Kamis , 07 Desember 2017, 01:00 WIB

Antara Amil dan Relawan

Red: Agus Yulianto
dok. Humas PKPU
Nana Sudiana
Nana Sudiana

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh; Nana Sudiana *)

"Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggung jawab bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya". (Rahmat Abdullah).

***

Bagi sebagian orang, tanggal 5 Desember mungkin tanggal biasa saja, sama seperti hari-hari lainnya. Namun bagi mereka yang tergabung di dalam dunia pengambdian sosial dan kemanusiaan, tentu saja situasinya berbeda.

Seorang tokoh muda dari gerakan kemanusiaan Indonesia, Agung Notowiguno yang juga Presiden Direktur PKPU Human Initiatif melukiskan dengan teramat dalam kesannya terhadap moment 5 Desember ini, sebuah peristiwa  yang di dunia sosial kemanusiaan diperingati sebagai International Volunteer Day atau Hari Relawan Internasional. Begini kata beliau di akun pribadi FB-nya:

"Di sana kau berdiri,
di garis depan ruang-ruang kemanusiaan.
Sepenuh Hati Merajut bakti,
Merajut asa  membangun jiwa.

Dan ketika Kemanusiaan memanggil,
Dari ujung bahkan hingga pelosok negeri.
Kau dengar...dan kaupun berlari menghampiri.
Tiada peduli aral merintangi...

Untukmu para relawan sejati...
Untukmu pejuang kemanusiaan yang hakiki...
Untukmu yang mencari Ridho ILLAHI.

Selamat Hari Relawan Internasional 5 Desember 2017

***

Sebagaimana kita tahu, Hari Relawan ini telah ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1985. Maka sejak saat itu, setiap tanggal 5 Desember diperingati sebagai hari relawan internasional. Hari relawan bukan hanya milik organisasi kemanusiaan semata. Moment ini sejatinya menjadi penanda bagi siapapun individu atau organisasi yang secara suka rela melakukan pengabdian di dunia sosial dan kemanusiaan. Mereka ini pun bisa saja berasal dari lembaga pemerintah, lembaga non profit, kelompok masyarakat, akademisi atau sektor lainnya seperti swasta maupun korporasi.

Di moment 5 Desember pula sebenarnya sebuah kesempatan menyampaikan gagasan dan hasil-hasil pemikiran maupun hasil karya dari pengabdian gerakan sosial kemanusiaan pada publik. Agar mereka bisa mendapatkan informasi lebih banyak dari nara sumbernya langsung di gerakan sosial kemanusiaan, bahkan didukung pula dengan kuatnya dokumen-dokumen yang bisa menceritakan lebih informatif bagaimana para relawan bekerja di dunia sosial kemanusiaan.

Sumbangan dunia sosial kemanusiaan yang digagas dan di inisiasi serta dilakukan oleh para relawan sudah selayaknya mendapatkan tempat memadai untuk dilihat masyarakat luas agar mereka memahami dengan baik betapa tak mudah mengimplementasikan rasa kepedulian itu ketika berada di lapangan sosial kemanusiaan, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Dalam praktiknya, program-program atau aktivitas kesukarelawanan ini telah mendapat tempat di dunia. Banyak orang tertarik dan kemudian bergabung dengan badan-badan atau lembaga guna mengabdi di dunia sosial kemanusiaan. Sebagian mereka tak berorientasi profit sama sekali, padahal sejumlah aktivitas para relawan seringkali  justru berada di area-area rawan dan berbahaya. Bahaya ini datang dari sisi tempatnya yang memang terkena musibah secara alami atau karena faktor terjadinya konflik atau kepentingan sejumlah pihak yang ada di sekitar peristiwa kemanusiaan ini berlangsung.

Ada ratusan, bahkan ribuan orang relawan dari berbagai organisasi yang setiap hari bekerja tak kenal lelah membantu sesama. Begitu panggilan aksi kemanusiaan meminta kehadiran mereka, kadangkala mereka bergerak tanpa memenuhi standar keselamatan aktivitas kemanusiaan. Jiwa dan panggilan nurani untuk melakukan pengabdian sosial kemanusiaan, idealnya senantiasa diiringi sisi standar dan ketentuan baku akan aspek keselamatan di lapangan.

