Selasa , 19 December 2017, 04:00 WIB

Membaca Arah Ekonomi Tahun 2018

Red: Agus Yulianto
Yasin Habibi/Republika
Warga berjalan di sebelah apartemen di kawasan Jakarta Timur.  Bank Indonesia (BI) menilai, sektor properti memiliki peran sangat penting dalam pembangunan perekonomian nasional (Ilustrasi)
Warga berjalan di sebelah apartemen di kawasan Jakarta Timur. Bank Indonesia (BI) menilai, sektor properti memiliki peran sangat penting dalam pembangunan perekonomian nasional (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Fithra Faisal Hastiadi *)

Apa yang anda harapkan di tahun 2018? Jika bertanya pada ekonom maka jawabannya sederhana. Biasanya kita akan mneyebut angka, ya sama seperti anda datang ke dukun dan mendapatkan nomor togel. Anehnya, meskipun sering meleset, profesi ekonom dan dukun, tetap saja laku. Orang-orang selalu datang dan minta petunjuk jelang akhir tahun. Bedanya, dukun bekerja dengan kemenyan sebagai medium penerawangan, ekonom bekerja dengan data. Meski patut diakui, keduanya sama-sama mistis.Tetapi setidaknya saya mesti meyakinkan anda para pembaca, bahwa meskipun kami para ekonom sering meleset, setidaknya angka yang kami keluarkan memberikan arah yang berguna.

Well, saya harus memastikan ini agar anda tetap percaya dengan kami para dukun, maaf maksud saya ekonom. Bagaimana cara kerja para ekonom? Kami mengirimkan sinyal sehingga anda senantiasa waspada dan mampu membaca perubahan sekecil apapun karena bisa saja secara tiba-tiba muncul elemen kejut yang memaksa pembuat keputusan harus memilih pada sebuah strategic inflection point.

Menerawang 2018, tahun ini sepertinya akan penuh dengan variasi baik positif maupun negatif. Jika melihat arah pertumbuhan ekonomi, sejatinya Indonesia melaju pada jalur yang positif. Menurut proyeksi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI, tahun 2017 ini setidaknya kita akan tumbuh 5.05 persen. Suatu pertanda positif mengingat di tahun 2015 kita hanya bisa tumbuh dibawah 5 persen.

Tren positif ini setidaknya bisa kita lihat jelang akhir 2016 dimana perbaikan kinerja ini lebih banyak dipicu oleh membaiknya harga komoditas dunia. Membaiknya perekonomian mitra dagang tradisional seperti Tiongkok sepertinya turut mengkerek kinerja ekspor kita. Pada gilirannya ini berdampak pada membaiknya Terms of Trade yang ditransmisikan kearah perkembangan konsumsi domestik. Menariknya, meskipun ada dorongan kuat kearah peningkatan konsumsi, data fast mover consumer goods (fcmg) justru tumbuh lekat tanah (2.7 persen YTD) jauh di bawah rata-rata tahunan (11 persen).

Menengok tetangga, sejatinya Indonesia belum bisa dikatakan baik. Coba lihat Vietnam, dan Filipina yang jauh melesat tumbuh hingga 7 persen. Belum lagi Thailand, Malaysia dan India yang juga tumbuh di atas 6 persen. Bahkan kita tertinggal dari Singapura yang tumbuh hingga 5,2 persen. Dengan begitu, berarti Indonesia tumbuh di bawah rata-rata regional. Ada apa sebenarnya?

Sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, membaiknya perekonomian Indonesia lebih banyak dipicu oleh dorongan jangka pendek yaitu membaiknya harga komoditas dunia. Untuk bisa melaju, Indonesia tidak bisa tidak, harus membenahi kinerja Industrinya yang hingga sekarang masih dibayangi oleh tren deindustrialisasi. Tren ini lah yang pada gilirannya menyebabkan Indonesia kehilangan momentum jaringan rantai produksi global dan semakin tertinggal dengan sejawat dekatnya.

Menurut penelitian dari Ilmi dan Hastiadi ditahun 2017, Indonesia bahkan sudah tertinggal dari Filipina dan Vietnam dalam ranking partisipasi jaringan produksi global industri. Ketinggalan dari Thailand dan Malaysia saja sudah membuat dada ini sesak, mulai tahun 2015 Indonesia justru harus tercecer dari persaingan disalip Filipina dan Vietnam.

