Kamis , 07 December 2017, 09:30 WIB

Bukan Otak Udang di Balik Kegemilangan ’K Pop’ dan Kejayaan Peradaban Islam

Red: Muhammad Subarkah
Soompi
Grup populer dari Korea Selatan, BTS akan terlibat dalam proyek remake lagu dari Seo Taiji.
Grup populer dari Korea Selatan, BTS akan terlibat dalam proyek remake lagu dari Seo Taiji.

Oleh: Soenano*

Pada pertengahan 2010, sempat diadakan diskusi terbuka oleh Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta dengan pembicara Prof. Hyung-Jun Kim dari Korea Selatan. Kesempatan diskusi saya gunakan untuk bertanya tentang resep kenapa Korea Selatan pada dekade 60-an jauh tertinggal dengan Indonesia karena dampak perang, sedangkan sekarang Indonesia malah jauh tertinggal dari Korea Selatan dalam segala hal. Bahkan Korea Selatan adalah negara penghasil title Ph.D terbanyak di dunia.

Jawab Prof Hyung sangat mengejutkan. Walaupun tidak semua resep kemajuan dijelaskan, tapi Beliau menjelaskan bahwa di Korea Selatan sampai sekarang tiap desa memiliki perpustakaan lengkap berkaitan dengan sejarah, kondisi sosial, ekonomi, politik desa masing-masing. Juga dilengkapi dengan buku-buku referensi yang lengkap dari manapun. Tradisi membaca memang sangat kuat di Korea Selatan dan itu ditradisikan.

Saya jadi ingat film Korea pada permulaan booming F-K yang ditayangkan di Indosiar adalah film Jewel In The Palace, kisah perempuan dengan obsesi belajar sangat tinggi, kehausan ilmu yang luar biasa sampai menjadi dokter bedah pertama Korea. Tokoh utama Jang Geum adalah prototipe perempuan tidak wajar, karena berani mencuri buku demi mengetahui kebenaran, dengan resiko di penjara bahkan sampai ancaman pembunuhan.

Di Indonesia, membaca adalah barang langka. Kalau toh banyak yang hobi membaca hanya untuk kebutuhan emosional. Hal ini menggejala sejak paruh 2005 saat dominasi non intelektual (baca: politik) memberangus tradisi berfikir anak muda kita. Kebutuhan emosional bisa dilihat dengan makin larisnya buku-buku motifasi, terapi spikologis, how to, tips, novel berbasis emosi, dan buku “mirip biografi”.

Sedangkan buku-buku pemikiran, ilmiah yang berat dan tebal makin tidak diminati, kalau toh kalangan mahasiswa membutuhkan buku itu hanya untuk referensi kuliah yang dibaca sebentar saja. Sangat jarang, atau bisa dibilang langka sekali tiap rumah, desa, mahasiswa punya perpustakaan. Minimal menyimpan semua referensi kuliah. Entahlah apa yang mereka pelajari selama ini.

Sementara para pemilik modal dan kalangan intelektual sekarang banyak memilih berinvestasi pada manusianya. Membangun human risources, dengan mendirikan sekolah. Setelah berdiri, sekolah itu berbiaya sangat mahal. Lihat saja, pak Amien Rais mendirikan SMA Budi Mulya dengan biaya termahal di Jogja. Juga banyak contoh lain. Sementara investasi fisik dan butuh biaya operasional seperti perpustakaan tidak ada yang mendirikan.

Saya kira inilah yang secara perlahan menghancurkan tradisi intelektual bangsa kita. Pendidikan yang baik adalah yang berbiaya mahal. Karena berbiaya mahal maka tiap orang tua dan siswa dipaksa memenuhi kebutuhan membayar. Caranya..? terserah. Bagi yang tidak mampu, jangan berani-berani daftar sekolah.

Padahal Muhammadiyah dan Taman Siswa mendirikan sekolah dulu dengan gratis hanya untuk mencerdaskan bangsa. Tidak jarang guru, pemilik sekolah membanting tulang menutupi biaya operasional dengan menggadaikan barang pribadi atau meminta donor pada pengusaha. Yang penting generasi bangsa menjadi cerdas. Dan banyak pengusaha waktu itu mau membantu.

Pada tradisi NU, mendirikan pesantren dengan biaya seikhlasnya dari orang tua santri. Yang punya beras menyumbang beras, yang punya ketela disumbang ketela. Dan masing-masing ikhlas menerima. Masalah kualitas, jelas unggulan karena guru, kyai memiliki integritas dalam mendidik, mencerdaskan. Bangga jika murid, santri menjadi cerdas, walaupun tanpa digaji. Tradisi literasi pesantren NU yang mengacu pada pembelajaran berbasis buku berhasil mempertahankan sisa-sisa literasi Indonesia yang hampir remuk-redam. Sedangkan sekolah agama dan umum, bahkan tidak pernah ada pelajaran berbasis buku.

Kembali pada tradisi adanya perpustakaan desa di Korea Selatan. Di Indonesia, kayaknya hal yang hampir mustahil. Lihat saja, mana ada orang dengan kemampuan modal tinggi punya motifasi beramal dengan mendirikan perpustakaan. Jangankan akan menghasilkan cash back, malah tiap bulan kita dituntut mengeluarkan biaya operasional. Sampai-sampai pada paruh 2008, perpustakaan Hatta yang sangat lengkap terpaksa tutup. Semua buku disumbangkan ke UGM, tapi lacur, ¾ buku yang disumbangkan berhasil dicuri.