Kamis , 09 November 2017, 04:05 WIB

Mengapa Lafran Pane?

Red: Agus Yulianto
HMI
Profesor Lafran Pane
Profesor Lafran Pane

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hadi Supeno *)

Mengapa Prof Drs H Lafran Pane ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Tahun 2017 oleh Presiden RI Joko Widodo tanggal 9 November ini? Siapakah Lafran Pane?

Begitu banyak pertanyaan terlontar di kalangan masyarakat awam berkait informasi nama-nama yang ditetapkan memperoleh anugerah Pahlawan Nasional dalam rangkaian Peringatan Hari Pahlawan 2017.

Sesungguhnya, nama marga Pane bukan asing di telinga kita kaum terpelajar. Ada Sanusi Pane, sasterawan Angkatan Pujangga Baru yang tak pernah terlewatkan dikenalkan oleh para guru Bahasa Indonesia. Kumpulan puisinya dalam “Puspa Mega” dan “Madah Kelana” sangatlah terkenal.

Juga ada nama Armijn Pane, yang  mashur karena novelnya “Belenggu”, juga dialah yang menterjemahkan surat-surat RA Kartini dan sahabatnya di negeri Belanda Ny Abendanon, yang oleh Armijn Pane diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Lalu siapa Lafran Pane? Sanusi Pane dan Armijn Pane sangat populer karena menekuni dunia sastera, dunia publikasi karya-karya kreatifnya. Dan memang ketiga Pane ini bersaudara, lahir dari tokoh dan budayawan Sutan Pangurabaan Pane.

Lafran Pane tidak sepopuler dua kakaknya karena ia memilih jalan sunyi, cenderung asketis sepanjang perjuangan hingga akhir hayatnya.

Yang dilakukan pria kelahiran 5 Februari 1922 adalah pilihan perjuangan untuk terjun secara langsung dalam kancah politik nasional untuk membela Negara Republik Indonesia yang baru berdiri.

Di awal Pebruari 1946, di kota di mana ia menempa diri sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta, bersama beberapa temannya, Lafran Pane Muda mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Nasionalis religius

Dalam AD/ART pertama disebutkan, bahwa HMI didirikan dengan dua tujuan: 1. mempertahankan Negara Republik Indonesia; 2. menegakkan dan mengembangkann ajaran agama Islam. Namun menurut sejarawan Muslim Agussalim Sitompul, landasan pemikiran kelahiran HMI jauh lebih luas daripada yang tercantum di dalam AD/ART HMI.

Landasan pemikran tersebut meliputi: 1. Penjajahan Belanda atas Indonesia dan tuntutan kemerdekaan. 2. Kesenjangan dan kejumudan umat Islam dalam pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan serta pengamalan agam Islam. 3. Kebutuhan akan pemahaman dan penghayatan keagamaan. 4. Munculnya polarisasi politik. 5. Berkembangnya paham dan ajaran komunis. 6. Kedudukan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis. 7. Kemajemukan Indonesia. 8. Tuntutan modernisasi dan tantangan masa sepan.

Elan gerak HMI tidak semudah yang diinginkan para pendirinya karena pendudukan Belanda pada 19 Desember 1948 telah membungkam semua aksi pergerakkan termasuk organisasi-organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan.

Ideologi Pancasila

Namun demikian Lafran Pane tetap konsisten mengendalikan HMI, walaupun hanya berdua bersama Dahlan Ranuwiharjo. Di tengah tarikan berbagai ideologi, Lafran Pane tetap istiqomah memilih Pancasila sebagai ideolgi negara, dengan nilai-nilai Islam sebagai pengisinya.

Usai masa revolusi, ketika ibukota RI kembali ke Jakarta, dinamika organisasi diserahkan kepada kader-kader penerusnya. Sementara Lafran Pane tetap di Jogjakarta, menekuni dunia pendidikan, menjadi dosen di IKIP Yogyakarta.

Kehadiran HMI di awal kemerdekaan Indonesia bukan semata-mata menggalang kekuatan intelektual Muslim untuk membela Republik Indonesia, tetapi Juga menjadi legitimasi penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara oleh kalangan Islam.

Menurut mantan Ketua Umum PB HMI 1976-1979 Chumaedy  Syarif  Romas kehadiran HMI menjadi semacam sintesis aliran-aliran pemikiran masyarakat Indonesia saat itu, baik sintesa Nasionalisme dan Islamisme, maupun kelompok-kelompok dalam Islam itu sendiri yang beraneka ragam.

Lafran Pane yang lahir dari keluarga nasionalistik dan muslim berkontribusi kuat bagi pemikiran, dan kehidupan pribadinya. (Romas, 2009). Kesadaran berjamaah, berorganisasi dan mendirikan HMI berpijak pada sintesa antara kesantrian dan nasionalisme. Antara keduanya dicobanya untuk dikonstruksikan secara ideologis dalam wadah HMI.

Dari sini tampak betapa pemikran Lafran Pane telah mendahului jamannya, yang di kelak kemudian hari, saat dimana ideologi Pancasila dalam beberapa momen dipertanyakan kembali, HMI kokoh pada pijakan ideologis saat berdiri: membela Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.

