Senin , 04 Desember 2017, 04:00 WIB

Tahun Baru: Pemenuhan Hasrat atau Harapan?

Red: Agus Yulianto
dok. Pribadi
Winny Gunarti
Winny Gunarti

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr Winny Gunarti *)
 
Akhir tahun kalender Masehi sudah tinggal hitungan hari. Di penghujung tahun, 31 Desember, umumnya masyarakat di seluruh dunia berkumpul untuk memeriahkan malam tahun baru dengan berbagai euforia. Kebanyakan orang menganggap awal tahun baru perlu disambut dengan sukacita. Tahun baru identik dengan ekpresi “hasrat” dan “harapan”. Di negeri kita, perayaan tahun baru lebih berkiblat pada budaya barat, disikapi dengan suasana pesta, pelepasan petasan, dan kembang api, pertunjukan musik, makan-makan, dan acara begadang semalam suntuk.

Dalam konteks Islami, masyarakat Muslim tidak merayakan tahun baru, karena pergantian tahun mengacu pada kalender Hijriyah, dan diperingati setiap tanggal 1 Muharram dengan cara melaksanakan ibadah khusus mulai dari zikir, puasa, baca Alquran, dan ritual lainnya. Masyarakat Muslim lebih mengagungkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai bentuk “hasrat dan harapan” terhadap perubahan diri yang lebih hakiki. Ekspresi ini diwujudkan melalui kegiatan saling bersilaturahmi dan saling memaafkan. 

Sementara orang-orang Tionghoa, menyambut Tahun Baru Imlek dengan tradisi di antaranya menyalakan petasan, membersihkan rumah, menempelkan puisi harapan, saling mengunjungi sanak keluarga, dan juga berbagi bingkisan dodol Cina kepada kerabat atau tetangga. Tahun Baru Imlek yang kerap ditandai dengan curah hujan kemudian disyukuri dan dimaknai sebagai pembawa kebaikan serta banyak rezeki.

Apa yang menarik untuk direnungkan dari kebiasaan masyarakat merayakan “tahun baru” dalam lingkup sosial dan budaya? Intisari aktivitas budaya manusia untuk mengawali tahun baru sesungguhnya mengacu pada premis yang sama, yaitu untuk memenuhi “hasrat dan harapan” mereka sebagai makhluk sosial demi meraih kehidupan yang lebih baik, terutama melalui tercapainya kesuksesan baru, kebahagiaan baru, jalan baru, karir baru, dan segala sesuatu yang harus berbeda dari tahun sebelumnya.

Persoalannya adalah, keinginan dan euforia manusia untuk memenuhi “hasrat serba baru” di awal tahun itu sering kali menggiring mereka ke dalam jaring-jaring kapitalisme dan  konsumerisme. Di era digital informasi yang serba mudah, instan, menggoda, dan meneror pandangan mata, jiwa, dan pikiran itu, manusia masa kini dituntut untuk berjuang habis-habisan  melawan hasrat pemuasan kebutuhannya.

Dalam buku berjudul Bayang-Bayang Tuhan, Agama dan Imajinasi (2011), Piliang mengatakan, bahwa ketika kapitalisme global telah merasuki mental kolektif manusia, maka yang terjadi adalah masyarakat konsumer yang kerap menjadi asing terhadap hasratnya yang lebih mulia (al-nafs al-muthma’innah), masyarakat yang pada ujungnya terperangkap dalam pergantian citra dan gaya hidup, yang membuat mereka kemudian kehilangan ruang untuk meningkatkan “kualitas nafs”.

Kemeriahan tahun baru memang tidak dapat dilepaskan dari ruang hasrat (nafs), sebuah ruang yang dipenuhi dengan keinginan yang kuat, yang dapat teraba dan tidak teraba, ruang sosial yang bisa ada di dunia nyata ataupun dunia maya, tempat individu mengkonstruksi citranya melalui berbagai sarana. Norma-norma yang tidak umum tidak jarang diikuti agar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Cara kita berbahasa boleh dimodifikasi karena ada kebutuhan “kids jaman now”. Perkembangan lagu-lagu dangdut dengan syair yang “vulgar” pun semakin menjadi hal yang wajar dan bebas diviralkan di media sosial, dinyanyikan tanpa malu-malu di warung-warung serta acara hajatan di gang-gang, bahkan juga dilantunkan oleh anak-anak di bawah umur demi memperoleh saweran.

