Senin , 30 October 2017, 08:39 WIB

Nasionalisme Pemuda Milenial

Red: Elba Damhuri
ugm.ac.id
Pemuda (ilustrasi)
Pemuda (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Umar Sholahudin, Mahasiswa S-3 FISIP Unair Surabaya, Dosen Sosiologi Unmuh Surabaya

Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Persitiwa tersebut menjadi salah satu embrio paling penting dalam sejarah lahirnya Indonesia. Bermula dari pertemuan dan pendirian Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, dari berbagai latar belakang; etnis, agama, suku, dan sebagaianya. Perhimpunan pemuda ini yang kemudian menginisiasi pelaksaan Kongres Pemuda II, yang kemudian melahirkan sumpah yang sangat bersejarah, yakni Sumpah Pemuda; satu tanah, satu bangsa, dan satu bahasa.

Kongres ini semakin mengukuhkan peran penting pemuda dalam perjalanan sejarah pergerakan Indonesia. Sebelumnya adalah 20 Mei 1908 yang juga diinisiasi oleh para pemuda-pemuda cerdas yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.
Kini usia Sumpah Pemuda ini telah memasuki 89 tahun. Sebuah usia yang sudah penuh dengan kematangan. Dan pada Hari Sumpah Pemuda tahun 2017 ini, diharapakan semua anak bangsa, khususnya para pemuda-pemudi, melakukan refleksi dan revitalisasi semangat nasionalisme dan kebangkitan baru menuju bangsa yang lebih beradab dan mandiri. Jika diperlukan, dilakukan Sumpah Pemuda II yang lebih kuat dan progresif.

Arus perubahan besar telah terjadi dan bergerak begitu cepat di seantero dunia. Dan ternyata perubahan besar tersebut tidak sekedar perubahan yang bergerak secara alamiah, tapi by design. Ada ideologi dominan yang menggerakan perubahan besar tersebut, yakni kapitalisme. Perubahan besar ini digambarkan secara detail oleh Karl Polanyi (2003) sebagai transformasi besar yang dikendalikan oleh ideologi dominan dunia, yakni kapitalisme.

Ideologi ini yang coba disemburkan ke berbagai pelosok dunia untuk bisa diterapkan sebagai ideologi tunggal dalam praktik pembangunan. Kita hidup di dalam dunia transformasi yang memengaruhi hampir setiap aspek dari apa yang kita lakukan. Entah baik atau buruk, kita didorong masuk ke dalam tatanan global yang tidak dipahami sepenuhnya oleh siapa pun, tetapi dampaknya dapat dirasakan kita semua. Ini yang disebut oleh A Giddens sebagai globalisasi.

Kondisi tersebut apa yang digambarkan oleh futurolog John Naisbit dan Alvin Tofler sebagai gambaran dunia yang semakin sempit. Sebagaimana dikemukakan ahli komunikasi Kanada, McLuhan, dunia bagaikan suatu kampung besar dan kehidupan kita tak dapat melepaskan diri dari kehidupan global.

Batas-batas teritorial sebuah negara dipahami bukan sekadar batas geografis yang memisahkan sebuah negara dengan negara lain, melainkan batas-batas budaya, yang memisahkan sebuah komunitas budaya satu dengan yang lain. Mengikuti integrasi sistem ekonomi nasional ke dalam sistem ekonomi global, dalam aspek budaya pun akan terjadi hal yang sama.

Globalisasi menuntut adanya pengintegrasian sistem budaya nasional ke dalam sistem budaya global yang liberalistis. Dalam pandangan kaum modernis, globalisasi dan modernisasi akan melahirkan apa yang disebut sebagai homogenisasi kultural (penyeragaman budaya).