Selasa , 28 November 2017, 14:04 WIB

Jokowi-AHY, Jokowi-Gatot, Atau Jokowi-BG?

Red: Sammy Abdullah
setkab.go.id
Jokowi
Jokowi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Abdullah Sammy

 

Di dalam politik, apa yang terlihat di depan publik belum pasti sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Apalagi kini, lapangan politik dipenuhi buzzer dan mesin-mesin produsen produk propaganda di dunia maya.

 

Karena itu,  politik kadang tak kasat mata. Jadi penting bagi kita untuk mencari tahu peristiwa di balik peristiwa untuk membaca peta politik yang sesungguhnya. Sebab tak selamanya relasi koalisi dan oposisi di dunia politik itu seperti yang selama ini ditulis di atas kertas. Kadang musuh politik yang sesungguhnya justru berbaju koalisi, bahkan sesama partai. Peperangan besar justru kerap terjadi di dalam perahu sendiri. 

 

Situasi ini biasa terjadi dalam perpolitikan Indonesia setiap menjelang pemilu, terutama jelang Pilpres 2019 kini. Relasi kawan dan musuh semakin kabur akibat perang kepentingan. 

 

Kita bisa mengambil contoh jelang 2014 lalu. Pertarungan besar bukan terjadi antara Partai Demokrat dengan PDIP selaku oposisi. Sebaliknya pertarungan sesungguhnya terjadi di internal Demokrat sendiri antara kubu Anas Urbaningrum dan SBY. 

 

Situasi yang sama rentan terjadi di tubuh partai penguasa saat ini. Boleh jadi musuh sesungguhnya Jokowi bukanlah partai di luar pemerintah, melainkan dari dalam partainya sendiri. Indikasi ke arah itu semakin menguat jika melihat peta politik dan manuver terkini jelang Pilkada serentak 2018. Majunya Ridwan Kamil dan Khofifah Indar Parawansa bisa jadi cermin untuk membaca adanya perseteruan internal di lingkup kekuasaan Jokowi.

Berita Terkait