Ahad , 03 Desember 2017, 04:37 WIB

Maulid Nabi dan Krisis Kepemimpinan Bangsa

Red: Elba Damhuri
Wordpress.com
Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi)
Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dani Asmara, Staf Pengajar STAI Sabili Bandung

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau sering kita sebut dengan Maulid Nabi. Memperingati Maulid Nabi menjadi sangat penting manakala sosok Nabi Muhammad yang berkarakter kuat dijadikan teladan bagi seluruh umat manusia.

Terlebih, bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah mengalami krisis kepemimpinan dan keteladanan sehingga perlu melakukan revolusi mental.

Demi revolusi mental, Kementerian Pandidikan dan Kebudayaan meluncurkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PKK) yang diimplementasikan di seluruh sekolah. Pendidikan karakter, seperti religius, jujur, teloransi, disiplin, kerja keras, tanggung jawab, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai, bersahabat, berkomunikasi, gemar membaca, peduli lingkungan, dan peduli sosial harus menjadi fokus pendidikan di persekolahan.

Namun, sayang, program PKK belum disertai dengan teladan nyata dari para pemimpin bangsa. Alih-alih menjadi panutan, perilaku para pemimpin malah menjadi contoh buruk bagi generasi penerus. Terlibatnya ketua DPD, ketua MK, ketua DPR, ketua partai, gubernur, bupati, dan wali kota dalam kasus korupsi menunjukkan bahwa pemimpin bangsa berkarakter lemah sekaligus pertanda hilangnya keteladanan.

Sehingga, sejak Orde Reformasi keteladanan ini yang betul-betul dalam krisis. Telah lama bangsa ini tidak memiliki figur pemimpin yang meneladani. Tidak ada panutan dan teladan, generasi muda kehilangan exemplary center, panutan yang perkataannya sesuai dengan sikap dan perbuatan.

Sebaliknya, yang mengemuka adalah pemimpin yang berkarakter lemah, ditandai dengan maraknya kebijakan yang menyulitkan masyarakat. Akibatnya, dalam pergaulan hidup sosial, kesenjangan begitu nyata. Bahkan, beragam kejahatan yang tidak manusiawi dan perilaku biadab sebagai ciri masyarakat jahiliah kerap terjadi di penjuru negeri.

Mulai dari caci maki sampai pembunuhan muilasi. Pencopetan hingga korupsi yang semakin menjadi-jadi. Pelacuran di pinggir jalan sampai prostitusi yang dilokalisasi. Telernya generasi muda ulah miras oplosan hingga kecanduan narkoba.

Aksi pemalsuan, pedagang curang, sampai pengusaha pengemplang pajak sangat marak ikut menyertai kejahatan luar biasa, seperti terorisme, narkoba, dan korupsi.

Memang, sejak awal pemerintahan Jokowi telah mengendus kerusakan mental yang diidap masyarakat sehingga menjadikan revolusi mental sebagi program utama. Melalui Nawacita, rencananya negara akan hadir mendampingi rakyat untuk berdaulat dalam hukum, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.