Jumat , 15 December 2017, 04:30 WIB

Palestina Bukan Urusanku, Masih Layakkah Aku Jadi Umatmu?

Red: Agus Yulianto
Mohamad Torokman/Reuters
Petugas intel Israel yang menyamar menangkap pemuda Palestina pada aksi unjukrasa di Kota Ramallah, Tepi Barat, Palestina.
Petugas intel Israel yang menyamar menangkap pemuda Palestina pada aksi unjukrasa di Kota Ramallah, Tepi Barat, Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Tatang Hidayat *)

Seseorang yang mencintai kekasih, pasti akan mencintai apapun yang ada dalam diri kekasih tersebut. Baik itu cinta orangtuanya, cara bersikap, tempat tinggalnya, orang-orang yang dicintainya, dan apapun yang dilakukan oleh kekasihnya.

Salah satu bukti cinta kita kepada Nabi SAW, pasti kita akan berusaha meneladani apa yang ada dalam diri Nabi SAW dan kita akan sungguh-sungguh meneladani apapun yang Beliau contohkan. Bukan hanya dari ibadah ritual dan akhlaknya saja, tetapi dalam segala aspek kehidupan. Karena Allah SST berfirman yang artinya: "Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik." (QS al-Ahzab [33]: 21).

Berangkat dari hal ini, maka dalam diri Nabi SAW sudah ada suri tauladan yang baik. Oleh karenanya, tidak ada alasan lagi bagi kita selaku umatnya untuk tidak menjadikan Nabi SAW sebagai suri tauladan yang patut kita contoh dalam melaksanakan kehidupan ini.

Oleh karenanya pula, jika kita memang benar-benar cinta kepada Nabi SAW, maka kita pasti akan berusaha untuk meneladani apa yang Beliau SAW contohkan, bukan hanya dalam ibadah ritual dan akhlaknya saja, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan.

Karena, Beliau SAW tidak hanya mengajarkan aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja, tetapi Beliau SAW juga mengajarkan kepada umatnya dalam bermua’amalah, baik itu dalam bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, hukum, pemerintahan dan yang lainnya.

Pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar mencintai Nabi Muhammad Saw dengan sebenar-benarnya cinta? Yakni dengan meyakini dan mengamalkan risalah apa yang Nabi SAW sampaikan. Nyatanya, ternyata aku masih jauh dalam meneladani Nabi SAW.

Begitu berat hati ini untuk meyakini dan mengamalkan risalah yang Beliau SAW sampaikan. Aku masih memilah-milih ayat mana yang sesuai dengan hawa nafsuku  baru di amalkan, dan mana yang tidak sesuai dengan hawa nafsuku, berat rasanya untuk mengamalkannya bahkan sesekali berdalih dengan ayat-ayat lain supaya ada pembenaran atas sikap diriku.

Berat rasanya bagi kita saat ini untuk meninggalkan riba. Padahal, riba jelas-jelas dilarang dalam risalah yang Nabi SAW sampaikan. Begitu berat bagi kita saat ini untuk mengatur urusan sosial dengan aturan Islam, berat bagi kita saat ini untuk mengatur pendidikan dengan aturan Islam, begitu berat hati ini untuk menerima aturan Islam dalam mengatur seluruh aspek kehidupan.

Apalagi begitu sangat beratnya hati ini untuk menerima sanksi-sanksi hukum Islam yang tercantum di dalam Alquran (seperti qishash, potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk bagi pemabuk, hukuman mati bagi yang murtad dll) dengan berbagai alasannya.

Bahkan ada sepintas dari hati ini berburuk sangka terhadap aturan yang tercantum dalam Alquran tersebut, kita anggap sebagai aturan yang melanggar hak asasi manusia, demokrasi. Bahkan kita lebih bangga dan mengagungkan aturan buatan diri sendiri.

Perjuangan Nabi SAW dalam menyampaikan risalah Islam ini tidak mudah, karena begitu banyak halangan dan rintangan yang harus Beliau SAW hadapi dalam rangka menyampaikan risalah-Nya. Beliau SAW rela kelaparan, diboikot, dihina, dilecehkan, didzalimi, diusir bahkan harus berkorban jiwa dan raga.

Tetapi, Beliau SAW tetap menjalani itu semua dengan penuh ikhlas dan sabar. Beliau SAW rela melakukan itu semua supaya bisa menyelamatkan umat manusia dari kesesatan menuju kebenaran. Beliau SAW tidak ingin umat manusia ini tersesat, sehingga Beliau SAW sering memikirkan bagaimana supaya risalah Islam ini sampai kepada seluruh umat manusia.

Nabi SAW juga sering memikirkan keadaan umatnya, begitu besar cinta Nabi SAW kepada umatnya. Bahkan, ketika sakaratul mautpun, Nabi SAW masih ingat kepada umatnya. Berangkat dari hal ini, maka kita selaku umat Nabi SAW patut bangga dan bersyukur menjadi bagian dari umat Nabi. Disamping itu, tentunya selain cinta kepada Nabi, kita juga harus meneladani Nabi SAW dalam mencintai umatnya.

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah Saw bersabda: "Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya…" (HR. Muslim).

Hadis di atas juga tercantum dalam hadis Arba’in ke-36 karya Imam Nawawi rahimahullah, ada pelajaran dan kenangan khusus mengenai hadits arba’in ini. Teringat apa yang disampaikan guru kami ketika mengijazahkan hadits arbai’in ini kepada murid-muridnya. Guru kami terima ijazah hadits arbai’in ini dari gurunya yang diijazahkan di makam Imam Nawawi rahimahullah dengan sanad khusus, yakni semua rawinya adalah ulama-ulama Damaskus Syiria.

