Senin , 18 Desember 2017, 00:40 WIB

18 Tahun PKPU, Menuju Kedewasaan Perilaku

Red: Agus Yulianto
dok. Humas PKPU
Nana Sudiana
Nana Sudiana

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nana Sudiana *)

"Dalam salah satu fase perkembangan organisasi, diperlukan code of conduct dalam segala perilaku agar objective yang dituju bisa dengan fokus diraih" (Dr. Agus Nurhadi)

Usia 18 tahun adalah usia penting seorang anak manusia. Usia ini disebut juga fase masa remaja akhir menuju dewasa. Di usia ini secara umum masih sering terjadi kelabilan jiwa. Kelabilan ini tiada lain karena adanya penyesuaian dari fase dari anak-anak menuju fase dewasa. Sebagaimana pada umumnya usia 18 tahun pada manusia sehat lainnya, fase remaja menjelang akhir ini memiliki tuntutan-tuntutan psikologis yang harus dipenuhi. Bila tidak bisa dipenuhi, kadang berisiko dan dapat menimbulkan dampak yang berkelanjutan.

Kira-kira gambaran karakter usia 18 tahun ini adalah remaja yang mulai beranjak dewasa. Beberapa perkembangan ini disebut dengan peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Adapun cirinya fase ini berupa pertumbuhan fisik sudah mulai matang, munculnya rasa tanggungjawab yang mulai besar dan mulai memasuki kedewasaan psikologis. Ia juga mulai meninggalkan emosinya yang labil serta ketergantungan terhadap kelompok seusianya pun semakin berkurang. Secara perlahan, tumbuh pula kemandirian dalam banyak hal dalam kehidupan di usia 18 tahun ini, termasuk ia mulai fokus pada keinginan dan cita-cita yang ia miliki.

Di Eropa dan beberapa negara Barat, usia 18 tahun ini usia penting hubungan anak dengan keluarganya. Karena di sana saat anak berumur 18 tahun, kebanyakan orang tua sudah lepas atau mengurangi keterlibatannya dalam kehidupan pribadi anaknya. Beberapa keluarga di Barat malah sudah melepas sama sekali urusan keluarga dengan anaknya.

Artinya segala urusan anak, orang tua sudah tak dianggap lagi terlibat dan jadi hak anak sepenuhnya, baik dalam urusan berpendapat maupun dalam urusan tempat tinggal ataupun lainnya. Di Indonesia jelas berbeda, orang tua akan terus terlibat dalam urusan anak, bahkan kadang sampai ia meninggal dunia. Sudah jamak di sini, walaupun anaknya bahkan sudah dewasa dan bahkan punya anak, orang tua masih terus ingin terlibat, misalnya memberi nama cucu, memilih sekolah cucu hingga mencarikan menantu cucu-cucunya.

Kelahiran yang dinantikan

PKPU yang lahir pada 10 Desember 1999 seakan telah ditunggu waktu. Kelahirannya dinantikan negeri yang ketika itu sedang dirundung duka kemanusiaan. Langit cerah Indonesia yang bak jamrud khatulistiwa seakan ternoda kegelapan nafsu kelompok-kelompok kepentingan yang rakus dan tak menyisakan sorot mata kebaikan.

Berawal dari tumbuhnya rasa kepedulian terhadap tragedi kemanusiaan yang terus terjadi pada kurun waktu 1997 hingga 1999, memanggil jiwa kepedulian sekelompok pemuda untuk melahirkan sebuah lembaga yang penuh idealisme. Spirit ini yang juga dilandasi kecintaan akan kedamaian negeri menggerakan mereka berbuat untuk menumbuhkan kembali harapan dan optimisme akan kebaikan dan kemuliaan Ibu pertiwi.

Negeri Indonesia adalah negeri besar dan berpengaruh hingga memenuhi ujung-ujung dunia, namun konflik dan musibah yang sempat mewarnai negeri ini sempat merobek akar kebaikan yang sebelumnya bertumbuh mewarnai langit negeri bahkan beribu tahun sebelum saat ini.

PKPU sadar, tak cukup modal semangat untuk mewujudkan kebaikan bagi negeri sebesar Indonesia, yang didalamnya terdapat ribuan pulau dengan beragam adat, bahasa dan kebiasaan warganya. Untuk itulah cita-cita besar PKPU mulai dibangun secara perlahan. Orang-orang terbaik yang memiliki visi sama mulai dicari dan diajak bergabung. Mulai pula tatanan organisasi dibenahi hingga tak terkesan asal-asalan dan seadanya.

