Ahad , 19 November 2017, 04:00 WIB

Dakwah Surkati dan Transformasi Ide

Red: Agus Yulianto
dok. kemenag.go.id
Menag Lukman Hakim Saifuddin memberikan sambutan pada Muktamar ke 40 Al Irsyad Al Islamiyyah (Ilustrasi)
Menag Lukman Hakim Saifuddin memberikan sambutan pada Muktamar ke 40 Al Irsyad Al Islamiyyah (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ady Amar *)

Sejak Johan Guternberg menemukan mesin cetak pada pertengahan abad ke-15. Masyarakat Eropa pun mulai memasuki era baru. Rra dimana teknologi mesin cetak mampu mempersempit jarak antarmanusia.

Dan itu, karena kemampuan teknologi dalam mentransformasikan informasi secara massal. Informasi yang disebut “berita” itu mendorong terjadinya perubahan-perubahan besar yang berkesinambungan.

Dengan demikian, proses transformasi informasi dan komunikasi pun terjalin berkelindan. Maka muncullah kesadaran baru bahwa dengan “menguasai informasi”, berarti mempunyai potensi untuk mempengaruhi opini orang lain.

Karenanya, Syekh Ahmad Surkati, menyadari begitu berartinya menjadikan media sebagai “kendaraan” dalam mentransformasikan ide-ide besar tentang semangat pembaharuan dan pemurnian Islam.

Dengan itu, maka terbitlah majalah Ad-Dakhirah Al-Islamiyyah, sebuah majalah perjuangan, khususnya di bidang da’wah dan pendidikan, yang pada waktu itu amat prestisius. Tidak banyak Ormas di nusantara saat itu yang memakai media sebagai tonggak transformasi ide kepada anggotanya. Syekh Ahmad Surkati dan Al-Irsyadnya-lah—boleh disebut—yang memeloporinya.

Sejarah Al-Irsyad mencatat sebuah revolusi lahirnya media-media di ranah Al-Irsyad. Bisa kita sebut: As-Salam (Surabaya, 1920), Al-Irsyad (Surabaya, 1920), Asy-Syifa’ (Pekalongan, 1922), Al-Qistas (Surabaya, 1923), Ad-Dakhirah Al-Islamiyyah (Batavia, 1924), Borobudur (Batavia, 1924-1925), Al-Maarif (Batavia, 1927),  Al-Mursyid (Surabaya, 1937-1939), dan masih banyak majalah lain yang lahir bak jamur di musim hujan.

Di samping memprioritaskan bidang pendidikan, tidak kalah pentingnya Surkati dalam mentransformasikan da’wahnya dilakukan lewat media cetak. Karenanya, pada saat itu “keberadaan” Al-Irsyad sebagai Gerakan Pembaharuan dan Pemurnian Islam berkembang dengan amat pesatnya. Kekuatan media mentransformasikan ide direspons secara baik oleh Surkati.

Saat ini, di era global media cetak sudah tidak seberkibar sebagaimana masa lalu. Media online, sebagai penggantinya, hadir dengan fungsi yang sama dalam mentransformasikan ide. Temuan teknologi baru ini, memiliki kecepatan dalam menyampaikan informasi ke ranah publik.

Syekh Ahmad Surkati, jika hadir di era ini, maka tidak mustahil beliau akan menyapa sang murid dan para sahabat seperjuangan baik di bidang da’wah dan persoalan-persoalan keumatan dengan fasilitas yang ada.

Surkati-Surkati muda penerus jejak langkahnya, yang lahir dan hidup di era digital ini, memanfaatkan temuan teknologi yang ada dengan baik. Meski belum optimal, dalam menginformasikan berbagai aktivitas, baik di bidang pendidikan, da’wah, dan sosial. Muktamar Al-Irsyad Al-Islamiyyah ke-40, 16-18 November 2017, di Bogor, yang mengusung tema “Menyongsong Kebangkitan Al-Irsyad sebagai Organisasi Pembaharu dan Moderat”, biss jadi tema itu untuk menegaskan jatidiri Al-Irsyad yang moderat, luwes dan adaptatif di tengah-tengah masyarakat [Islam] yang plural.

Namun demikian, semua itu perlu dijabarkan dalam kerja-kerja nyata, tidak cuma berhenti pada sekadar slogan semata ... Semoga Al-Irsyad ke depan semakin berjaya dalam mengemban misi Syekh Ahmad Surkati.
Ilal Amaami ya Banil Irsyad!



*) aktivis dakwah dari Surabaya

Berita Terkait