***

Dalam perkembangannya, hari relawan kini juga cukup familiar di gerakan zakat. Hal ini tiada lain karena gerakan zakat, khususnya di Indonesia telah pula memasuki urusan yang lebih jauh. Zakat digunakan di lapangan tak sekedar pada delapan ashnaf secara kaku. Praktiknya sejumlah gerakan zakat saat yang sama, telah pula muncul menjadi gerakan kemanusiaan. Kehadiran gerakan zakat di dunia kemanusiaan kini tak asing, bahkan di moment hari-hari sebuah bencana terjadi di lapangan, aktivis gerakan zakat tak kalah sigap juga bekerja selayaknya dengan relawan kemanusiaan pada umumnya.

Gerakan zakat bukan memperluas sekup, apalagi "menambah kerjaan" namun memang karena gerakan zakat juga terpanggil untuk melakukan hal yang sama untuk membantu dan meringankan beban musibah bila terjadi. Apalagi bila kejadian kemanusiaan atau musibah ini berimplikasi pada rakyat kecil yang notabene berkategori fakir atau miskin. Bila yang terkena musibah atau sasaran aktivitas kemanusiaan ini mereka ashnaf penerima zakat, semakin gerakan zakat tak akan ragu untuk secepatnya membantu dan terlibat dalam kerja-kerja sosial dan kemanusiaan bersama siapapun di lapangan.

Di tengah dinamika ini, jelas sekali hari relawan internasional bukan moment asing bagi gerakan zakat. Moment ini pula bukan pula secara ekslusif milik organisasi sosial atau lembaga kemanusiaan. Karena sejatinya gerakan sosial kemanusiaan dan gerakan zakat memenuhi panggilan jiwa yang sama, yakni kepedulian untuk berbagi. Gerakan kemanusiaan hadir dalam lansekap general, bahkan sangat luas, saat yang sama, gerakan zakat juga hadir untuk menopang problem mustahik dimanapun mereka berada. Kadang, gerakan zakat berjuang tak kenal waktu untuk menjadi bagian solusi masalah yang dihadapi para dhuafa yang miskin dan papa di setiap hari kehidupannya.

Zakat solusi problem kemanusiaan

Masalah kemanusiaan bukan semata musibah, bencana alam atau perang. Kemiskinan pun seaungguhnya bencana terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Belum lagi keterbelakangan kehidupan dan tiadanya daya dukung kehidupan yang layak bagi mereka yang fakir dan miskin di banyak tempat di dunia.

Di tengah kemiskinan, yang juga di derita pula oleh Umat Islam di banyak bagian dunia, sejatinya zakat laksana pelita di kegelapan. Ia bisa menjadi sesuatu yang bisa jadi sandaran atas solusi yang diinginkan untuk perbaikan masalah umat dan bangsa. Zakat yang jumlahnya terus meningkat signifikan penghinpunannya, bisa pula menjadi seakan "tali penolong" dari beratnya tekanan kehidupan sehari-hari yang dialami mereka yang berkategori fakir dan miskin. Dengan zakat, diharapkan ada perubahan kehidupan untuk bisa terus meningkat signifikan. Berlalunya waktu, menjadi bumerang bila justru orang-orang miskin ini semakin bertambah miskin dan semakin banyak jumlahnya.

Lewat program-program pendayagunaan zakat, diharapkan akan muncul sejumlah aktivitas nyata untuk mengurangi kemiskinan secara signifikan. Apalagi bila gerakan zakat mampu membangun aliansi dengan masjid dan mushola yang ada. Betapa mereka yang selama ini rajin ke mesjid namun hidupnya miskin dan kurang beruntung akan merasakan berkahnya gerakan zakat yang menyapa kehidupan mereka.

Zakat adalah solusi. Ia juga secara ideal menjadi jembatan akan banyaknya permasalahan keseahrian orang-orang miskin di sekitar kita. Persolan pendidikan, ekonomi, kesehatan serta kedaruratan lainnya adalah ladang amal gerakan zakat untuk membuktikan kepeduliannya pada sesama. Aktivis gerakan zakat tak butuh momentum besar untuk bergerak membantu memperingan dan memudahkan sesama.

