Senin , 13 November 2017, 06:49 WIB

Lebanon: Arena Konflik Baru di Timteng

Red: Elba Damhuri
SPA
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud menerima kunjungan mantan Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri di Riyadh pada Senin (6/11).
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud menerima kunjungan mantan Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri di Riyadh pada Senin (6/11).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nabhan Aiqani, Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Andalas/Pegiat literasi di Ikatan Mahasiswa Kerinci Universitas Andalas (IMK-Unand).

Dinamika Timur Tengah selalu saja bergejolak dari waktu ke waktu. Seperti rangkaian yang saling menyambung semenjak zaman Nabi sampai sekarang ini. Tidak ada tanda-tanda akan berakhir. Satu konflik meredup, konflik lainnya justru meletus. Bak mata rantai yang tak pernah putus.

Baru-baru ini ketegangan di kawasan meningkat kembali setelah pengunduran diri Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri. Memang sekilas, Lebanon tidak terlalu diperhitungkan dalam dinamika geopolitik timur tengah, tapi adanya kekuatan besar yang menjadi poros polarisasi di Timur Tengah, yakni Arab Saudi dan Iran, di belakang semua gejolak yang muncul, memicu ketegangan yang mengarah pada kemungkinan perang terbuka.

Bahkan, laporan dari Guardian menyebutkan “de-eskalasi konflik tidak menunjukkan tanda terang. Menghindari perang justru bukanlah sebuah solusi, melainkan hanya sebuah penangguhan”. Artinya, asumsi kuat tentang akan terjadinya perang terbuka sangat mungkin meletus.

Merespons ketegangan yang merebak, pada Kamis (9/11), Arab Saudi mendesak warganya untuk segera meninggalkan Lebanon. Serta pada malam yang sama datang pengumuman bahwa sebuah rudal telah ditembak jatuh dekat Riyadh.
Pemberontak Houthi di Yaman mengaku bertanggung jawab, tetapi pejabat Saudi dengan cepat menarik garis hubung menuju Hizbullah dan sekutu Iran untuk tindakan perang ini.

Tentu, semua mafhum akan rivalitas dua kekuatan besar di Timur Tengah, runutan konflik yang melibatkan dua negara ini dapat dilacak pada proxy war di Yaman, Suriah, dan perang melawan ISIS. Rembesan dari konflik tersebut juga menyeret pertentangan antarsektarian, dengan mengembuskan isu, Sunni vis a vis Syiah.

Arena konflik baru
Metode analisis konflik bawang bombai dari Johan Galtung dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana potensi konflik terjadi akibat friksi di domestik Lebanon, yang menyeret dua kekuatan besar Timur Tengah, Arab Saudi, dan Iran. Analogi bawang bombai dibuat berdasarkan analogi sebuah bawang bombai dan lapisan-lapisannya.

TAG

Berita Terkait