Seiring waktu, PKPU tumbuh semakin baik. Ia hadir awalnya dengan menamakan diri sebagai Lembaga Pembangunan Umat hingga kurun waktu tahun 2000-an. Dan seiring itu pula, keinginan untuk memiliki legalitas yang memadai mendorong PKPU mengurus perijinan sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional dibawah Kementrian Agama Republik Indonesia. Atas Ijin Allah serta didorong keseriusan untuk menyiapkan segala sesuatunya, tepat tanggal 8 Oktober 2001, PKPU ditetapkan sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) berdasarkan SK. Menteri Agama No. 441.

Sejak saat itu PKPU menambah brand organisasinya dengan nama Lembaga Pembangunan Umat dan Amil Zakat Nasional. PKPU selanjutnya memulai era baru dengan payung organisasi yang lebih lengkap. Langit dunia zakat Indonesia yang berada dalam naungan Undang-Undang Zakat No. 38 tahun 1999 menjadi lansekap aktivitas dan pengabdian amal-amal kebaikan yang digagas PKPU.

PKPU terus menapaki langkah dan tapak-tapak sejarahnya, potensi zakat, infak dan sedekah yang awalnya belum tergali optimal terus diseriusi PKPU untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kepentingan umat dan bangsa. Secara perlahan, PKPU tumbuh menjadi pelopor Lembaga Amil Zakat non pemerintah yang menerapkan manajemen filantropi modern. Perbaikan pengelolaan zakat yang awalnya dikelola apa adanya dan terkesan tradisional dan tak serius, mulai ditata dengan baik dan dengan manajemen profesional.

Konsekuensi pengelolaan ZIS secara modern ini berimplikasi positif. Dana-dana yang dimanahkan ke PKPU bukan saja untuk membantu orang-orang dhuafa dengan kategori fakir dan miskin, namun juga sudah mulai digunakan untuk membangun dan memperbaiki sumber daya manusia umat. Kita semua tahu, persoalan SDM ini menjadi salah satu akar persoalan membesarnya jumlah kemiskinan di negeri ini.

Nah, dengan kekuatan penerapan manajemen pengelolaan ZIS secara modern, maka PKPU berpeluang mengarahkan dana zakat dan lainnya untuk mendukung kebaikan-kebaikan baru serta penciptaan keadilan sosial dan ekonomi di negeri ini. Harus diakui, sebelum ada PKPU zakat memang telah dikelola, namun karena pengelolaan dana zakat dan pemanfaatannya dirasakan belum optimal, maka potensi yang ada di kalangan umat Islam pun belum tergali dengan baik.

Dengan terus memperbaiki kinerja dan kemampuan organisasinya, PKPU yakin bisa terus mengoptimalkan potensi zakat yang besar di Indonesia.  PKPU menyadari bahwa salah satu faktor yang menjadi  penyebab kurang diterima dan dipercayanya lembaga zakat oleh para muzaki salah satunya adalah dari sisi manajemen pengelolaan dana zakat dan
manajemen SDM lembaga pengelolanya.

Faktor inilah yang kemudian secara bertahap dikerjakan PKPU. Memperbaiki organisasinya dari dalam sekaligus membangun kepercayaan publik. PKPU menyadari sepenuhnya bahwa lembaga zakat ketika itu tak berada di ruang hampa. Ketika ia ingin eksis dan diakui keberadaannya, maka ia harus membangun kepercayaan secara penuh dari masyarakat. Masyarakat harus sadar bahwa ada lembaga zakat di tengah-tengah mereka yang bekerja dengan baik dan penuh pengabdian.

Modal kepercayaan dari masyarakat inilah yang mendorong kembali lembaga zakat seperti PKPU ketika itu untuk bekerja penuh dengan terus menjaga amanah dan profesional terutama dalam pengelolaan dan penyaluran dana zakat. Spirit untuk melakukan pengelolaan ini juga menantang PKPU untuk menciptakan model pengelolaan zakat secara trasparans dan penuh logika akuntabilitas.

Pekerjaan-pekerjaan PKPU untuk meraih kepercayaan ini ujungnya akan kembali pada teraihnya dana zakat, infak dan sedekah untuk kepentingan umat. Dana yang terkumpul nantinya akan dikelola secara baik dan penuh tanggungjawab untuk membantu mengatasi masalah kemiskinan dan problematika yang di alami Umat Islam di negeri ini.

