Senin , 30 October 2017, 07:58 WIB

Membandingkan Anies dengan Ahok Usai Khatam Alquran

Red: Muhammad Subarkah
Antara/Hafidz Mubarak A.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kanan) berjabat tangan dengan calon Gubernur DKI Anies Baswedan (kiri) sebelum melakukan pertemuan di Balai Kota, Jakarta, Kamis (20/4).
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kanan) berjabat tangan dengan calon Gubernur DKI Anies Baswedan (kiri) sebelum melakukan pertemuan di Balai Kota, Jakarta, Kamis (20/4).

Oleh : Hersubeno Arief*

“Selama lima bulan di penjara, Ahok hampir khatam Al Quran.” Judul berita di beberapa media ini cukup menarik dan mengundang rasa ingin tahu. Apakah Ahok muallaf dan menjadi seorang Muslim?

Khatam  dalam pengertian yang benar,  adalah berhasil menyelesaikan membaca 30 juz Al Quran dalam bahasa dan huruf arab. Di kalangan Muslim saja,  tidak banyak yang pernah khatam Al Quran. Jadi kalau benar Ahok hampir khatam, sungguh dahsyat!

Setelah dibaca lebih lanjut, ternyata Ahok mengaku membaca Al Quran terjemahan. Jadi  dia membaca versi bahasa Indonesia, walaupun dia mengaku bisa sedikit-sedikit membaca Al Quran karena masa kecilnya di Belitung pernah belajar di sekolah Islam. Jadi penyebutan bahwa Ahok hampir khatam Al Quran tidak tepat. Bisa disimpulkan itu bahasa marketing yang secara sadar dikemas agar pembaca mempunyai impresi tertentu.

Yang tak kalah  menarik Ahok juga mengaku sudah membaca surat Al Maidah, isinya menurutnya  sangat baik. Gara-gara kepleset mengutip surat Al Maidah inilah Ahok terpaksa harus menjadi “santri” di rumah tahanan Brimob, Kelapa Dua, Depok. Dia dijatuhi hukuman selama dua tahun.

Dalam strategi pemasaran, berita yang mengutip penjelasan dari salah seorang penulis buku Ahok itu  adalah sebuah upaya rebranding, alias sebuah upaya menciptakan image baru sebuah brand, produk. Tujuannya mengubah persepsi publik terhadap sebuah brand yang sudah dipersepsi buruk.

Keputusan memilih kosa kata  “khatam”  ini sungguh sangat cerdas dan berani. Apalagi ditambah dengan penjelasan bahwa Ahok sudah membaca surat Al Maidah yang isinya “sangat baik.” Bagi Ahok, Al Maidah adalah sebuah bom, yang tengah coba dijinakkan.

Apakah ini  sebuah kebetulan?  Tentu saja bukan. Kunjungan 10 orang penulis ke tempat Ahok “nyantri”  dalam ilmu  manajemen disebut sebagai strategi turn around  (memutar haluan).  Membuat sebuah perusahaan/kapal yang karam, agar kembali terapung. Jika situasi sudah lebih stabil, perusahaan/kapal tersebut siap untuk berlayar kembali. 

Dalam konteks Ahok sebagai politisi, maka ketika pada saatnya nanti  keluar dari penjara, dia sudah siap untuk  kembali bertarung dan terjun ke kancah politik dengan sebuah brand baru, dari seorang dengan label “penista” agama, menjadi seseorang yang sangat memahami Al Quran.

Manajemen turn around merupakan langkah besar yang memerlukan keberanian, kesungguhan, ketabahan, kejelian, dan kecermatan memahami pasar, terutama para pesaing.