditarik lebih seksama, perbedaan itu sejak dulu memang sering coba dibenturkan. Layaknya Snouck Hurgronje yang sejak abad 19 sudah coba membenturkan Islam Sosial Politik dan Islam Ritual. Dan kini, ada pula yang coba membenturkannya dalam konteks Habaib.

***

Saya tak ingin terburu-buru berkesimpulan bahwa adanya kelompok lain yang berkepentingan mengadu kelompok Habib Jindan vs Habib Rizieq. Rasanya, arah tulisan ini bukan bermaksud untuk menghakimi kelompok lain itu. Sebaliknya, tulisan ini justru untuk membuka bahwa kelompok Habaib di Indonesia bukan hanya berkutat di Habib Rizieq cs dan Habib Jindan dkk.

Kalau kelompok habaib yang vokal soal sosial politik dan habaib dakwah memiliki latar pemikiran agama sama, lantas apakah memang kelompok Habaib benar-benar seratus persen seragam? Adakah kelompok habaib lain yang punya pemikiran berbeda?

Faktanya memang ada kelompok Habaib lain yang secara politik berbeda dengan kelompok Habib Rizieq dan secara ritual berseberangan dengan kelompok Habib Jindan. Jadi, sulit memasukkan kelompok Habaib ini dalam klasifikasi Kelompok Sosial Politik (yang banyak direpresentasikan pada diri Habib Rizieq) dan Kelompok Dakwah (yang punya figur Habib Jindan).

Inilah yang menjadi kelompok ketiga dari kalangan Habaib meski jumlahnya terbilang minor. Kelompok ketiga ini secara politik dan ritual memang lebih low profile. Ada yang kemudian menyebut kelompok ini sebagai kelompok Habaib Taqiyyah.

Sekalipun enggan secara terbuka mengklasifikasikan kelompoknya, kalangan Habaib versi ketiga ini justru gemar mengklasifikasi kelompok Habaib lain dengan sentimen aliran. Kelompok ini bahkan ada yang melabeli kelompok Habaib yang berseberangan dengan mereka dengan istilah 'Wahabib'.

Mereka ini lebih suka dengan teori bahwa Habaib hanya terbagi dua, Habaib Politik dan Habaib Dakwah. Mereka yang kerap mengipas dan mengipas kedua kelompok Habaib. Tapi, menutupi kelompok mereka yang sejatinya berbeda dari kelompok Habaib Politik atau Dakwah.

***

Kelompok Habaib Taqiyyah ini sesuai dengan asal namanya adalah kelompok yang menyembunyikan diri demi keselamatannya. Jadi dalam konteks Habaib, kelompok Taqiyyah ini yang sengaja menutupi jati diri, ideologi, dan motifnya.

Kaitan Taqiyyah ini bukan soal historis, tapi soal sosiologis. Sebab, faktanya memang banyak dari kalangan Habaib yang masih belum percaya diri dalam mengungkap identitas pemikirannya. Ada yang masih malu-malu karena lebih condong ke salah satu aliran.

Saya tak mau menyebut Taqiyyah ini spesifik ke Syiah semata. Sebab, faktanya secara sosiologis kini banyak pula Wahabi yang Taqiyyah akan identitasnya.

Kembali ke kelompok Taqiyyah, harus diakui kelompok yang sengaja menutupi diri ini ada di kalangan Habaib di Indonesia saat ini. Yang mana ada kelompok Habaib ketiga ini punya motif politik sekaligus ritual yang sengaja ditutupi. Mereka ini yang secara politik dan ritual berbeda dari kelompok pertama (Habib Rizieq) dan kelompok kedua (Habib Jindan).

Kelompok ketiga ini secara politik pun terlibat dalam sejumlah gerakan. Maka, tak heran saat Pilkada DKI lalu ada pula kelompok Habaib yang berhadapan satu sama lain. Yang satu anti-Ahok yang satu pro-Ahok.

Fakta bahwa ada Habaib yang pro Ahok menggugurkan fakta bahwa di kelompok Habaib hanya satu kelompok yang bergerak vokal di ranah politik. Ini membuktikan bahwa ada kelompok lain yang juga bergerak di ranah politis. Jadi, ranah sosial politik bukan merupakan monopoli dari kelompok Habib Rizieq semata.

Kelompok Habaib ketiga ini pernah pula menyinggung kelompok Habaib di jalur dakwah. Penyebabnya adalah kecerobohan mereka merekayasa foto salah satu Habaib di jalur dakwah, almarhum Habib Munzir Al Musawa. Foto habib karismatik ini secara sengaja diubah dengan muka seorang Ahok.

Padahal bagi kelompok Habaib Sosial Politik maupun Habaib Dakwah, ulama adalah kehormatan yang nama baiknya harus dijaga. Tapi, aspek kesakralan ulama ini tak menjadi prinsip kelompok ketiga yang lebih bersandar pada nilai liberalisme.

Berbicara soal ritual, memang dalam Islam ada yang berbeda sesuai dengan mazhabnya. Pun halnya di kalangan Habaib. Sehingga wajar pula jika ada kelompok lain yang secara ritual berbeda pula dengan kelompok Habaib lain.

Walhasil, fenomena yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini memang bisa menjadi cara bagi kita untuk melihat perbedaan jalan di kalangan Habaib Indonesia. Kita bisa membedakan secara umum menjadi tiga jalan para Habaib.

Kelompok pertama adalah Habaib yang vokal secara sosial politik. Kelompok kedua Habaib yang hanya fokus dalam kegiatan ritual dan dakwah. Kelompok ketiga adalah kelompok habaib taqiyyah yang sengaja menutupi manuver politik dan ritualnya.

Tapi jika dikerucutkan lebih jauh, Habib di jalur Sosial Politik dengan Habib Dakwah hanya berbeda cara perjuangan, namun sama dari sisi tujuan. Namun untuk kelompok ketiga, cara yang ditempuh boleh dibuat sama. Hanya saja secara substansi, yang diusung Habaib Taqiyyah ini berbeda dengan kelompok lainnya.

Apa pun itu perbedaan adalah sebuah sunatullah yang mesti disikapi secara dewasa. Pun halnya di kalangan Habaib. Ada habib yang memilih berjuang di jalur sosial politik, ada yang sekadar mengurusi keumatan, ada pula yang low' 'profile menutupi perannya berpolitik sambil berdakwah, alias taqiyyah.

Mau bersosial politik dan berdakwah secara terang-terangan atau sembunyi (taqiyyah) pada akhirnya adalah pilihan. Tapi bila ada kelompok manapun, entah dengan jalan terang-terangan apalagi taqiyyah, melancarkan usaha perpecahan, maka hal itu patut disayangkan. Sebab Habaib memang bukan aktor perpecahan, melainkan persatuan.

Berita Terkait