Ketika kepercayaan masyarakat berhasil diraih, apakah kerja-kerja PKPU telah cukup? Jawabannya ternyata tidak. Butuh kepercayaan yang lebih besar untuk membangun kebaikan di negeri ini. Pun tak cukup potensi dalam negeri saja yang bisa diraih, namun di luar sana, ternyata juga begitu banyak potensi untuk bisa digali dan dikelola bagi kebaikan masyarakat di dalam negeri. PKPU menyadari, terutama selepas musibah gempa bumi dan tsunami Aceh pada akhir 2004, ternyata ada begitu besar dana filantropi dan ZIS dari dunia di luar Indonesia. Dan meraihnya, tak cukup hanya mengandalkan brand biasa layaknya lembaga lokal biasa.

Atas pemikiran dan cita-cita "naik kelas" untuk memasuki jejaring internasional, maka kurun waktu setelah gempa hingga sekitar 2008 digunakan PKPU untuk memperbaiki kapasitas organisasi, juga untuk melengkapi syarat dan ketentuan memenuhi kualifikasi untuk jadi organisasi kelas dunia. Alhamdulillah kerja keras yang didukung kegigihan dan keseriusan akhirnya berbuah manis. Tepat pada 22 Juli 2008, PKPU akhirnya terdaftar di PBB sebagai NGO dengan “Special Consultative Status with the Economic Social Council”. Pencapaian ini jelas membanggakan, juga mengharukan. Lembaga lokal yang awalnya lahir di sudut sebuah ruko sederhana akhirnya di akui dunia dan siap melebarkan sayap amal-amal baiknya hingga ke ujung dunia manapun yang membutuhkan.

Metamorfosis kebaikan

Aktivitas PKPU terus berkembang, melampaui kegiatan-kegiatan lembaga sejenis yang pernah dan masih ada. Dari sisi penghimpunan dana, mungkin kurun waktu 2008-2010 belum menempatkan PKPU di puncak perolehan yang paling utama. Namun dari sisi kegiatan, semua pihak harus mengakui bahwa PKPU telah hadir mewakili bukan hanya muzaki-nya, namun juga bangsa dan negara ini.

Setiap ada kejadian musibah atau teagedi di dunia, PKPU hadir dengan tak hanya menunjukan simbol lembaganya, namun disampingnya berkibar sang saka merah putih yang gagah mewakili kepedulian negeri Indonesia. Kemiskinan boleh jadi masih terdapat di negeri ini, namun dengan kehadiran PKPU di loaksi-lokasi musibah nun jauh di sudut dunia, hanya rasa bangga dan juga haru yang tercipta dalam dada, menggantikan air mata kesyukuran yang terbit dikedalaman nurani.

Dari hari ke hari, PKPU ini semakin penting peran dan kedudukannya di negeri ini. Ibarat masa hidup kupu-kupu, fase metamorfosis PKPU ini layak diapresiasi oleh siapapun di negeri ini. Setidaknya ada lima alasan PKPU ini layak untuk diteladani dan bahkan juga diteliti untuk dilestarikan, bahkan dikembangkan spirit dan amal kebaikannya.

Pertama, PKPU merupakan salah satu lembaga amil zakat non pemerintah yang menerapkan manajemen ZIS secara modern dan penuh semangat profesional. Kedua, dengan menerapkan filantropi modern tadi, PKPU meraih kepercayaan besar dari masyarakat sehingga bisa terus eksis dan meningkat, termasuk pencapaian penghimpunannya juga yang secara signifikan terus meningkat. Dengan dana yang terus meningkat pula, PKPU memiliki peluang lebih besar untuk mengelola dana bagi kebaikan mustahiknya dan juga memperkecil kesenjangan sosial ekonomi umat.

Ketiga, PKPU ini kan unik. Ia lahir bukan karena dorongan Ormas, atau media atau pula oleh komunitas masjid. PKPU ini lahir digagas oleh aktivis mahasiswa muslim yang ingin terus berkontribusi bagi kebaikan Umat selepas mereka lulus kuliah. Para aktivis ini mewakili idealisme anak-anak muda terdidik, yang secara sadar memenuhi panggilan jiwanya untuk terjun ke dunia filantropi dan sosial kemanusiaan.