Filsuf Perancis Jean Franҫois Lyotard dalam Piliang (2011) bahkan menekankan bahwa “di dalam ruang sosial itu, setiap orang harus dapat mengambil keuntungan dari kekuatan hasratnya. Setiap orang harus dapat memasarkan rangsangan-rangsangan libido dan melepaskan hasrat untuk mendapatkan keuntungan ekonomi”. Oleh karenanya, tidaklah mengherankan jikalau di setiap malam tahun baru, semua lapisan masyarakat, tidak peduli kaya atau miskin, seakan tidak mau ketinggalan melewatkan momen yang dianggap spesial itu.

Tempat penginapan dari yang kelas pinggiran sampai hotel berbintang sudah fully booked, aneka restoran panen hidangan untuk para tamunya, pantai dijejali orang yang menikmati romantisme angin laut, jalanan disesaki kendaraan bermotor, dan sejumlah pertokoan buka hingga tengah malam hanya untuk mendukung pelepasan hasrat manusia tersebut. Dan di antara semua hasrat yang menggebu itu, di antara semua keriuhan pesta pora, tetap saja... jauh di dalam hati sanubari manusia selalu ada selintas “harapan” yang menggelitik.  

Begitulah kodrat manusia sebagai makhluk budaya dan juga hamba Tuhan. Dalam lintasan harapan manusia tersebut, banyak doa kemudian dipanjatkan agar harapan yang belum tercapai dapat terwujud. Ketika harapan seseorang kemudian terkabul, orang sering mengatakan, “mimpinya telah menjadi kenyataan”. Pernyataan ini pun menimbulkan pertanyaan lagi, apakah makna harapan sama dengan khayalan dalam impian?

Dalam filsafat Islam, Imam Ghazali menuliskan adanya perbedaaan yang signifikan antara harapan dan khayalan: manusia yang berharap itu memiliki  dasar, sedangkan manusia yang mengkhayal sama sekali tanpa dasar. Dalam buku wasiatnya yang berjudul Minhajul Abidin, Imam Ghazali (1996) sang penulis kitab legendaris “Ihya Ulumuddin”, mengingatkan manusia untuk selalu mengiringi harapan (raja’) dengan rasa takut (khauf). “Sebab, pada hakikatnya harapan yang sejati tidak dapat dipisahkan dengan harapan yang tulus.

Oleh karenanya, ada yang mengatakan bahwa harapan itu hanyalah bagi orang yang takut. Adapun orang yang tidak merasa takut, akan merasa aman. Sedangkan rasa takut itu hanyalah bagi orang yang berpengharapan sejati, bukan bagi orang yang putus asa”. Dalam setiap langkah manusia, harus ada khauf dan raja’, keduanya menjadi senjata pengendalian diri yang saling mengikat. Jika manusia sedang dalam kesulitan, ia diharuskan memperbanyak raja’. Sedangkan bila manusia sedang dalam kesenangan, sudah seharusnya meningkatkan khauf.

Pemikiran Imam Ghazali di atas sesungguhnya mengajak kita untuk merenungkan sejenak makna “harapan” yang kerap mengisi relung-relung terdalam sanubari kita, terutama saat jiwa dan raga kita larut dalam hasrat kesenangan dunia semata-mata. Harapan akan perubahan hidup yang diinginkan manusia sebenarnya sangat mungkin dicapai selama kita menempuh jalan-jalan kebaikan.

Tidak ada harapan yang mustahil, karena semua harapan memiliki dasar untuk direalisasikan – bukan sekadar khayalan – selama manusia mau bersungguh-sungguh mengerjakannya. Salah satu kunci tercapainya harapan adalah dengan mengendalikan hasrat melalui kesadaran tentang khauf terhadap Sang Pencipta. Rasa takut mencegah kita untuk bertindak berlebih-lebihan, karena sebagaimana dikatakan Syaikh Al-Karmany dalam Gazhali (1996), “orang perlu menanam benih yang baik pada tanah yang subur, dan kemudian menyiraminya”.

Dengan kata lain, untuk menyongsong tahun baru, tidak perlu lagi kita disibukkan dengan pilihan antara pemenuhan  “hasrat” atau  “harapan”. Sebaliknya, kita sudah harus menetapkan tujuan mengawali tahun baru dengan menanam benih yang lebih baik dan berjalan di jalan yang lebih berkualitas, agar harapan baru segera terwujud. Wallahu A'lam.

*) Dosen dan Peneliti, DKV, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta. Email: winnygw@gmail.com