Gagasan itu menjadi virus endemis yang membius, menembus batas-batas kampus di seluruh tanah air. HMI menjadi organisasi ekstra kampus paling besar dari lahir hingga sekarang ini.

Bukan ulama

Lafran Pane memilih HMI sebagai organisasi kader, dengan sistem kaderisasi berjenjang dan berkesinambungan. Ia menolak HMI sebagai organisasi massa atau organisasi politik. HMI mentasbihkan diri sebagai organisasi independen.

Lafran Pane memang bukan lahir dari pesantren. Ia bukan nasab Kyai, ulama, atau habib. Ia belajar Islam dari literatur-literatur bahasa Belanda dan Inggeris. Namun, ghirah kesantriannya tak pernah diragukan oleh siapapun.

Tak pelak, HMI menjadi wadah berhimpunnya Islam aneka ragam. Dari Islam abangan, Islam mualaf, Islam kiri, Islam moderat, Islam kanan, Islam santri tulen, sampai Islam fundamental dan radikal, juga dari latar belskang Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Serikat Islam atau Persis, semua bisa berhimpun di sini. Mereka saling belajar, saling menerima dan memberi ilmu pengetahuan dan semangat juang, dan tak jarang bertarung sengit mempertahankan argumentasi intelektuslitasnya seperti tercermin dari polemik tajam Sekularisasi antara Nurkholis Madjid-Djohan Effendi dengan para penantangnya terutama HM Rasyidi-Ridwan Saidi dan kawan-kawan lainnya.

Istiqomah independen

Dari seorang Lafran Pane kini beserak kader-kader HMI di mana-mana, di pemerintahan, di legislatif, di LSM, di wiraswasta, dan semua bidang kehidupan.

Semangat intelektualitas Lafran Pane ditunjukkan dengan sifat konsisten yang tak tergoyahkan bila yakin bahwa argumentasinya benar. Tidak pandang lawan debatnya pimpinan, kawan, mahasiswa, atau kader HMI sendiri, ia akan katakan tidak kalau bertentangan dengan keyakinan kebenaran dirinya.

Di tahun 1970, saat ia menerima gelar profesor, dalam pidato pengukuhannya Lafran melawan arus utama saat itu dengan mengatakan bahwa UUD 1945 bisa diubah. Padahal, rezim Suharto mensakralkan UUD 1945 dan mendoktrin masyarakat bahwa UUD 1945 tidak bisa diubah.

Menolak pemberian

Yang tak pernah terlupakan dari orang-orang yang mengenalnya adalah, ia hidup dalam kesederhanaan total; di rumah, di tempat kerja, dan dalam pergaulan sosial.

Ia menolak semua pemberian dari kader-kadernya yang telah hidup sukses secara ekonomi. Ia tolak tawaran mobil, rumah, uang, dengan alasan apapun dsn dari siapapun.

Penulis orang yang beruntung bisa mengenal dan beberapa kali bercakap dengan sosok religius ini. Sebagai guru besar ia ke kampus atau kemana-mana naik sepeda angin. Bajunya, sepatunya, kaca matanya, itu-itu saja. Bahkan hingga meninggal, ia masih di rumah dinas IKIP Yogyakarta tempat ia mengabdi sebagai PNS.

Ia teladan kehidupan. Ia model cendekiawan ideal yang dibutuhkan bangsa yang masih terbalut kemiskinan akut. Dalam buku karya Hariqo WS :“Lafran Pane..”, 2009, misalnya seorang kadernya bertutur saat akan dilantik menjadi anggota Dewan Pertumbangan Agung, menolak menerima fasilitas jas baru. Alasannya, bekerja belum, mengapa sudah menerima jas baru.

Bahkan, penetapan dirinya sebagai Pendiri HMI di masa kepengurusan PB HMI di bawah Akbar Tanjung sempat ditolak dengan alasan perbuatan “riya”. Namun atas dasar kemaslahatan Organisasi, akhirnya ia menerima dengan terpaksa penetapan Lafran Pane sebagai pendiri HMI.

Baginya Indonesia ke depan harus Indonesia yang bebas dari feodalisme, bersendikan moral agama, bebas korupsi kolusi dan nepotisme. Untuk mewujdkan hal itu, para pemimpin harus menjadi teladan hidup sederhana, menjauhi aji mumpung, apalagi melakukan tindakan tercela.

Merwat warisan

Dengan peran yang begitu besar di masa perjuangan kemerdekaan, dengan efek penciptaan kader-kader bangsa yang begitu masif, dan dengan keteladanan hidup yang komplit, layaklah bila negara memberikan anugerah Pahlawan Nasional.

Beban berat justeru ada pada kita, untuk menjadikan kehidupan Lafran Pane sebagai model. Ini bukan hal mudah, ketika kita hidup dalam kepungan hedonisme dan bingkai-bingkai pencitraan untuk kekuasaan, bahkan pembenaran ilmu pengetahuan. Para alumni HMI yang terstigma selalu dekat dengan kekuasaan perlu memahami betul, sosok pendiri HMI yang kini menjadi panutan seluruh bangsa Indonesia, tak hanya HMI.

Marilah kita rawat warisan agung Pahlawan Nasional Prof Lafran Pane. Selamat untuk semuanya. Yakin usaha sampai.


*) Ketua HMI Korkom IKIP Yogyakarta, Tahun 1982