Tak perlu ada musibah yang harus terjadi terlebih dulu agar gerakan zakat hadir dan membantu. Tokh bagi mereka yang berkategori untuk dimudahkan hidupnya telah amat benderang dengan istilah ashnaf penerima zakat. Walau terlihat kaku, sejatinya ini adalah cara Islam memastikan gerakan zakat bisa fokus menangani dan menuntaskan masalah kemiskinan yang juga menjadi pilar problem kemanusiaan di dunia.

Zakat adalah energi kemanusiaan

Dengan potensi zakat yang terus meningkat setiap tahunnya, zakat sejatinya adalah energi gerakan kemanusiaan. Ia bisa menjadi sumber dan tenaga bagi problematika kemanusiaan global. Sebagaimana layaknya sumber energi, ia memerlukan pengelolaan yang memadai dan penuh kehati-hatian agar efisien penggunaannya namun memiliki dampak yang luas bagi terselesaikannya persolan kemanusiaan yang ada di dunia sosial kemanusiaan.

Zakat sebagai energi kemanusiaan perlu pula terus didorong agar mampu lebih luas membangkitkan iklim kepedulian bagi sesama. Energi zakat juga perlu diperlebar kolaborasinya dengan sumber pendanaan lainnya seperti infak, sedekah, wakaf dan hibah agar semakin kuat nyala apinya bagi penuntasan kemiskinan yang laten menyerang indahnya kehidupan manusia. Kemiskinan yang ekstrim dan tidak terkendali bisa menjadi bahaya kemanusiaan di masa depan. Ia bisa merusak sendi-sendi kedamaian hidup dan ketenangan umat manusia. Kemiskinan juga adalah bencana kemanusiaan, dan bisa berbahaya bagi penciptaan kedamaian dan tata kehidupan umat manusia.

Ketika zakat dan kekuatan dana sosial umat berhasil berkolaborasi. Maka daya dorong relawan dengan sendirinya akan juga meningkat. Kekuatan relawan untuk memajukan pembangunan bangsa dan umat ini tak bisa dianggap enteng. Bukan saja kemajuan ekonomi dan fisik, namun juga tak menutup kemungkinan persoalan mental dan spiritual orang-orang fakir dan miskin bisa sedikit demi sedikit terbantu penyelesaiannya. Kita juga sadar, persoalan kemiskinan ini pada dasarnya tak lepas dari adanya mental miskin yang masih erat melekat di banyak mindset orang miskin.

Menjadi miskin lalu meminta-minta seolah jamak dan tak malu dilakukan orang-orang fakir dan miskin di sekitar kita. Dan inilah juga pekerjaan lembaga-lembaga zakat saat ini, yakni membina mereka agar punya izzah dan harga diri. Miskin boleh, tapi semangat kemandiriannya harus hidup dan menyala di benak mereka. Miskin boleh, tapi motivasi dan mindset mereka adalah orang merdeka yang ingin memperbaiki kehidupannya sendiri dengan kaki dan tangan mereka. Tugas ini bukanlah tugas mudah, membangkitkan visi dan impian orang-orang miskin agar bisa bangkit dari belenggu kemiskinan dan keterbatasan hidup.

Inilah tugas para relawan, baik yang ada di sektor sosial, kemanusiaan maupun gerakan zakat. Membangun kebaikan tanpa pamrih, didengar atau tidak oleh media serta dipuji atau tidak oleh manusia. Jiwa kerelawanan adalah tetesan jiwa langit, ia akan abadi dikenang zaman walau mungkin para pelakunya tak dikenal manusia. Kerelawanan adalah bekerja di kesunyian, ia mungkin tak menggema, namun sejatinya menembus jiwa yang gersang dan butuh perhatian dan ketulusan sejati. Relawan adalah makhluk bumi tapi rasa langit.

Selamat bekerja untuk para relawan dimanapun berada. Semoga tetap istiqomah dan berorientasi pengabdian bagi jalan kebaikan dan jalan kemanusiaan.

Selamat Hari Relawan Internasional, 5 Desember 2017.

"Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105).

Ditulis dalam perjalanan Jakarta - Makassar, Selasa, 5 Desember 2017


*) Direktur Pendayagunaan IZI & Ketua 1 FOZ Pusat