Rabu , 06 Desember 2017, 18:44 WIB

Prospek Politik REUNI 212 : “Don’t Worry, Be Happy!"

Red: Muhammad Subarkah
Yasin Habibi/ Republika
Ribuan umat Islam mengikuti Reuni 212 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (2/12).
Ribuan umat Islam mengikuti Reuni 212 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (2/12).

Oleh: DR Denny JA*

Jika perspektif demokrasi yang digunakan, bagaimana kita menilai gerakan sosial REUNI 212 dan prospek politiknya di Indonesia masa kini? Bahayakah gerakan ini? Akankah ia membesar dan menggulung yang menentangnya? Akankah Indonesia kembali ke Piagam Jakarta?

Untuk menilai secara adil, kita pisahkan dulu REUNI 212 sebagai sebuah gerakan sosial atau  forum civil society. Dan REUNI 211 sebagai perjuangan ideologis atau cita cita sosial.

Sebagai sebuah gerakan social dan forum civil society, REUNI 212 dan gerakan 212 setahun sebelumnya, bisa disebut sebagai puncak pencapaian civil society di indonesia. Tentu penilaian ini belum mengevaluasi ideologi yang diperjuangkannya.

Sebagai gerakan sosial, sebagai forum civil society, sejak reformasi 1998 bahkan sejak 1945, Indonesia tak pernah mengalami sebuah event sekualitas itu. Begitu besar jumlah massanya. Mungkin terbesar dalam sejarah Indonesia.

Begitu tinggi voluntarism, kegotong royongan yang terjadi. Sangat terasa passion dan gairah mereka yang hadir. Sangat tertib pula event itu. Dalam jumlah massa sedemikian besar, Monas dan jalan raya seputarnya, rumput di taman, tetap tertata rapih dan bersih ketika acara selesai.

Efek psikologis mereka yang hadir juga luar biasa. Tak jarang dalam pertemuan raksasa itu, banyak yang meneteskan air mata merasakan kebersamaan yang hadir. Sangat sulit membuat event sebesar itu, sekualitas itu dan setertib itu.

Hanya dari sisi forum civil socity, REUNI 212 dan gerakan 212 setahun sebelumnya akan dicatat sejarah dengan tinta emas.