Ahad , 29 October 2017, 10:22 WIB

Mengubah Minda

Red: Elba Damhuri
Haedar Nashir

Sikap tengahan
Siapa pun tentu setuju 100 persen, radikalisme apa pun, lebih-lebih manakala membuahkan tindakan kekerasan dan anarkistis, merupakan hal buruk yang tidak boleh ditoleransi dan berkembang di masyarakat.

Kenyataan di negeri mana pun bahwa pola pikir, sikap, dan perilaku radikal dalam makna ekstrem dan melahirkan tindakan berlebihan sering terjadi. Tidak ada bangsa dan masyarakat yang benar-benar bebas dari radikalisme dan ekstremisme, bukan melulu yang bernada keagamaan.

Semua harus dicegah, ditindak, dan dihilangkan. Namun, menghadapi hal yang serbaekstrem itu tidaklah mudah dianalisis dan disikapi dengan cara instan dan gampangan. Tidak pula menggeneralisasi yang membuat seluruh dan persoalan seolah diliputi ekstremisme dan radikalisme.

Seolah tiada ruang longgar dari kedua persoalan tersebut meskipun memang kenyataannya ada dan faktual. Bagaimanapun perlu blocking-area agar tetap terbuka luas rongga kehidupan kebangsaan di negeri ini yang moderat, normal, dan memancarkan kebajikan kolektif.

Demikian pula dengan persoalan bangsa dan negara. Bangsa dan negara di mana pun tidak bebas dari masalah. Persoalan keagamaan, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, sosial, ekonomi, lebih-lebih politik. Kadar, jenis, dan intensitas persoalan satu sama lain tentu berbeda.

Menjadi penting menempatkan persoalan pada tempatnya dan tidak terjadi generalisasi dan dramatisasi. Tidak pula melakukan simplifikasi sehingga masalah besar menjadi kecil, yang kecil dibesar-besarkan. Apalagi jika masalah dikomoditaskan atau diperjualbelikan sehingga terjadi pengawetan bahkan kapitalisasi masalah demi keuntungan materi dan kepentingan sesaat.

Agama mengajarkan khair al-'umur auwsathuha, sebaik-baik urusan ialah yang tengahan. Masalah ditempatkan pada proporsinya. Mengurangi atau melebih-lebihkan masalah sama ekstremnya. Menyikapi hal radikal dan ekstrem dengan cara pandang, sikap, dan tindakan ekstrem sama dengan ekstremitas itu sendiri. Jika ingin moderat menghadapi masalah, tunjukkan kemoderatan semestinya. Itulah yang disebut moderasi yang diajarkan agama.

Kadang atau sering terjadi paradoks. Kritik dianggap menghujat karena budaya menjilat meluas. Orang dengan mudah sering mengkritik pihak lain secara lantang, tetapi sekali balik dikritik, pendukungnya marah dan melempar ancaman.
Tidak suka di kanan, tetapi mengambil posisi di kiri, begitu sebaliknya. Ingin di tengah, tetapi kekanan-kananan atau kekiri-kirian. Di tengah pun menjadi sering ekstrem sehingga menjelma dalam wajah ekstrem tengah.

Kanan, kiri, dan tengah adalah garis posisi yang tidak bisa absolut, ukurannya kontekstualitas, objektivitas, rasionalitas, dan adil. Nalar sehat dan jernih menjadi sulit memperoleh ruang longgar karena banyak pihak terbiasa dengan pola pikir tunggal, linier, hitam putih, dan ekstrem.

Suka dan tidak suka mekar sehingga sikap adil dalam melihat dan memosisikan masalah pun menjadi hilang. Padahal, Allah mengajarkan insan beriman berbuat adil hatta terhadap mereka yang kita tidak suka (QS al-Maidah: 8).

Sikap adil itu memiliki irisan dengan perilaku tengahan dan kebajikan (QS an-Nisa: 135; an-Nahl: 90). Fondasi adil itu kebenaran, demikian menurut Alquran. Anda dapat berbuat adil dan tengahan jika Anda memiliki patokan kebenaran yang autentik, bukan yang semu dan dibuat-buat!