Melihat ke depan, FEB UI sebenarnya memiliki proyeksi yang cukup optimis. Tahun 2018 perekonomian Indonesia tampaknya akan terus membaik dan mencapai 5.4 persen dan tahun 2019 nanti bahkan bisa mencapai 5.7 persen. Namun syaratnya berat, ekspor Indonesia harus tumbuh minimal 9 persen setahun. Melihat realisasi, tahun ini saja pertumbuhan ekspor hanya ditargetkan tumbuh maksimal 5.6 persen.

Apalagi, jika melihat tren Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang terus meningkat hingga lebih dari 6 persen jauh diatas level sebelum krisis (periode 1993-1996) yang sebesar 3.8 persen dan salah satu yang terburuk di ASEAN. Hal ini menandakan bahwa perekonomian Indonesia sangat tidak efisien. Bagaimana membenahi ini? Salah satu hal yang mesti diperhatikan adalah dalam hal kebijakan industrialisasi.

Sebagai kompetitor terdekat, sudah selayaknya Indonesia dapat belajar dari proses industrialisasi di Thailand sehingga bisa mewujudkan dirinya sebagai pusat industri otomotif di ASEAN. Sebetulnya biaya tenaga kerja di Thailand tidak semurah yang ditawarkan Indonesia. Menurut catatan Organisasi Buruh Internasional, rata-rata upah buruh per bulan di Thailand sebenarnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia, namun dari sisi produktivitas pekerja Thailand jauh lebih unggul.

Sebelum menjelma menjadi raksasa otomotif, Thailand memulainya dengan sebuah kampanye positif untuk menjadi “Detroit of Asia’. Demi mewujudkan visi besar tersebut, maka Thailand membangun infrastruktur penunjangnya dari hulu ke hilir. Menarik jika melihat awal dari proses Thailand menuju industrialisasinya, mereka memulainya dengan strategi substitusi impor dengan harapan bisa mengikuti jejak negara-maju seperti Jepang dan Korea yang berhasil dengan strategi serupa.

Namun, sebagaimana argumen dari Aswicahyono (2012), terdapat strategy switching, dimana kemudian Thailand dengan cepat menggeser paradigma industrialisasinya dengan menjadikan negaranya sebagai hub produksi di kawasan. Pada gilirannya membuat investor berbondong-bondong untuk memasuki sektor ini sehingga membentuk klaster industri otomotif yang efisien.

Sebagai catatan, pemerintah Indonesia harus membenahi jalur birokrasi, regulasi ketenagakerjaan, dan kinerja infrastruktur untuk bisa bersaing. Berdasarkan kajian dari Research Intelligence Unit (RIU) FEB UI,  jika Indonesia melakukan usaha serius yang fokus pada perbaikan infrastruktur penunjang industri, produksi bisa meningkat cukup signifikan hingga mencapai 90 persen.

Sebagai fokus jangka panjang, Indonesia sudah selayaknya menuju konsep pertumbuhan yang berorientasikan keterbukaan serta inovasi. Model perencanaan ini juga diharapkan dapat berfokus pada sistem inovasi yang mumpuni dalam rangka membangun merk global Indonesia. Hal ini pada gilirannya dapat memperkaya keunggulan komparatif Indonesia yang tidak semata-mata berasal dari hard ware atau hard power.

Menyimak sekali lagi argumentasi diatas, meyakinkan atau tidak meyakinkan pandangan ini sejatinya bisa digunakan sebagai arah kedepan. Dalam The Illiad, sebuah karya sastra kenamaan yang dibuat oleh Homer,  menarik untuk melihat bagaimana Cassandra sebenarnya telah memberikan terawangannya mengenai kejatuhan kota Troya namun tidak diacuhkan. Kita tentu tahu akhir cerita dari kota Troya yang hancur lebur akibat tidak memperhatikan sinyal yang diberikan oleh Cassandra. Siapakah para Cassandra tersebut sekarang? Mungkin anda bisa melihat para Ekonom.


*) Staf Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Peneliti Senior NextPolicy