Ini menunjukkan, guru kami ingin memberikan pelajaran kepada muridnya, ketika akan khatam dan mengijazahkan suatu kitab, alangkah baiknya kitab tersebut dikhatamkan dan diijazahkan di makam penulis/penyusun kitab tersebut, dan tradisi ini merupakan tradisi yang masyhur dikalangan guru-guru kami.

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa kita selaku orang mukmin harus saling memudahkan urusan dengan mukmin lainnya. Karena orang mukmin itu adalah bersaudara, maka kita harus memperhatikan urusan sesama mukmin yang lain. Apalagi memperhatikan urusan umat Nabi SAW, karena Nabi sendiri selalu memikirkan urusan umatnya.

Tidak ada alasan lain bagi kita selaku umat Nabi SAW untuk tidak peduli terhadap umat Nabi SAW yang lainnya. Maka saya paham, mengapa guru kami ketika di pagi hari antara azan Shubuh dan iqamah selalu memimpin doa untuk kemaslahatan umat Nabi SAW. Ini menunjukkan, guru kami ingin memberikan contoh dan pelajaran kepada muridnya, ketika bangun di pagi hari mengajak muridnya untuk langsung diajak belajar memikirkan urusan umat Nabi SAW.

Tetapi dalam kenyataannya, hati ini begitu berat untuk peduli kepada umat Nabi SAW. Umat Nabi SAW di sana banyak yang menderita, penderitaan yang dialami umat di Irak, Palestina, Afghanistan, Suriah, Afrika Utara, Bosnia, Rohingya dan masih banyak permasalahan yang menimpa umat di negeri Muslim lainnya.

Mereka umat Nabi SAW menderita, didzalimi, kelaparan, dibantai, terombang ambing di lautan, Muslimah dilecehkan, diperkosa, laki-laki di usir, anak-anak menderita ketakutan bahkan ada sampai yang dibakar, dan mereka semua adalah umat Nabi SAW yang selalu Nabi pikirkan.

Bahkan saat ini, kembali Palestina menjadi korban ketidakadilan. Dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (6/12), Presiden Amerika Serikat yakni Trump mengatakan ‘sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel’.

Telah kita maklumi bersama bahwa Israel merupakan negera penjajah, dan pernyataan Trump sangat bertentangan dengan prinsip kemerdekaan yang merupakan hak segala bangsa. Oleh karena itu, segala bentuk penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina harus segera dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
 
Pertanyaannya, dimana hak asasi manusia yang selama ini digembar-gemborkan, dimana toleransi yang selama ini dieluk-elukan, dimana negara-negara barat yang selama ini rajin membicarakan perdamaian, ketika yang menjadi korbannya adalah umat Nabi SAW.

Kemudian yang paling menyakitkan dan menyedihkan adalah dimana tentara-tentara kaum Muslim yang dahulu sangat ditakutkan oleh musuh-musuhnya, dimana kaum Muslim yang selama ini berjumlah 1,5 miliar. Sungguh benar apa yang disampaikan Nabi SAW, bahwa saat ini kita bagaikan buih di lautan.

Kita hanya bisa melihat penderitaan mereka, kita terlalu sibuk dengan cita-cita, mengejar seberapa banyak harta yang bisa diraih, hanyut dalam hawa nafsu, mengejar cinta yang tidak ada kepastian, terbawa dalam gemerlap kehidupan dunia, dan sibuk mengejar semua ambisi-ambisi dunia yang tidak akan terselesaikan karena ada penyakit al-wahn dalam diri kita, yakni cinta dunia dan takut mati.

Tentunya aku akan malu ketika suatu saat nanti harus bertemu denganmu Yaa Rasulullah. Saat umatmu nan jauh di sana didzalimi, namun tidak ada sedikit dalam hatiku peduli terhadap mereka. Yaa Rasulullah layakkah aku menjadi umat Nabi Saw ? Apakah nanti aku yakin akan diakui oleh sebagai umatmu Yaa Rasulullah ?

Berangkat dari hal ini, peringatan Maulid Nabi Saw yang selalu diperingati setiap tahunnya di negeri ini, alangkah baiknya untuk dijiwai dan meresap kedalam hati, bukan hanya sekedar acara rutinan dan ritual semata, tetapi harus masuk ke dalam hati dan dari peringatan tersebut bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya berusaha sungguh-sungguh untuk meneladani Nabi SAW.

Aksi 212 yang baru terjadi di negeri ini menunjukkan umat Islam bisa bersatu dan bergerak membela Alquran saat QS. Al-Maidah ayat 51 yang dinistakan. Selanjutnya, umat juga harus bersatu dan bergerak dalam rangka memperjuangkan seluruh isi Alquran untuk diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, karena tidak diterapkannya isi Alquran dalam seluruh aspek kehidupan, merupakan salah satu bentuk pelecehan terhadap Alquran.

Begitupun dengan pernyataan Trump yang mengatakan bahwa Yerusalem merupakan Ibu Kota Israel bisa dijadikan momentum umat Islam untuk bersatu dalam skala internasional, dan ini merupakan sesuatu yang bukan mustahil. Ketika bersatunya umat Islam, maka umat juga harus bersatu dan bergerak dalam rangka memperjuangkan seluruh isi Alquran untuk diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Dengan diterapkannya seluruh isi Alquran, maka Alquran ini akan memberikan cahaya kepada seluruh umat manusia, dan penderitaan yang di alami oleh umat Nabi Saw dimanapun berada mudah-mudahan akan segera berakhir, sehingga esensi Islam rahmatan lil ‘alamin bisa segera terwujud. Wallahu’alam bi ash- Shawab.

*) Ketua Badan Eksekutif Koordinator Daerah Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BE Korda BKLDK) Kota Bandung