Rabu , 01 November 2017, 07:36 WIB

Manuver Menko Luhut di Meikarta

Red: Muhammad Subarkah
Republika/Yogi Ardhi
Menko Maritim Luhut Panjaitan (ketiga dari kiri) dan CEO Lippo Grgup James T Riady meresmikan topping off dua tower di Meikarta CBD, Cikarang, Bekasi, Sabtu (29/10).
Menko Maritim Luhut Panjaitan (ketiga dari kiri) dan CEO Lippo Grgup James T Riady meresmikan topping off dua tower di Meikarta CBD, Cikarang, Bekasi, Sabtu (29/10).

Oleh : Hersubeno Arief*

Taipan pengembang James Riady hari Minggu (29/10) punya hajat besar melakukan topping off dua tower bangunan yang disebut akan menjadi kota Meikarta.

Sebagai taipan besar, tamu yang datang tentu juga orang-orang besar dan penting. Diantara yang hadir tampak Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, tangan kanan Presiden Jokowi.

Hadirnya Luhut menunjukkan bahwa acara tersebut sangat penting dan serius. Sebab bila dilihat dari  posisinya sebagai Menko Maritim, maka sebenarnya prosesi topping off  (pemasangan atap) tower itu tidak nyambung dan tidak kaitannya dengan jabatannya.

Media-media yang selama ini sangat rajin memuat apapun kegiatan Meikarta,  menyebut nama Luhut lengkap dengan jabatannya. Jadi walaupun kegiatan ini dilakukan pada hari libur, namun dapat dipastikan  sebagai kegiatan resmi.
Beberapa kutipan pernyataan Luhut dalam kegiatan itu kian menegaskan bahwa kehadiran Luhut adalah resmi sebagai pejabat negara.

Banyak pengguna media sosial yang terheran-heran dan bertanya (karena media mainstream tidak ada yang mempersoalkan), “Apa hubungannya antara Meikarta dan Menko Maritim? Apakah situasi di daratan sudah demikian genting, sehingga pejabat di lautan harus turun tangan?”

Mau dicari-cari dan dicocok-cocokkan, bahkan kalau dalam bahasa Jawa  “diotak-atik gathuk” (dipaksakan untuk cocok)   juga tidak akan nyambung. Lain halnya bila yang hadir Menteri PU dan Perumahan Rakyat, atau setidaknya Menko Perekonomian.