Mereka mungkin terlihat secara kasat mata seakan mengorbankan masa depan mereka, namun sejatinya inilah pertaruhan atas nama idelisme dan cita-cita besar melakukan amal kebaikan untuk umat dan bangsa. Anak-anak muda ini, bukan sekedar lulus dan dari kampus-kampus seadanya, namun mereka  adalah anak-anak muda yang masuk kelompok anak-anak cerdas dan dari sejumlah kampus terbaik dengan jiwa yang semangat pengabdiannya lebih besar nyalanya daripada semangat mencari kenyamanan hidup dan keamanan finansialnya.

Keempat, dengan munculnya ekosistem pengelola zakat yang muda dan penuh semangat, memicu citra positif akan pekerjaan amil sebagai pengelola zakat. Zakat yang dibenak banyak orang diurus orang-orang tua dan pensiunan serta hanya berkutat di masjid dan mushola tak bisa lagi dianggap enteng pengelolaannya.

Kelima, PKPU kini mengalami transformasi yang dahsyat, yang tidak ada satupun lembaga zakat di Indonesia berani melakukannya. Pertama, PKPU satu-satunya lembaga zakat yang memisahkan diri urusan zakatnya pada lembaga baru yang ia buat, yakni IZI. Dan ia fokus pada urusan kemanusiaan dibawah payung sebagai NGO Internasional dibawah legalitas ECOSOC PBB. Bukan hanya itu, ia juga bahkan melahirkan lembaga wakaf baru yang namanya Inisiatif Wakaf.

Jelas ini langkah teramat berani, menaklukan sejumlah risiko dalam sebuah manajemen pengelolaan sebuah organisasi. Risiko memulai organisasi baru, risiko kehilangan keseimbangan akibat mulai bertambah fokus organisasi serta risiko menanggung agar semua yang ditumbuhkan bisa hidup dan bertumbuh mengikuti PKPU sebagai pendahulunya. Yang terbesar dari itu semua adalah risiko konflik organisasi atau bahkan lebih ekstrem ditinggalkan oleh organisasi yang dibuatnya.

Sejarah dunia zakat Indonesia tak bisa dipungkiri, ada kejadian sebuah organisasi pengelola zakat yang membuat badan otonom untuk urusan bencana, namun akhirnya dengan sejumlah cerita yang ada, organisasi ini tumbuh tak terkendali, bahkan kemudian memisahkan diri. Cerita kelabu ini tak berakhir di situ, selanjutnya dalam relasi yang terjadi, tak ada keselarasan apalagi pengakuan atas jalan sejarah sebuah kelahiran organisasi. Bagi yang memisahkan diri, cerita ini tentu saja memiliki makna yang bisa jadi berbeda, namun bagi lembaga yang ditinggalkan, hal ini tentu akan dicatat dalam sejarah kehidupan organisasinya dan oleh semua para pelaku dan mereka yang terlibat didalamnya.

Cerita tadi jelas tak indah, bahkan menyisakan luka cukup dalam dan mendekati trauma. Makanya tak banyak lembaga berani melakukan "pembelahan diri" secara sempurna. Yang ada hanyalah "pembelahan semu" yang ujungnya tetap dipegang satu orang. Lembaganya terlihat banyak di hadapan publik, tetapi hanya ada satu orang pengendalinya dan juga pemutus kuasanya.

Dan PKPU jelas menantang badai, ia membelah sempurna dan mengandalkan kedewasaan para pegiat organisasinya dengan keyakinan bahwa bila masing-masing orang tumbuhnya sehat dan spirit tanggungjawabnya senantiasa mengiringi masa perkembangan ini, insyaallah hatinya akan saling terpaut satu sama lain. Organisasi boleh beda, yayasan mereka juga terpisah, namun ikatan hati dan kuatnya semangat persaudaraan telah  mengunci kesadaran mereka dan menjauhkan darinya semangat konflik dan perpecahan.

Menuju satu jiwa

Inovasi dan juga transformasi PKPU dengan berani untuk mendunia dan menjadi banyak lembaga perlu ditularakan virusnya oleh PKPU. Karena di dunia sosial kemanusiaan saat yang sama teramat rawan konflik dan perpecahan. Kita harus menyadari, bahwa tipikal orang-orang yang bergerak di ranah sosial dan kemanusiaan ini sangat sensitif. Mereka terbiasa bekerja dalam diam, dan juga dalam misi-misi yang lama dan sepi dari publikasi.

