Rabu , 03 January 2018, 00:36 WIB

Di Sebuah Persimpangan Waktu

Red: Agus Yulianto
dok. Istimewa
Ihshan Gumilar
Ihshan Gumilar

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ihshan Gumilar *)

Psikolog kepribadian (personaliti) kelas dunia, Philip Zimbardo, menyatakan, bahwa ada tiga jenis kebiasaan manusia dalam melihat waktu: lampau (past), sekarang (present), dan masa depan (future). Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa setiap individu punya preferensi dalam melihat waktu. Apakah lebih cenderung ke masa lalu, sekarang, atau masa depan. Cara seseorang melihat waktu adalah refleksi dari caranya memandang dan menjalani sebuah kehidupan.

Kecenderungan seseorang melihat waktu dikenal dengan istilah temporal bias. Hal itu disebut bias karena dalam berbagai aspek kehidupan yang dijalani dan dialami akan cenderung dipandang dari kacamata waktunya tersebut (lampau, sekarang, atau masa depan).

 Mari kita telaah sejenak. Orang-orang yang mempunyai kecenderungan melihat masa lalu, biasanya mereka susah sekali untuk move on. Atau dikenal dengan istilah gagal move on. Semua kejadian, baik yang positif ataupun negatif, akan selalu dikenangnya. Mereka adalah orang yang “hidup” di masa lalu sekalipun jasadnya berada di masa kini.

Orang dengan tipe ini akan mudah mengalami stres dan depresi. Sangat sulit baginya untuk segera hengkang dari masa lalu yang menyakitkan karena pikirannya cenderung fokus pada apa yang telah terjadi. Memorinya kerap digunakan untuk memainkan kembali kejadian yang telah usai.

Hal inilah yang membuatnya merasa seakan-akan masa lalu tak pernah usai dan tak pernah berdamai. Kekalahan, kehilangan, dan kerusakan seolah tak pernah berhenti menghampiri. Karena pikiranya terus mengarahkan segala perhatiannya terhadap sejarah kelam yang pernah terjadi. Sudah sebaiknya mereka membuat memori baru bukan memainkan memori lama yang akan selalu tampak baru.
 
Bagi orang yang mempunya personaliti melihat waktu saat ini, mereka hanya berpikir bahwa apa yang ada hari ini adalah sesuatu yang harus dinikmati saat ini saja. Tidak peduli apa yang akan terjadi esok hari. Sangat minim untuk berpikir tentang konsekuensi yang akan terjadi di kemudian hari. Mereka juga terkadang mengalami kesulitan untuk membuat langkah-langkah baru.

Jika ada kenyataan di hari ini yang tidak baik atau tidak sesuai harapan, mereka berpikir bahwa esokpun akan menjadi hal yang sama seperti hari ini. Mereka tak lagi bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Masa depan sudah tertutup masa kini. Tak lagi nampak bahwa hari ini mempunyai kemungkinan untuk dirubah. Tak ada lagi harapan untuk hari esok.

Menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan sebaiknya tidak mengadopsi kacamata “saat ini” terlalu banyak, karena ia harus mampu melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Sehingga perusahaan sudah dapat diarahkan semenjak dini ke arah mata angin mana ia akan ditujukan. Dan tidak sedikit jumlahnya, para pemimpin yang tidak menyadari jenis kacamata apa yang sedang ia pakai: lalu, sekarang, atau masa depan.

Orang Indonesia besar kemungkinan memiliki tipe personaliti melihat waktu dengan tipe saat ini dan sekarang. Tak sedikit orang-orang di negeri ini ingin segalanya dilakukan secara instan dan super cepat. Mumpung saat ini menjadi pejabat dan pegang kekuasaan, di saat inilah kesempatan merauk uang orang sebanyak -banyaknya.

