Kamis , 02 November 2017, 08:40 WIB

Pekerjaan Rumah Pembangunan Ekonomi Jambi

Red: Elba Damhuri
M Firdaus, guru besar ekonomi IPB.
M Firdaus, guru besar ekonomi IPB.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: M Firdaus, Guru Besar Ilmu Ekonomi FEM IPB

Pembangunan daerah Jambi sampai tahun 2021 dilandaskan pada visi yang dikenal dengan TUNTAS. Tiga komponen visi terkait langsung dengan bidang ekonomi.

Unggul, tangguh dan adil dicapai dengan menggunakan beberapa indikator capaian yaitu peningkatan nilai indeks pembangunan manusia (IPM),  pertumbuhan ekonomi serta penurunan nilai Gini ratio. Ini bermakna ekonomi Jambi harus bertumbuh yang disertai dengan pendapatan masyarakat yang semakin merata, dan kualitas kesehatan dan pendidikan yang membaik.

Dengan penduduk yang diperkirakan 3,5 juta, saat ini Propinsi Jambi terus berkembang. Pertambahan penduduk harus diringi dengan peningkatan kesejahteraannya. Mulai dari petani karet, sawit, kelapa, kentang dan komoditas utama Jambi lainnya; para pedagang dan pengusaha serta masyarakat luas lainnya.

Ini menjadi kewajiban semua, terutama Pemerintah Daerah, baik Propinsi maupun Kota/Kabupaten. Apalagi hal ini biasanya menjadi janji kampanye saat Pilkada.

Pada saat ini setidaknya ada tiga pekerjaan rumah utama terkait pembangunan ekonomi Jambi, yang patut menjadi perhatian semua. PR pertama terkait dengan kondisi makroekonomi regional. Sampai tahun 2017, Jambi mengalami perlambatan dalam perkembangan ekonomi.  

Pertumbuhan ekonomi Jambi pernah berjaya melewati rata-rata pertumbuhan baik daerah-daerah di Sumatera maupun rata-rata nasional. Namun pada tahun 2015 dan 2016, pertumbuhan ekonomi Jambi sebaliknya berada di bawah rata-rata seluruh Indonesia dan  Sumatera (2016).

Melambatnya pergerakan ekonomi Jambi kurun waktu terakhir dapat disebabkan beberapa faktor. Pertama booming sektor pertambangan seperti batubara sudah selesai. Jambi merupakan salah satu daerah sumber ekspor batu bara nasional.
Semasa krisis keuangan global 2009, batu bara menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekonomi Jambi. Namun regulasi Pemerintah, ketersediaan dan situasi ekonomi dunia menyebabkan  kontribusi sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui ini terus menurun.

Kedua, perekonomian Jambi hampir sepertiganya masih disumbangkan secara langsung oleh sektor pertanian. Perkembangan perkebunan kelapa sawit selama dua dekade belakangan diakui berkontribusi banyak bagi kenaikan pendapatan masyarakat Jambi.

Berita Terkait