Pengaruhnya ke orang-orang ini adalah mereka malas berkonflik. Bukan karena takut atau tak siap, namun jiwa mereka justru lebih memilih kemanfaatan dan fokusnya pada pekerjaan. Jadi bila mereka tak merasa satu kata, sederhana saja bagi mereka. Mereka keluar, mengundurkan diri, berbagung dengan yang lain dan atau membentuk organisasi atau lembaga baru.

Ini salah satu rahasia sebenarnya, mengapa begitu mudah terjadi pragmentasi lembaga sosial kemanusiaan. Tak lain sebabnya karena orang-orang di dunia ini, tak ingin membuat konflik terbuka dan menunjukan pada publik sebuah perpecahan. Mereka lebih senang pergi dalam diam dan dengan diam-diam pula ia bergabung dengan lembaga sejenis atau ia malah mendirikan yang baru.

Jiwa orang-orang aktivis sosial kemanusiaan ini tak biasa mengurus kepentingan dirinya sendiri, apalagi untuk urusan gaji, fasilitas dan daya dukung organisasi yang lain. Dalam diri mereka telah terbentuk mindset bahwa Allah mengirim mereka untuk melakukan misi kebaikan di bumi, dan sudahlah, lupakan urusan yang lain. Apa benar sebegitu ekstrem-nya? Tentu saja di lapangan tak sepenuhnya begitu. Tokh ada juga yang kadang ngotot hanya untuk soal urusan uang lembur dan kenaikan gaji. Ada pula yang menuntut mobil, serya fasilitas lainnya dari kantor.

Tak sedikit dalam kenyataannya ada sejumlah orang di posisi marketing atau bagian yang nyari dana, ia langsung ke-geeran dan merasa bahwa karena dirinyalah organisasinya bisa tumbuh dan berkembang. Ia merasa lebih berjasa karena mampu mengumpulkan milair demi miiar dana daripada bagian lainnya. Rupanya, ia tak memiliki keutuhan cara pandang. Ia mungkin mengidap gigantisme, merasa besar hanya di bagiannya saja. Ia lupa, untuk tumbuh sehat dan bisa hadir di depan pihak lain, butuh persepsi dan cara pandang yang seimbang. Orang lain memandang seseorang tak parsial, ia akan utuh melihatnya dan juga memandangnya. Ia juga akan melihat keseluruhan dan kadang tidak mau tahu urusan internal lainnya. Yang ia mau adalah kehadiran utuh sosok seseorang dengan  segala kelebihan dan kekurangannya.

Nah, di usia 18 tahun ini sudah saatnya PKPU mengubah perilaku, yang tadinya sering memandang ke dalam dan melihat dirinya sendiri, maka di moment ini saatnya PKPU menunjukan kepeduliannya lebih besar pada dunia. Kapasitas yang sudah sebesar ini sudah saatnya digunakan bagi kemakmuran bumi dan kedamaian hingga ujung dunia.

Dalam sebuah moment di film Spiderman,  ada pesan singkat pamannya Ben sebelum kematian menjemputnya. Ia bilang : "Kapasitas yang besar butuh tanggung jawab yang semakin besar". Kalimat tadi terkesan sederhana, namun bagi PKPU jelas maknanya dalam. Urusan SDM benar masalah, baik kapasitasnya maupun standarisainya, namun anggap saja itu tantangan agar PKPU bisa naik kelas dan bisa lulus dari ujian dengan tema SDM ini.

Kini, saatnya PKPU terus melakukan transformasi dan melakukan program inovasi bagi perbaikan dunia filantropi dan sosial kemanusiaan Indonesia, bahkan juga dunia. Pastikan pula langkah PKPU nantinya sampai di garis finish sebagai organisasi kemanusiaan terbaik di dunia yang bekerja bukan semata untuk kebaikan sesama, namun juga untuk keadilan dan perdamaian dunia.

Selamat Milad ke-18 PKPU Human Initiatif, 10 Desember 1999 - 10 Desember 2017

****

Tulisan ini mulai ditulis di forum finalisasi RKAT Lembaga IZI, PKPU dan Iwakaf, dilanjutkan ditulis di Ruang Tunggu Bandara Halim Perdanakusuma hingga di selesaikan dalam pesawat Batik Air ID 7531 dari Halim Menuju Jogja,  Jum'at-Sabtu, 8-9 Desember 2017.

*) Penulis adalah "Alumni PKPU", bergabung di PKPU sejak 1 September 2001. Kini diamanahi sebagai Direktur Pendayagunaan Laznas IZI sejak di spin off dari PKPU tahun 2015.