Tak peduli lagi apa yang akan terjadi esok hari. Mereka mungkin rabun untuk melihat bahwa kekuasaan itu suatu saat akan sirna. Apa yang dilakukan hari ini akan kembali pada dirinya di kemudian hari dan juga masyarakat dalam skala besar. Besar kemungkinan korupsi kerap merajalela di negeri yang morat-marit ini dikarenakan kemampuan melihat waktu yang hanya bisa dilakukan dalam jangka pendek dan saat ini saja.

Untuk orang yang mempunyai personaliti melihat waktu di masa depan, ia mampu melihat visi dan misi secara jelas. Sebagian manusia memang sulit untuk “melihat” apa yang akan terjadi di masa depan. Bagi seorang pemimpin yang ulung dan tangguh biasanya mereka mampu “melihat” apa yang akan terjadi dalam waktu 20 bahkan 50 tahun ke depan.

Tipe personaliti seperti ini tentunya dibutuhkan oleh seorang pemimpin di berbagai instansi swasta maupun pemerintah. Jika ia hanya melihat apa yang terjadi sampai 1 tahun ke depan, kecil kemungkinan sebuah perusahaan ataupun pemerintahan akan berkembang. Apalagi untuk skala negara, seorang pemimpin harus bisa melihat dalam jarak 50 tahun ke depan bukan jarak 5 tahun ke depan, hingga bertemu dengan pemilu selanjutnya.

Manakah yang paling cocok apakah masa lalu, masa sekarang, atau masa depan ? Tidak ada jawaban yang paling cocok. Yang paling baik itu adalah ketika seseorang mempunyai keseimbangan dalam melihat waktu. Mereka mampu bersifat fleksibel menempatkan kapan harus melihat dengan kacamata lampau, saat ini, atau masa depan. Seorang pemimpin tidak hanya dibutuhkan mampu melihat masa depan tapi juga piawai melihat keadaan saat ini yang terjadi di masyarakat.

Sehingga, ia bisa melihat kenyataan secara realistis. Jika negara saat ini mempunyai banyak hutang, maka sebaiknya jangan lagi ditambah. Karena di masa depan anak cucunya atau mungkin keluarganya sang pemimpin hari ini, akan terlilit hutang hingga tak bisa makan akibat ulah tangan pendahulunya di hari ini. Jadi, kemampuan seseorang untuk menggunakan kacamata waktunya secara benar dan proporsional amatlah penting.

Di dunia hanya ada satu penelitian yang melihat tentang otak mana yang bekerja ketika seseorang mempunyai kecenderungan terhadap kacamata waktu tertentu. Terlepas dari ketiga jenis kacamata itu semua (lampau, sekarang, dan masa depan), rupanya bagian otak yang berada tepat dibelakang dahi, Prefrontal Cortex (PFC), mempunyai peranan penting dalam mengatur kacamata waktu yang dimiliki oleh manusia.

Tentunya ada hikmah mengapa umat Islam diwajibkan bersujud, meletakan PFC ke tanah, secara rutin dalam waktu yang ditentukan (lima kali sehari dalam waktu yang berbeda-beda). Mungkin Sang Pencipta ingin mengajarkan kepada manusia agar ia mampu bersifat fleksibel dalam menempatkan kacamata waktunya. Dengan seperti itu, ia akan menjadi pandai dalam melihat pelbagai celah dan kesempatan dalam waktu yang berbeda (agar dapat diambil manfaatnya seperti bisnis, investasi, dan belajar).

2017 telah meninggalkan kita dan 2018 mulai menyapa dengan senyumnya. Kacamata lampau sebaiknya kita tetap pakai untuk melihat hal yang positif yang pernah terjadi sebagai sebuah rujukan. Untuk hal yang negatif, sudah sepatutnya kita tinggalkan dan menatap kehidupan dengan kacamata masa depan. Hari ini kita berada di sebuah persimpangan waktu 2017 dan 2018. Tetaplah melihat segalanya secara optimis dan janganlah berhenti belajar untuk melihat segala situasi dan kondisi yang terjadi dengan kacamata waktu yang berbeda-beda.

Selamat tahun baru dan gunakanlah kacamata waktu yang selalu baru !


*) Neuropsikolog